Bunda

“Kok kamu belum mati sih?” demikian pertanyaan yang diajukan di pertemuan pertama kami, sambil menerawang melihat tubuh gue seolah tembus pandang. Bunda, demikian para ‘pasien’nya memanggilnya, dikenal tetangganya sebagai ‘paranormal’, adalah seorang pendoa dari Muntilan.

I do or I do not

“Loe kenal sama pasangan yang nikah gara-gara cinta, nggak Gy?”

Pertanyaan menohok itu diajukan di tengah padatnya tempat duduk yang tersusun saling menempel dalam sebuah kafe yang buka 24 jam. Gumpalan asap rokok yang mengepul dari hampir semua pengunjung, menciptakan awan putih yang menyesakkan, seolah menambah berat pertanyaan yang baru diajukan.

 

Gue berpikir sesaat lalu mengangkat wajah gue dari botol bir yang sedang gue putar-putar itu. Seperti biasa, teman yang patah hati, gue yang mabok. Semacam penyaluran emosi dari satu individu dan dihempaskan lewat gue.

“Not much from my circle of friend,” gue menggumam menjawab, lalu kembali meluruskan tatapan pada meja penuh bercak yang tidak sempat dibersihkan setelah pengunjung sebelum kami.

Viet-Cong!

“Vietnam ngeliat apa aja ya?” pertanyaan standard terlontar pasca libur

“MOTOR Mbak! MOTOR BUANYAK BUANGET!” gue menjawab semangat.

“Hah? Masa sih? Kok nggak ada yang pernah nyebut soal motor? Loe tuh ke Vietnam bagian mana sih?”
“Yeee.. Orang lain tuh, ke Vietnam bagian mane!” gue nyolot.

To Block or Not To Block

“Gy, gue masa diremove sama mantan cewe gue dari Path!”
“Oh, bagus lah, jadi loe nggak usah nge-remove duluan…”
“Kenapa sih, gy, cewe tuh suka ngeblok-ngeblok gitu! Cowok tuh nggak ada maen blok gitu!”
“Err.. gue remove mantan cowo gue sih…”

“Tapi mantan cowo loe emang aneh! Pantes aja diblok!”

“Oh, ya udah kalau gitu gapapa.”

Di sore hari yang indah itu gue tiba-tiba dihadapkan pada pertanyaan hidup dan mati abad ini. Dibuang sayang nggak dibuang empet. Should you block your ex-boyfriend from your social media?

Psycho Past

“Gy, loe tau si X nggak?”
“Ya iya lah tau.. emang kenapa?”
“Dia lagi ditahan polisi, lho!”
“Hah seriusan, bro? Kenapa?”
“Percobaan pembunuhan terhadap istri!”
“Ih, Tuu kan, bro! Coba kalau gue yang jadi ma die, gue gak bakal terima mau dibunuh, gue bakal bunuh balik, terus kita berdua sama-sama masuk penjara!”

 

Dan mantan pacar dengan kode file XXX020## ini melengkapi daftar mantan pacar aneh gue. Semacam schindlers list, gue memiliki rentetan para mantan yang mempunyai aksi agak err… kurang wajar. Dan kadang gue bertanya mengapa demikian.

Mulut Rambo Hati Rinto

KURANG DARI 1 hari setelah gue mengumumkan gue diputuskan oleh mantan pacar gue setelah 4,5 tahun, teman-teman gue mengirimkan belasan memes yang berkaitan dengan becandaan patah hati. Beberapa dibuat baru, segar dan original. Beberapa, dicopas dari postingan Path lama gue. Senjata makan tuan.

Gue membayangkan iblis yang baru dilepas dari neraka di bulan ketujuh penanggalan Cina untuk membalaskan dendam di bumi. Segala becandaan, baik yang lucu maupun yang tidak lucu dilemparkan ke gue secara publik.

Dating the Taken One

15 menit menuju misa malam Paskah. Seorang teman di samping tiba-tiba memecah kesunyian.

“Menurut loe, gue perlu ngucapin selamat Paskah nggak abis ini?”

“Buat apaan?” gue menjawab setengah berbisik.

“Yaa.. mancing-mancing aja..”

“Jangan mancing kalau loe nggak yakin dapetnya apaan, tau-tau ditangkep hiu, loe yang kemakan!”

“Ah loe mah.. lha loe sendiri bakal ngasi ucapan nggak”?”
“YA IYALAH GUE BAKAL NGUCAPIN! DIA BUKAN LAKI ORANG” jawab gue agak lantang, tetangga-tetangga kami mulai nengok.

Pembicaraan semacam ini, tentang perempuan yang mengencani suami orang, selayaknya terjadi di sebuah bar, di antara perempuan-perempuan dengan rok mini yang nggak pake bra. Tapi tidak, pembicaraan ini terjadi di sebuah gereja, di antara dua orang perempuan yang punya pekerjaan normal dan baik-baik.

 

Dan fakta ini membuat gue teringat satu perbincangan yang menyadarkan gue, betapa jadi umumnya kasus percintaan terlarang semacam ini.Di suatu makan malam, tercetuslah statistik mencengangkan. 3 dari 4 perempuan di meja makan malam itu, pernah menjadi selingkuhan pria beristri.

Dendam Nyi Blorong

Ketika pastor menyatakan bahwa penangkal paling mujarab dari segala kutukan gantung jodoh, santet, sihir dari tiga arah mata angin adalah memaafkan dan tidak dendam akan orang yang mengawali segitiga setan ini, gue langsung memutuskan: gue mau cari dukun aja.

Geser Agama

Seorang kenalan pernah mendapat cap sebagai smooth talker. Cara bicaranya manis, seumur hidupnya tidak pernah ditolak lawan jenis. Salah satu rayuan andalannya di masa itu adalah, bahwa ia akan mengikuti keyakinan pacar/ gebetan yang diincar.

 

Pada pacarnya yang beragama Kristen dan Katolik, ia mengklaim selalu bersekolah di institusi yang bernafaskan agama tersebut. Oleh karena itu, sudah secara natural ia jadi punya pengetahuan lebih dalam, mungkin daripada agamanya sendiri. Karenanya, tidak akan menjadi beban untuk berpindah agama.

 

Pada pacarnya yang beragama Budha dan Kong Hu Cu, ia akan berkata bahwa ia selalu tertarik pada agama tersebut. Sangat lembut dan mengajarkan cinta kasih. Satu-satunya agama mungkin yang tidak pernah berperang di masa lalu dengan agama lain. Sungguh mendamaikan.

 

Sedangkan pada pacarnya yang beragama Islam, ia tentu akan mengklaim dilahirkan dalam agama tersebut, sudah pasti, dengan mendalami sedikit lebih jauh, ia dapat menjadi seorang Imam yang baik bagi keluarganya kelak.

 

Sudah pasti, semua perempuan yang didekatinya klepek-klepek dengan janji semacam ini. “Dia sampe mau pindah agama demi gue!” demikian mereka akan berkata dengan mata berbinar-binar. Yang biasanya akan gue jawab datar, “kayaknya pernah denger.” Tentunya, tanpa bisa memadamkan cinta temen-temen gue itu.