Murid Teladan

“Loe kenal sama si A nggak?”
“Oh! Kenal! Ngehe kan orangnya? Sok penting banget, padahal nggak pernah ngapa-ngapain!”

“IYA! Gue juga berasa gitu, sama banget sama si B!”

“Iye! Si B lebih –lebih lagi, PARAH! Minta dikeramasin pake pare, jijay gue baca statusnya dia!”

“Kalau si C gimana? Gue nggak pernah kerja bareng sih, tapi kok kayaknya sok tahu banget sih?”

“Mendingan sih, tapi hakikatnya sama, makanya mereka bisa kerja bareng dan rukun selalu.”

“Iya juga sih, duh gue sebel deh mereka tuh banyak klaim tapi nggak pernah ada hasilnya! Sama aja kayak temennya tuh, si D!”

“Gue nggak kenal D sih, tapi gue denger emang modelnya sama…”

 

Sesaat setelah ngerumpiin dan mencela-cela A sampai Z, barulah kami tiba-tiba sadar, bahwa A, B, C, D, E, F, G itu semua adalah tokoh-tokoh yang dikenal di kalangan new media. Tokoh-tokoh yang dianggap gurunya dan ahlinya di bidangnya. Sedangkan H, I, J, K, L, M, N, O, P, orang-orang yang kami anggap sungguh-sungguh memberi sumbangsih bagi bidang tersebut, justru berada below the radar, nggak ngetop, bahkan tidak cukup worthy untuk dicela-cela saat makan siang.

 

Membuat kami bertanya, apa untuk jadi orang yang dianggap ahli di suatu bidang, kita musti jadi banci interview? Rajin mengemukakan pendapat di berbagai kasus, tidak ragu disebut apa-apa expert, atau pakar ini-itu, dan banyak menghabiskan waktu networking, daripada melakukan pekerjaan yang sebenarnya?

 

Sebenarnya ini ironi klasik, terjadi sejak jaman SD.

 

Masih ingat ketika masih sekolah dulu, ada anak teladan yang cerewet banget? Aktif menjawab dan bertanya, suka ngaduin mereka yang pindah-pindah tempat duduk, pelit ngasih contekan PR padahal juga nggak bener semua? More over, masih ingat betapa bencinya kita dengan anak-anak macam ini? Atau yang mengingat dirinya ternyata adalah tipe murid teladan ini, merasa malu dan pengen menghapus sebagian sejarah?

 

Gue termasuk yang paling sentimen dengan anak-anak macam ini. Gue bahkan pernah menimpuk salah satunya dengan bola kertas yang digumpal-gumpal, gue pantulkan ke kaca jendela sebelah kiri yang terbuka 45derajat, dan mendarat dengan keras persis di sisi kiri kepala si musuh, tanpa dia tahu siapa yang melemparkannya karena gue kebetulan duduk persis di depannya.

 

Sebagai anak SD, gue yakin banget keaktifan di kelas bukan indikasi prestasi. Pertanyaan yang diajukan itu dodol, lebih ingin menunjukkan ‘saya tahu, lho’ daripada secara tulus ingin tahu. Lagipula, mereka biasanya nggak ranking satu. Gue lebih suka diam mendengarkan terkantuk-kantuk saat guru menjelaskan, duduk di belakang, lalu saat ujian bisa keluar dengan nilai terbaik. Or at least, that would be the ideal…

 

Tapi kenyataannya, akan ada tiga bulan caturwulan pertama di mana anak model begini nggak dikenal guru sama sekali. Dia akan dianggap sama suramnya masa depannya dengan keempat puluh siswa lainnya. Baru ketika setelah dirata-rata, anak itu layak jadi ranking satu, mulailah perhatian dicurahkan, dan tiba-tiba anak itu harus menjawab pertanyaan lebih banyak karena mendapat perhatian lebih.

 

Dulu, gue merasa ada yang salah dengan sistem pendidikan. Guru itu pilih kasih! Hanya memperhatikan mereka yang ca-per! Gimana nanti bangsa ini nggak diisi selebriti yang suka nyari sensasi? Kalau dari SD sudah ditanamkan, bahwa nggak perlu prestasi untuk menonjol; jadilah orang yang bisa jual diri!

 

Itu dulu. Beberapa kali jadi dosen tamu di beberapa universitas, gue tidak bisa tidak, memperhatikan mereka yang aktif bertanya, dan mengarahkan mata hanya pada mereka yang secara cermat memperhatikan, mencatat, dan duduk di depan.

 

Betapa bersyukur dan senangnya gue jika ada mahasiswa yang model begini. Kelas jadi kondusif dan rasanya lebih banyak ilmu tercurah. Dalam hati gue tersembur doa agar anak-anak sedemikian ini lulus dengan nilai gemilang, diterima di perusahaan bergengsi dan jadi bos di usia 24 tahun.

 

Lalu ternyata, harapan gue ini dipatahkan. Seorang kawan yang merupakan dosen beneran menyatakan fakta kebalikan. Bahwa mereka yang aktif bertanya, duduk di depan dan seolah memperhatikan itu, nilai ujiannya hanya rata-rata. Justru yang pada duduk di belakang, setengah ngantuk, dan tidak gue perhatikanlah, yang kelak lulus dengan nilai tertinggi.

 

Gue tidak mau kalah, tidak mau ramalan kesuksesan gue itu terpatahkan begitu saja. Menurut gue, itu memang kelemahannya sekolah! Dunia kerja pasti lain lagi! Buktinya yang pinter-pinter di sekolah dulu itu cuma jadi karyawan, staf ahli, atau ilmuwan. Sedangkan yang sedeng-sedeng bakal jadi wirausahawan, pakar ini itu dan pemimpin negeri! Mereka bakal disebut sebagai ‘yang berhasil’dan mewarnai tv swasta.

 

“Ya tapi yang kerjanya paling banyak benernya ya, yang nggak kedengeran itu,” jawab bu dosen. Membuat gue kembali skak mat. Yang nggak kedengeran. Seperti gue. Seperti teman gue. Seperti H, I, J, K, L, M, N, O, P yang namanya kalau diganti abjad sekalipun tidak akan ngaruh karena memang kurang tenar.

 

Sejak dari SD sampai dunia karir, sebagai seorang penilai, baik itu guru maupun penyimak sebuah industri, we only pay attention to those seeking ones. Gue bahkan tidak punya waktu tiga bulan caturwulan pertama untuk mengenal satu per satu tokoh yang menyebut dirinya ahli.

 

Baru setelah gue ditempatkan dalam proyek bersama dan sejenis, gue mengetahui siapa yang sebenarnya ‘rangking 1’. But then again, berapa banyak orang yang sempat bekerja sama dibandingkan masyarakat Indonesia seutuhnya?

 

Pertanyaannya, demi karir gemilang, maukah jadi ngetop sebagai kecap nomor 1 dengan cara…jualan kecap? Demi idealisme masa kecil, dari SD sampai Universitas, gue tetap mempertahankan diri sebagai murid yang anonim. Toh meski diam emas, nilai SD sampai universitas gue cukup untuk membawa masuk ke jenjang berikutnya dengan mulus.

 

Lalu sekarang di tahap meniti karir. Nggak ada lagi lulus-lulusan dan kertas di tangan. Muncul kesempatan interview, mejeng di majalah, koran dan TV. Bisa sesuka hati menentukan julukan.

“Mbak mau disebut apa? Pakar sosial media? Internet media expert? Atau online observer?”

“Err… Praktisi media online aja deh…”

“Ya udah, ditulis gitu ya…”

Lalu voila! Tanpa ada plakat tanpa ada ujiannya, seketika di mata pemirsa dan pembaca, gue adalah praktisi media online. Seandainya gue ‘seriusi’, mungkin gue bisa mengukuhkan diri menjadi A, B, C, D, E, F, G yang lebih dikenal.

 

Tapi di dalam hati, timbul rasa bersalah semacam melakukan penipuan. Kebetulan, industri yang gue geluti itu umurnya paling banter 10 tahun. Yang sudah di industri selama 10 tahun itu, judulnya sudah sepuh. Yang sudah di situ sekitar 5-6 tahun, bolehlah dianggap ahli. Tapi umurnya tidak cukup panjang untuk menyimpulkan bahwa seperti ini, nih! Metode yang paling sakses di sini!

 

Dengan mayoritas pengguna internet belum ditemukan, ada kemungkinan yang dianggap sakses sekarang, bukanlah yang benar-benar sakses di masa datang. Pengetahuan akan hal ini membuat gue nggak berani mengklaim diri macem-macem. Jadi yang diem-diem saja tapi nggak dikenal, sambil belajar bener-bener. Yang penting gue sudah tahu formula untuk (kelihatan) sukses kalau ternyata memang hanya omong-doang yang bisa gue lakukan.

 

Lagian kalau sudah jadi A, B, C, D, E, F, G, siapa dong yang hati sirik dan iri ini bisa cela-cela saat makan siang? Nggak asik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *