Geser Agama

Seorang kenalan pernah mendapat cap sebagai smooth talker. Cara bicaranya manis, seumur hidupnya tidak pernah ditolak lawan jenis. Salah satu rayuan andalannya di masa itu adalah, bahwa ia akan mengikuti keyakinan pacar/ gebetan yang diincar.

 

Pada pacarnya yang beragama Kristen dan Katolik, ia mengklaim selalu bersekolah di institusi yang bernafaskan agama tersebut. Oleh karena itu, sudah secara natural ia jadi punya pengetahuan lebih dalam, mungkin daripada agamanya sendiri. Karenanya, tidak akan menjadi beban untuk berpindah agama.

 

Pada pacarnya yang beragama Budha dan Kong Hu Cu, ia akan berkata bahwa ia selalu tertarik pada agama tersebut. Sangat lembut dan mengajarkan cinta kasih. Satu-satunya agama mungkin yang tidak pernah berperang di masa lalu dengan agama lain. Sungguh mendamaikan.

 

Sedangkan pada pacarnya yang beragama Islam, ia tentu akan mengklaim dilahirkan dalam agama tersebut, sudah pasti, dengan mendalami sedikit lebih jauh, ia dapat menjadi seorang Imam yang baik bagi keluarganya kelak.

 

Sudah pasti, semua perempuan yang didekatinya klepek-klepek dengan janji semacam ini. “Dia sampe mau pindah agama demi gue!” demikian mereka akan berkata dengan mata berbinar-binar. Yang biasanya akan gue jawab datar, “kayaknya pernah denger.” Tentunya, tanpa bisa memadamkan cinta temen-temen gue itu.

Pernah suatu kali si kenalan ini bener-bener pindah agama. Ikut kursus lalu dibaptis segala. Hanya untuk tahun depannya kembali merayakan lebaran- bersama pacar barunya yang Muslim – yang merupakan teman mantan pacar lamanya yang Katolik itu- klo ga salah pernah jadi roommate.

 

Pengen jadi smoothtalker, gue sempat ingin meniru jurus maut si kenalan. Apa sih susahnya ganti-ganti agama? Toh katanya semua agama sama aja. Lagipula gue juga agamanya nggak mletek-mletek amat. Tau ayat-ayat kitab suci juga seperempat-seperempat aja. Pindah-pindah agama urusan gampang laahh…

 

Maka gue memulai debut gue dengan sok-sok belajar agama orang lain. Dan dari yang tadinya gue sempet ngenye menganggap si kenalan tidak punya prinsip, gue berubah menaruh kagum padanya. Dia pasti seorang pria yang tangguh.

 

Apa yang tadinya gue pikir adalah masalah kecil yang ringan, gue mengalami yang rasanya seperti sebuah penyiksaan. Segala pemahaman, pengertian, pengetahuan gue akan apa yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, seolah-olah diruntuhkan dalam waktu satu hari saja.

 

Begitu mulai, gue langsung diterjang dengan pertanyaan-pertanyaan yang, ya elah, pastor aja jawabnya susah apalagi gue. Apa itu Allah TriTunggal! Bagaimana mungkin Maria mengandung anak Tuhan! Benarkah Yesus lahir di tanggal 25 Desember! Itukan pesta para dewa! Pokoknya pertanyaan yang jawabannya memerlukan iman.

 

Dunia gue seperti diterbalikkan. Yang tadinya gue percaya, sekarang harus dibantai total. Yang tadinya tanpa gue pertanyakan gue lakukan, sekarang disuruh dipertanyakan. Yang tadinya gue anggap ‘default’, ternyata hanya ‘opsional’.

 

Seorang teman punya orang tua beda agama. Pada usia remaja ia memilih salah satu agama dengan alasan: 1. Malas berdoa 5x sehari, 2. Suka daging binatang tertentu 3. Suka pake celana pendek.

 

Dengan alasan sedangkal itu, sudah jelas bahwa beliau bukan penganut agama yang taat. Tapi bahkan ia tidak pernah kelupaan berdoa sebelum makan menurut agama yang dianut, dengan alasan: takut keracunan.

 

Ternyata, agama, si prinsip dasar nomor satu yang lebih sering daripada kagak, gue lupakan, sudah membentuk siapa gue saat ini, pemahaman moral gue, dan cara gue bertindak. Seberapapun dangkalnya, seberapapun tipisnya, akan merasuk ke dalam pemikiran seseorang.

 

Dan ketika seseorang menyatakan bahwa bagian dari hidup itu SALAH, rasanya seperti ada bagian organ dalam tubuh yang lagi di-wax dan ditarik kain wax-nya. Begitu traumatisnya sampai gue bener-bener godek-godek OGAH kalau diajak acara kegiatan agama lain. Gue tidak mau di-wax sering-sering.

 

Saat itu gue berpikir tentang sang teman. Bayangkan kalau itu terjadi berulang kali, betapa menyakitkannya. Bagaimana caranya menghadapinya? Apakah sambil nggak didengerin sama sekali? Atau mungkin, para pengajar agama yang ditemui teman gue itu punya metode yang berbeda dengan guru spiritual yang gue temui?

 

Sebagian besar pengajar pindah agama memulai ajarannya dengan menyatakan bahwa agama sebelumnya yang dianut adalah salah. Karena salah, maka harus diganti dengan yang baru, yaitu yang BENAR.

 

Namun, berdasarkan pengamatan gue, sebagian besar orang yang mengikuti kelas pindah agama, tidak merasakan ada yang salah dengan agama terdahulu. Merasa kurang pas, ya mungkin. Merasa kurang taat, ya bisa aja. Tapi merasa salah, jarang.

 

Kecuali oleh sentuhan tangan Tuhan yang demikian dasyat menerbalikkan kuda membutakan mata sambil memanggil nama, jarang ada yang merasakan kebutuhan besar pindah agama.

 

Makanya, menyatakan agama terdahulu sebagai SALAH, malah akan menimbulkan sifat defensif yang demikian besar di hati para pemeluk agama ini. Malahan jadi sakit hati, merasa dipersalahkan atas apa yang awalnya jadi penopang jiwa.

 

Akhirnya, timbul keraguan pada agama yang baru sebagai yang benar. Ibaratnya, agama yang lama dipaksa lepas, yang barupun belum meletek. Ketika terjadi ketakutan dan bencana, sebaiknya berpegang pada siapa? Yang lama dibilang salah. Yang baru belum terlalu percaya.

 

Menurut gue, pembelajaran agama ini akan lebih efektif dalam memindahkan agama orang kalau diawali dengan melihat motif utama orang belajar agama lain. Kebanyakan, karena alasan pernikahan, ada juga yang karena merasa hampa, mencari jalan hidup.

 

Untuk itu, sebaiknya pembelajaran agama lebih berfokus pada bagaimana si agama baru ini menjawab persoalan ini. Bagaimana si agama bisa mengisi kehampaan jiwa, bisa menunjukkan jalan hidup, bisa menjadikan sebuah pernikahan jadi lebih bermakna.

 

Fokusnya adalah ‘agama yang kemarin sih nggak jelek, tapi yang ini bisa gini-gitu loh…’ Dengan begitu, si murid akan pindah karena melihat kelebihan si agama yang baru dan bukan melihat kekurangan agama yang lama. Bukankah katanya semua agama sifatnya penuh kasih dan tidak mencari kambing hitam?

 

Gue sendiri tetap percaya bahwa pindah agama itu memerlukan panggilan. Kalau nggak dipanggil, sampai lebaran monyet juga nggak bakal tersentuh. Mau belajar agama 10 tahun kek, mau pake guru spiritual ternama kek, nggak pindah ya nggak pindah.

 

Namun setidaknya gue yakin, kalau metode tepat guna ini diterapkan, minimal orang yang ikutan nggak bakal sakit hati. Dan mereka yang sudah pasti akan pindah karena akan nikah bulan depannya, akan lebih tidak berpura-pura menganut agama barunya.

 

Lalu, ketika panggilan sesungguhnya datang, sang penganut sudah punya pengetahuan lengkap tentang agama barunya itu. Seperti sang teman yang suka geser-geser agama tadi. Suatu kali, tersiarlah berita ia pindah agama (lagi). Bukan hanya pindah, tapi dia juga jadi pemuka agama tersebut dan menyatakan hidup selibat. Kepada seluruh mantan pacar beliau mengirimkan permintaan maaf telah berbuat khilaf di masa lalu.

 

Entah sebuah berkah, atau kutukan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *