Permantanan

Pere 1: Menurut loe gue harus undang mantan gue ke kawinan gue?

Pere 2: Cowo loe ngundang mantannya juga nggak?

Pere 1: Pacar gue emang beda sama mantan  gue! Kalau yang sekarang nggak pedulian sama mantannya!

Pere 2: Duh, enaknya, gak kayak cowo gue, masa udah kawin masih bbm-an sama mantannya

Pere 1: Loe-nya juga sih, masih kontak sama mantan loe!

Pere 2:  Gue kan cuma pingin tau kabarnya dia sekarang! Ngomong-ngomong mantan loe sekarang dimana ya?

Pere 3: Mantan gue yang mana?

Tiga perempuan, tidak bisa dibilang single. Yang satu bahkan akan segera menikah. Yang satu punya pacar siap nikah. Tapi dalam perbincangan selama berjam-jam, tidak banyak diceritakan tentang pacar masing-masing. Yang banyak terdengar: tentang mantan pacar, tentang mantan pacar pacar baru, tentang mantan pacar teman.

 

Sejujurnya, gue merasa takjub akan perbincangan ini. Ada begitu banyak sisi menarik dari partner masing-masing.  Mengapa kita tidak berbincang seperti wanita pada umumnya? Marilah kita membagi semua detail-detail percintaan yang tak relevan bagi orang lain! Pamerkanlah hadiah cincin satu karat itu, atau nyanyikan lagu tema jadian, atau deskripsikanlah ciuman pertama.

 

Atau.. bagilah semua masalah yang muncul dalam hubungan agar persaudaraan wanita bisa saling menguatkan; tentang minimnya frekuensi ditelpon, kebiasaan mengupil atau durasi seks. Pokoknya…APA AJA DEH SELAMA MENYANGKUT HUBUNGAN YANG SEDANG BERLANGSUNG!

 

Mengapa yang jadi topik utama malah mantan pacar? Seolah-olah apa yang telah berlalu akan menjadi bahan yang lebih menarik daripada apa yang digenggam sekarang. Seolah permasalahan utama dalam hubungan adalah permantanan.

 

Tapi kemudian gue disadarkan akan sebuah kenyataan: dalam setiap hubungan percintaan, selalu ada lebih banyak mantan pacar daripada pacar. Biasanya, berpacaran adalah antar satu pria dengan satu wanita. Jika ahli dan menganggur, bisalah jumlah pacar mencapai tiga. Angka empat sudah dianggap di luar batas kemampuan dan integritas.

 

Sedangkan jumlah mantan pacar, dimulai dari satu hingga tak terhingga. Belum lagi dari pasangan yang juga membawa mantan pacar. Demikianlah, maka permantanan menjadi lebih rumit dari perpacaran itu sendiri. Ada lebih  banyak aturan, permasalahan yang muncul dengan kelompok dengan anggota lebih banyak daripada dengan satu individu.

 

Semakin rumit, karena kebutuhan akan informasi yang mengatur permantanan ini kurang dieksplorasi. Kebanyakan majalah gaya hidup hanya membahas masalah percintaan yang sedang berjalan saja, tanpa membandingkan dengan yang telah berlalu, tanpa melibatkan mantan pacar.

 

Dan dengan kenyataan ini, gue akan semakin sering terlibat diskusi permantanan dengan sahabat wanita,  meski banyak opini gue dimentahkan lantaran dianggap tidak relevan. Guna menanggulangi curhat mantan dan kepalsuan hati, maka gue menuliskan disini rubrik cinta sesuai dengan jawaban yang ‘diinginkan, PLUS jawaban antagonis dari gue.

 

GUNDAH GULANA SATU: PERLUKAH MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN MANTAN PACAR?

Dear Cinta,

Saya putus dan saya sudah punya pacar baru lagi. Awalnya saya dan mantan masih menjaga hubungan baik karena sebagai seseorang yang pernah saling sayang, saya ingin ada di saat ia butuh teman bicara. Namun akhir-akhir ini pacar baru saya kurang bisa menerima hubungan ini. Saya sudah bilang bahwa saya cuma ingin menjadi teman yang baik dan bahwa saya tidak punya alasan menjauhi mantan. Bagaimana supaya pacar baru saya mempercayai saya?

 

Jawaban rubrik cinta:

Setiap persahabatan adalah berharga untuk dipertahankan, apalagi dengan seseorang yang pernah kita cintai. Hubungan baik dengan mantan pacar bisa dinilai sebagai sebuah keterbukaan, bahwa memang kalian terlibat dalam hubungan yang sehat dan indah. Buatlah pacar kamu melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif. Bahkan, kamu bisa mengenalkan dia dengan mantanmu, supaya mereka juga bisa saling bersahabat. Hal ini akan membuktikan bahwa memang tidak ada sesuatu di antara kalian.

 

Jika pasangan tetap tidak bisa menerima, berarti ada masalah kepercayaan. Mungkin kamu harus introspeksi tentang apa yang membuat dia tidak percaya kamu. Jika kalian sudah saling percaya, tidak peduli siapa yang kalian temui, hubungan kalian akan tetap kokoh! Good luck!

 

Jawaban antagonis:

Permasalahan ini tidak akan muncul jika loe tidak berhubungan dengan mantan loe lagi.

 

Jawaban ini tidak dilandasi kebencian pada mantan pacar, atau hasrat bermusuhan yang tinggi. Tapi lebih didasari oleh latar belakang budaya. Gue Cina. Berdasarkan asumsi yang berkembang di mata masyarakat, kami suka melihat segala sesuatu dari untung-rugi semata. Demikian juga dalam hubungan. Gue melihat setiap relasi yang gue buat sebagai investasi. Jika gue menelpon, meng-sms, beramah-tamah, diharapkan ada hasil dari investasi waktu dan pulsa yang gue tanam, yaitu berupa hubungan lanjut.

 

Jika gue putus, berarti investasi gue sudah rugi sampai modal-modalnya. Buat apa gue membuang modal lagi di lahan yang jelas-jelas tidak menguntungkan dengan mengeluarkan ex-boyfriend maintenance fee?  Lebih baik gue berinvestasi di tempat yang masi mungkin chuan, seperti dengan pacar baru atau sahabat.

 

JANGAN JUGA MEMBUAT EXCUSE, seperti bahwa hubungan masih bisa menguntungkan karena siapa tahu akan ada peluang bisnis blahblahblah. Sampai diketahui jelas kapan return of investment diterima, sebagai investor (dan Cina) yang ulung, tentu gue akan lebih berhati-hati bermain di pasar yang pernah merugikan gue ini.

 

GUNDAH GULANA DUA: PERLUKAH MENGUNDANG MANTAN KE ACARA PERNIKAHAN

Dear Cinta,

Akhirnya! Aku bakal nikah tahun depan!!! J Tapi aku bingung nih, perlu nggak mengundang mantan pacar pada acara ini? Kita sih udah lama sekali tidak berhubungan. Tapi kami putus baik-baik dan alangkah anehnya jika suatu hari kami papasan dan aku ternyata sudah menikah. He’s the love of my life dan setidaknya berhak mengetahui peristiwa besar dalam hidupku.

 

Jawaban rubrik cinta:

It’s your BIG day. Semua orang yang berarti buat kamu harus hadir, termasuk mantan pacar. Saya percaya dia akan sangat menghargai undangan ini. Lagipula, hubungan kalian sudah tak berarti apa-apa, jadi apa salahnya menunjukkan goodwill? Tapi lain halnya kalau mengundang mantan ini membuat calon suami kamu risih. After all, inilah hubungan yang lebih penting dan kamu harus memprioritaskannya di atas apapun. Coba dulu beri pengertian, siapa tahu dia malah mau ikut mengundang mantannya juga. Wah serunya!

 

Jawaban antagonis:

Saat mempersiapkan pernikahan semakin dekat, loe bakal sibuk banget sampe ga keingetan buat ngundang mantan loe.

 

DUDE, please! Jika seseorang memang sudah tidak ada arti apa-apanya lagi, gue mungkin bahkan tidak akan sempat menimang-nimang akan mengundang atau tidak. Coba bayangkan: Gue putus. Sakit hati. Facebook, messenger, dan segala jalur komunikasi terputus. Dan sekarang, di saat gue sedang harus memilih 28 jenis canapé yang akan dihidangkan, apa gaya foto prewed gue dan siapa fotografernya, dan menengahi perseteruan para bridesmaid akan warna seragam gaun, gue harus bersusah payah mencari-cari lagi kontak seorang mantan? Gimana kalau gue punya banyak mantan? I don’t have much time, you see…

 

Atau coba bayangkan sebaliknya: Kami putus baik-baik, segala hubungan masih terjalin meski tidak sedekat dulu. Mengundang cuma perkara ‘send invitation to all friends’ di Facebook. Dateng sukur, nggak ya udah. Tapi tidak ada pemikiran keras yang membuang volume otak dalam hal undang-mengundang.

 

Yang jelas, perkara courtesy call untuk memberitahukan hari besar dalam hidup gue bagi seseorang yang pernah berarti, tidak akan jadi pertimbangan. Kalau dia berharap untuk menjadi segitu berartinya, kenapa dulu putus?

 

GUNDAH GULANA TIGA: BAGAIMANA JIKA PACAR SAYA MASIH BERHUBUNGAN DENGAN MANTANNYA?

Dear Cinta,

Gue lagi BETE abis nih! Ngapain sih tuh cewe masih nyariin cowo gue? Mereka kan udah putus lama! Dasar kecentilan! Sekadar info aja ya, dia itu udah kawin, udah hamil pula! Hamilnya juga bukan sama cowo gue! Tapi selaluuu aja, nyari-nyari alasan hubungin cowo gue lagi. Mau curhat lah, mau nyari info bisnis lah! Halah! Curhat aja sama laki loe sono! Cowo gue juga, ditanggepin aja! Alasannya, cuma temenan, lagian via bb doang, nggak sulit. EHHH! Daripada BB-an sama mantan loe, mending BB-an sama pacar loe sini!! Cinta, maaf ya gue jadi marah-marah, abis gimana dong caranya ngejauhin tu mantan dari cowo gue? Gue aduin aja ke suaminya biar cerai? Tapi kalau cerai gue makin terancam dong? GUE SANTET AJA KALI YA???

 

Jawaban Rubrik Cinta:

Relax…cool…calm…Tarik nafas…tenangkan diri kamu. Cemburu buta tidak akan membawa hubungan kalian menjadi lebih baik. Trust your boyfriend. Mereka putus pasti karena satu sebab yang sudah tidak bisa ditolerir. Kalau masih bisa dijembatani, buat apa mereka putus dan dia pacaran sama kamu? He’s with you because you’re special, you’re better than his ex. Siapa tahu, kamu juga bisa temenan sama mantannya. It’s nice to understand his past too…

 

Jawaban antagonis:

Semua ini tidak akan terjadi kalau loe punya pacar yang cerdas.

 

Bagaimana mungkin ada pria sehat dan mengaku waras yang mau jadi tong sampah mantan pacarnya? Bagaimana mungkin, meski sudah menjadi hak dan kewajiban orang lain, masih mau menyatakan tanggung jawab? Bagaimana mungkin,  ada yang mau ‘beramal’ sampai mengambil risiko kehilangan ‘pekerjaan tetap’?

 

Jawabannya cuma beberapa kemungkinan: Karena dia goblok. Sia-sia. Patetik. Pebisnis yang buruk *lihat gundah gulana nomor satu. Kombinasi keempatnya. Baik? Mungkin…tapi baik sama bego bedanya tipis. Sebagai pacar yang baik, Anda berkewajiban meningkatkan kecerdasan berbangsa. Tapi kalau sang pacar menolak menjadi pintar, humph…we love smart guys don’t we? And we don’t want to fall in love with dumb guys, do we? Let him know that.

 

Setelah melihat lagi jawaban gue, mengertilah mengapa semua saran gue selalu ditolak. Jawaban gue dianggap tidak menjawab persoalan dan seolah mengasumsi bahwa permasalahan tersebut tidak ada. Gue memang tidak memberi nilai tambah terhadap jawaban rubrik cinta. But then again, we don’t even need rubrik cinta if things ARE really over. We just won’t bother to even think about it. A friendship wouldn’t burdern us and it doesn’t matter if he has dissapeared either. Isn’t it what’s being called as ‘moving on’?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *