Matchmaking Contest

“Gy, kasi ide dong! Ini gue lagi ketemuan ama cowo yang dijodohin, garing banget! Mana gue cuma makan bakmi bayar sendiri terus mau nonton masih lama die maunya nunggu di tukang bakmi aje!”   “Dih, loe apaan sih, uda pegi aja lah, bilang loe lupa mau ke gereja!” “Yee mana bisa! Jelas-jelas tadi dia jemput gue di Gereja!” “Ya udah bilang kek, rumah loe korslet, tadi lup...
read more

17-gendang-reog

Matinya Kulot dan Punahnya Kebaya Tasik

Pasar Beringharjo, Sabtu pagi.

“Mbak, jual kulot nggak?” gue bertanya. Kehabisan baju tidur bersih memang merupakan problematika para eksportir manggis yang hidup jauh dari rumah.

“Yang ini?” si Mbak menunjukkan sebuah setelan batik lengan panjang celana panjang.

“Yee itu mah piyama! Kulot Mbak! Yang celana pendek tangan buntung atau pendek buat tidur!”

“Ohhh… babydoll?” respon si Mbak dengan aksen Jawa yang kental.

 

“Sekarang tuh lagi ngetren baju syari’i! Yang kutungan nggak bakal ada yang jual!” Si Mamih yang menemani saat itu berkomentar. Gue tidak menggubris dan kembali meneruskan pencarian. Namun setelah kios kesepuluh yang menolak permintaan gue bak perempuan yang mau tidur senonoh, gue terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Budaya Indonesia sudah mulai bergeser, dengan asimilasi budaya asing, hingga ke level baju tidur. Dan jika gue tidak ngotot mempertahankannya, entah apa lagi barang sehari-hari gue yang dianggap bawaan aseng.

read more

12th March 2018 | 6:03 pm |

no

Respon

Dongeng Dari Timur

Once upon a time, there was a man who wished to be the richest on the land. He made a pact with the Earth God that in return of the uncountable wealth, he would sacrifice his last great grandchild, from his first grandson, from his first child.

 

The God of Earth accepted his sacrifaction and soon after he became the richest man in the land of Ambarawa. He owned the largest puppet theater in the region and his wealth was plenty.

 

Believing to own such a power, the man lured a Javanese pricess with magic so strong that once broken, it would destroy everything he owned. The devil was a master of deceival, and he fell into the charm of women’s seduction, the one thing that could break the magic.

 

The Javanese princess was an observant Javanese rituals follower capable to see the future: on the first Pahing Thursday of the month, all the wealth her husband owned would turn into ashes.

 

Indeed that day, there was a big fire in Ambarawa that torn down all buildings in the town. At that time, there was no banking concept, so all of his fortune was burned. In a bid to save her descendant, his wife seek refuge to the Queen of the South Sea.

 

The Queen agreed to give protection. A girl would be born and the queen would take her as her heir. The Queen’s spirit would make a lot of people love her so much that they will protect her from everything, including the Earth God. They will turn crazy on her, and those who are weak in mind would eventually lose their sanity.

 

  read more

21st February 2018 | 4:22 pm |

one

Respon

Hai Orang Jawa, Belajarlah Pada Papua!

“Kira-kira mau dibawain apa dari Jakarta?”

“Apa yah? Apa sih yang ada di Jakarta yang nggak ada di Papua?” koordinator lapangan kami, menatap dengan bingung seperti tidak punya ide.

 

Saat itu kami sedang bersiap untuk tugas peliputan ke Sorong, Papua. Ini pertama kalinya gue menjejakkan kaki ke pulau kepala burung itu. Gue tidak terbayang, bahwa satu-satunya yang orang jawa sombong ini bisa bawa ke Papua cuma rasa miskin dan kegagalan. Atau mungkin ilmu.

Itupun pas-pasan.

read more

25th January 2018 | 3:51 pm |

3

Respon

Bukan dari China

“Dari mana Mbak?” tanya pria di samping dalam pesawat malam itu.

“Dari Jakarta Pak,” jawab gue mantab.

“Ah masa?”

“Iya bener, emang bapak pertanyaannya apa?’

“Dari mana..” ia mengulang pertanyaan.

“Dari Jakarta,” gue kembali menjawab bak burung beo bersautan.

read more

20th January 2018 | 3:43 pm |

2

Respon

Resolusi-oner

Sudah menikah, sudah punya perusahaan sendiri, sudah pernah keliling Eropa. Hmm.. Ok, semua resolusi sudah tercapai. Demikian si kakak bergumam, sambil meniup lilin ultahnya yang ke-30. Ia lalu melirik pada si bungsu yang senyum sumringah tepuk tangan sambil nyanyi TIIIUPP LILINNYAA…, ‘kamu punya resolusi apa?’

 

Nyanyian konyol si bungsu seketika mengecil. Saat itu ia baru saja memutuskan menunda kelulusan beberapa bulan supaya bisa menikmati waktu menganggur. Resolusi, adalah sebuah hal yang jauh dari pikiran.

 

Mau S2, masih cape kelar kuliah. Mau nikah, gak kepingin-pingin amat. Yang ia inginkan hanya jalan-jalan gratis tanpa perlu kerja seumur hidup, tanpa terdengar, tidak ambisius.

 

“Russia before 30!” Gue kemudian keluar dengan satu resolusi . Kenapa Rusia? Yaa, kesannya jauh aja, pasti mahal dong, artinya gue udah jadi horangkayah pada umur itu.

read more

1st January 2018 | 8:43 am |

no

Respon
next
next