Pengantin 70 Tahun

What gift would you give to a 70-year-old bride?

 

Ini serius. Nanya beneran. Jangan pada ketawa. Teman seorang tante (70 tahun) akan menikahi mantan pacar sewaktu mudanya (76 tahun) minggu depan. Speaking of telat nikah.

Mendadak Mayor

“Gy, orang Cina itu beneran dimusuhin nggak sih?” Tanya MasJe tiba-tiba.

“Yahh…paling sering dikatain ‘dasar Cina’, kalau bikin surat-surat rada lama, sama diperkosa kalau kerusuhan…. Tapi kan sekarang uda nggak ada kerusuhan, jadi lumayanlah,” gue menjawab enteng.

“Itu kenapa ya Gy? Gue sering dikatain, dibilang, ngapain loe temenan sama Cina? Nggak ada untungnya, paling ntar dicurangin.”

“Lha loe temenan sama gue!”

“Itu die, gue sih pernah dicurangin sama Cina, jadi awalnya gue wajar-wajar aja kalau ada yang sentimen, tapi loe yang nggak curang juga dimusuhin sampai segitunya ya? Boleh nggak sih begitu?”

Kenapa Bukan Ahok

“Sebenernya, gue ngerti sih kenapa orang-orang pada gak milih Ahok..” gue nyengir sambil nengok kiri-kanan, di tengah pujasera pusat perbelanjaan. Gue yakin akan banyak yang mengangkat alis kalau gue bicara secara publik soal ini. Namun dengan hanya seorang teman, gue berani curcol.

 

Dari grup whatsapp, makan malam keluarga, hingga reuni sekolah masih diisi dengan satu pertanyaan: kenapa? Kenapa, rakyat tidak bisa melihat pekerjaan hebat gubernur sang petahana? Kenapa mereka begitu goblok dipanas-panasin dengan isu-isu agama?

Gue Juga Pribumi

“Pak! Bagi stikernya dong, satu!” Gue memanggil dari balik kaca mobil yang gue turunkan separoh. Pria berkopiah berjaket majlis yang sedang membagikan stiker ‘pribumi’ warna ijo di bilangan Kelapa Gading, melirik, lalu menggelengkan kepalanya.

 

“Loh kenapa? Saya kan pribumi!” gue ngotot, sambil mengendarai mobil dengan kecepatan rendah membuntuti si Bapak. Ia kembali melirik, melihat wajah sipit hidung pesek kulit koneng, dengan rambut highlight loreng bak harimau Sumatera yang sudah hampir punah.  Ia menggumam-gumam, nggak..nggak..bu…

 

“Dasar pelit! Biarin, saya cetak sendiri stikernya!”  Gue memaki lalu meninggalkan si Bapak yang melongo heran. Mungkin kaget, mendapat cacian yang biasanya lebih sering dilemparkan pada orang-orang berwajah seperti gue daripada dirinya.

Move on ke Putaran Kedua Pilgub

Saya mau nulis serius. Iya tahu, saya jarang nulis politik, apalagi yang serius-serius. Habisnya baru kali ini jagoan saya gagal. Belum kalah sih, tapi kita semua tahu ramalannya gimana kalau pilgub jadi dua putaran. Terbukti ketika Antasari buka mulut, suara paslon 1 turun, tapi pindahnya ke paslon 3. Kebayang kan putaran dua kayak apa?

 

Tadinya saya mau misuh-misuh pedes kayak perempuan baru diputusin. Tapi nanti blog ini hanya akan jadi rangkuman dari rentetan keluh kesah ribuan chat di 10 whatsapp group saya. Let me do what I can do best: MOVE ON. Ini yang menurut saya sebagai pendukung Badja, jadi langkah move on ke putaran ke dua!

Yang Lebih Menakutkan daripada Kampanye Pilgub…

2014. Seperti manusia lainnya, saya juga pernah buat salah.. salah pilih pacar di masa lampau. Dan saya terjebak dengan seorang mantan pacar yang hobi banget kampanye buat Bapak yang ‘ono’.

 

Whatsapp saya habis dibombardir oleh berita tentang paslon nomor sekian. Nggak ditanggapi, dikirim via FB messenger. Kalau nggak dibaca, dikirim via SMS. Nggak diwaro juga, saya dicurigai gagal move-on, pasti masih sakit hati karena diputusin.

 

Karena hayati lelah , saya jawab aja bahwa saya memang sudah berubah, jadi pilih paslon sesuai pilihannya beliau. Dalam pikiran saya yang dangkal, tentu dengan berhasilnya kampanye yang dilakukan, ia jadi bisa pindah berfokus pada target-target lain.

 

Taktik saya berhasil sementara. Ia kelihatannya senang dengan jawaban saya dan teror berita oborkompor itu berakhir. Saya bisa tidur tenang selama.. 1 malam.

 

Ya, hanya satu malam saja. Karena malam berikutnya, tepat pukul satu pagi, saya kembali dibombardir dengan kampanye, tapi kali ini bukan tentang mengganti calon presiden, tapi tentang.. mengganti agama.

Indonesia, Negara Paling Arab Sedunia

“Jadi gimana bok, selamat loe di Arab? Teman-teman dan keluarga menyambut kembalinya gue dengan khawatir. Gue menjawab santai, “iya lah! Orang semua masih kalah Arab sama Indonesia, tenang aja!”

 

Ketika perusahaan kami mendapat kesempatan memasarkan buah segar Indonesia ke beberapa negara Timur Tengah, metode memilih perwakilan yang berangkat pakai hompimpah yang keluar jaga.

Nikmatnya Jadi Gila

I have a confession to make.

 

Ada masanya gue mendapat akses ke akun seseorang yang… cukup ekstrim. Ekstrimnya kiri atau kanan, sebaiknya tidak dibahas di sini. Namun yang jelas, berkat pernyataan-pernyataannya di jejaring sosial, ia telah kehilangan puluhan orang teman yang merasa pemilik akun sudah kurang waras.

 

Yang punya akun tidak keberatan gue utak-atik, mengira gue memang tulus membantu mengungkapkan visi. Sedangkan bagi gue, ini kesempatan menikmati memiliki alter-ego, tanpa perlu mengorbankan image.

 

I had a blast. Gue meng-copy dan share link-link dari media-media kurang kredibel yang pemrednya sebagian sudah terjerat UU ITE, macam komporakyat, mrikionline, dan lain sebagainya. Lalu gue tambahkan komentar-komentar panas. Gue mengerahkan segala kemampuan gaya Bahasa hiperbolik untuk tampil picik, judgemental, dan.. gila.

 

Hasilnya, gue menulis biasa aja banyak yang sewot, apalagi kalau gue nulis yang ekstrim. Komentar-komentar berdatangan. Sebagian besar menghujat, menimpali dengan fakta-fakta yang berlawanan. Semakin dilawan gue semakin menggila. Betapapun rasionalnya fakta yang diberikan, gue akan meradang melawan dan membantah dengan fakta yang lebih aneh lagi. Gue membalasnya sambil ketawa-ketawa di posisi jungkir balik.

Sapa Suruh Dateng Jakarta, Cina!

“Ini apa hubungannya sih demo penistaan agama sama ngejarah Indomaret di Pluit?”
“Ya emang kagak ada, yang satu alasannya rohani, yang satu sih duniawi! Itu mah bagian dari kontrak aje!”
“Hah? Kontrak apaan?”

 

Ketika aksi damai menuntut proses hukum Ahok berlanjut ricuh, seluruh jejaring media sosial, whatsapp, dan media dipenuhi teriakan protes bernada kebencian. Gue memilih pasif, jadi pengamat penerima semua pesan, baik pro maupun kontra.

 

Alasan pertama adalah karena semua opini gue sudah tertuang sempurna oleh tulisan lain. Alasan kedua, gue sedang mau menghayati ‘peran’ gue sebagai seorang keturunan Cina yang tinggal di Indonesia.

In Memoriam: 3in1

Minggu ini adalah minggu pertama diberlakukannya peraturan ganjil genap di semua area bekas 3in1 di Jakarta. Memang sih, uji cobanya sudah dari bulan-bulan lalu, tapi kalau belum ada surat tilangnya kayaknya kurang nendang.

 

Gue tidak tahu apakah aturan ini baik atau tidak. Yang jelas, selama antrian busway di peak hour masih 45 menit, gue tetap akan mencari cara agar mobil ganjil gue bisa lolos di tanggal genap. Tapi gue yakin, aturan ini lebih baik daripada aturan 3in1 jaman dulu.

 

Selain karena mencegah anak kecil berkeliaran sebagai joki di jam sekolah, aturan ini juga mencegah dosa. Minimal, kebohongan di sistem ini yang kepikiran baru bikin plat palsu. Sedangkan 3in1 memberikan begitu banyak celah untuk berbohong, mengarang cerita palsu sehingga otomatis menjadi ladang dosa gue.

 

Bayangkan, gue punya TIGA kartu identitas perusahaan made-in-benhil yang gue contek desainnya dari internet. Gosipnya, perusahaan yang kantor pusatnya terletak di pengkolan jalan protokol ini punya perjanjian khusus bebas 3in1. Itu artinya TIAP HARI DUA KALI SEHARI gue telah berbohong tentang pekerjaan asli gue.

 

Demi mengenang momen 3in1 yang begitu berkesan, gue merangkum beberapa KEBOHONGAN atau pemelintiran fakta yang pernah gue dan teman-teman lakukan guna menghindari 3in1