Resolusi-oner

Sudah menikah, sudah punya perusahaan sendiri, sudah pernah keliling Eropa. Hmm.. Ok, semua resolusi sudah tercapai. Demikian si kakak bergumam, sambil meniup lilin ultahnya yang ke-30. Ia lalu melirik pada si bungsu yang senyum sumringah tepuk tangan sambil nyanyi TIIIUPP LILINNYAA…, ‘kamu punya resolusi apa?’   Nyanyian konyol si bungsu seketika mengecil. Saat itu ia baru...
read more

11-love-boat

Resolusi-oner

Sudah menikah, sudah punya perusahaan sendiri, sudah pernah keliling Eropa. Hmm.. Ok, semua resolusi sudah tercapai. Demikian si kakak bergumam, sambil meniup lilin ultahnya yang ke-30. Ia lalu melirik pada si bungsu yang senyum sumringah tepuk tangan sambil nyanyi TIIIUPP LILINNYAA…, ‘kamu punya resolusi apa?’

 

Nyanyian konyol si bungsu seketika mengecil. Saat itu ia baru saja memutuskan menunda kelulusan beberapa bulan supaya bisa menikmati waktu menganggur. Resolusi, adalah sebuah hal yang jauh dari pikiran.

 

Mau S2, masih cape kelar kuliah. Mau nikah, gak kepingin-pingin amat. Yang ia inginkan hanya jalan-jalan gratis tanpa perlu kerja seumur hidup, tanpa terdengar, tidak ambisius.

 

“Russia before 30!” Gue kemudian keluar dengan satu resolusi . Kenapa Rusia? Yaa, kesannya jauh aja, pasti mahal dong, artinya gue udah jadi horangkayah pada umur itu.

“OK, kalau gitu gimana langkah-langkah loe untuk mewujudkan jalan-jalan ke Rusia? Coba kita drill down jadi langkah-langkah kecil, loe perginya mao sama siapa? Pacar? Suami? Keluarga?” dengan niatan membantu seorang teman lulusan University of Berkeley dengan IP 3,9 mencoba menelaah. Vision without Mision, is nothing.

 

Gue kembali gelagapan. Dan untuk itu gue membuat satu. Ya SATU setrip di bawah kolom ‘PERSIAPAN’: browsing tentang Rusia di usia ke-28. Saat itu usia gue sekitar 22 tahun. Dan seperti kata Mbak Taylor, I’m feeling 22.. Everything will be alright…

 

Tentu saja dengan persiapan seminim itu Rusia tidak terwujud se-ujung cone-nya St Basil Cathedrale acan. Begitu ada rejekinya, memenuhi nazar bawa orang tua ke Lourdes terasa lebih berbobot. Begitu kekumpul lagi, duh, masa dipake buat hura-hura, mending dibelikan apartemen.

 

Begitu-begitu-begitu terus hingga gue menginjak usia 28 tahun. Persis tahun itu gue sakit keras. Dokter tidak tahu gue sakit apa. Plus sakit itu punya efek samping muka lecek kayak muka Pattimura di kantong supir angkot. Rejeki ogah mampir. Boro-boro mau ke Rusia, kuburan juga musti dicicil.

 

Untungnya karena tidak pernah serius beresolusi, gue tidak kecewa ketika resolusi itu akhirnya ga kesampean. Gara-gara sakit yang merenggut semua sumber rejeki, gue terpaksa tekun berwirausaha. Dua tahun kemudian, di usia ke-30, buah usaha kami, salak menjejakkan kaki di Rusia. Gue menggegap gempita melihat salak, bersanding dengan berapa produk buah eksotis lainnya sudah berada di pallet dengan alamat RUSIA tercantum di situ.

 

Seandainya gue tidak pernah diletakkan di dasar roda kehidupan bareng sama cacing tambang, tentu mudah bagi gue untuk pergi ke Rusia. Tapi ada banyak orang yang bisa pergi ke Rusia, namun cuma ada satu perusahaan yang bisa jadi YANG PERTAMA ekspor salak yang akhirnya sampai ke Rusia.

 

Sebaliknya, gue juga tidak bangga-bangga amat kalau ‘resolusi’ itu tercapai. Gue pernah sukses menurunkan berat badan dari 60 kg ke 50 kg, dengan diet Herbalife hingga gue naik pangkat jadi level Supervisor dalam waktu 4 bulan (Ciyee.. promosi).

 

Tapi itu pun gue gak yakin karena tekad yang kuat. Ketika berat gue sudah 53kg itu, gue kena santet. Berat badan meluncur turun hingga 48 dan ga naik-naik lagi selama setahun. Sekarang tiap kali diajak resolusi kurus gue ogah. Gue udah tahu caranya gimana, yang tanpa obat, tanpa diet, tanpa olahraga berat.

 

Peristiwa pengen kurus itulah yang menyadarkan mengapa gue anaknya ga resolusioner banget. Terkadang, resolusi membuat gue terlalu fokus pada tujuannya, hingga tidak peduli prosesnya.

 

Pengen kurus ya gimana caranya deh, mau pake makan cacing pita, mau hari ini kurus, dua jam kemudian gendut lagi, mau nyantet-nyantetin semua temen dan keluarga biar pada gendut supaya gue keliatan kurus sendiri…

 

Kenyataannya, ketika gue berhasil menang lomba turun berat badan, there’s nothing I can be proud of. Gue bahkan tidak melakukan apa-apa untuk menguruskan badan. Yang bayar dukunnya aja bukan gue.

 

It’s never the achievement that gives us satisfaction. It’s the process. Gue bisa dengan bangga cenderung sombong bercerita bagaimana gue gagal beresolusi pergi Rusia. Karena dengan begitu gue bisa menyelipkan kisah penuh pamer nan riya tentang bagaimana I went from zero to my own hero macam model videoklipnya Mbak Katy Pery.

 

Tentu saja ada orang-orang (si kakak contoh nyata terdekat), yang sangat terbantu mencapai impian dengan resolusi. Mereka orang-orang yang membuat langkah-langkah tepat nan taktis untuk mencapai cita dan cinta. Aim for the sky, at least you will reach top of the world.

 

Tapi mungkin resolusi tidak melulu tentang sebuah tujuan, melainkan how to get there. Jalan seperti apa yang mau ditempuh untuk mencapai tujuan itu? Apa yang perlu dikorbankan dan prinsip apa yang perlu dipertahankan selama perjalanannya?

 

Menatap beningnya Samudera Hindia di tepi Pantai Petite Anse di Seychelles, gue kembali diingatkan akan hal ini. Sekitar 12 tahun yang lalu, ketika kuliah, gue mendapat tugas membuat presentasi tentang satu negara aneh-aneh. Gue secara acak mendapatkan topik: Seychelles.

 

Apapun topiknya, dengan bakal dagang obat, gue tahu gue akan berhasil menjual topik tersebut. Gue mendapat nilai A+. Sang guru menemui gue di akhir kelas mengatakan bahwa gue punya bakat di bidang politik dan persuasi, dan sebaiknya menempuh karir di bidang tersebut.

 

Seperti biasa gue cuma tertawa sopan, lah kuliah aja dibayarin negara, mau ngimpi ke Seychelles yang mihil kemihil. Tapi setelah mengetahui, beberapa dari teman sekelas yang menghadiri presentasi memilih Seychelles sebagai destinasi honeymoon, gue pikir yah, suatu hari lah gue ke Seychelles.

 

Dan seperti biasanya lagi juga gue lupa akan mimpi itu. Hingga kesempatannya datang dan yah, itulah kenapa dari segala jenis negara, gue memilih pergi ke Seychelles, di minggu ulang tahun gue.

 

Terlepas dari beberapa postingan bikini-bodz yang mengindikasikan kestabilan kemakmuran dan pasir putih sehalus bedak BK, benernya pantai kayak gini di Indonesia mah banyak. Ratusan.. Lebih! Beberapa posting Instagram gue dikira fake check-in dari Belitung.

 

Kotanya kecil, 5 menit jalan kaki ujung ke ujung. Tugu kemerdekannya lebih kecil daripada tugu daon kelapa di bunderan Kelapa Gading, lebih mirip gapura kompleks. Keseluruhan dari bank hingga airport kurang lebih segede Kidzania.

 

Berulang kali gue bikin kesel tourguide, karena tiap kali nunjukkin pohon kelapa lah, belimbing lah, batu granit lah, gue bilang, “Huuu, kayak gini  mah di negara gue juga ade, banyak! Gue ekspor bahkan!”

 

Maka gue tidak akan bilang gue bangga berhasil ke Seychelles. Gue bangga bahwa selama 12 tahun hingga sampai Seychelles, gue berhasil meraih resolusi gue untuk hidup leyeh-leyeh jalan-jalan gratis (dibayari perusahaan sendiri dan negara, dan teman-teman yang dermawan).

 

Bahwa waktu dan rejeki sampai sono tidak mengkorting momen gue merayakan tahun baru sama mamih sesuai waktu Beijing, jam 23.00 WIB, soalnya mamih udah ngantuk banget.

 

Bahwa ambisi tidak menjauhkan gue dengan pekerja yang swadaya printing kaos berlogo perusahaan, atau yang menghentikan pekerjaannya setelah begadang semalaman untuk menuliskan selamat ulang tahun (sebagian bahkan buta huruf).

 

Seychelles? Itu bonusnya. Tapi ceritanya ada pada 12 tahun yang gue lalui, jatuh bangun aku mengejarmu yang jauh dari Seychelles. I want how I live as my resolution, so that regardless the ending, I could always say that  it’s a life worth living. So far it has been.

1st January 2018 | 8:43 am |

no

Respon

Be the first to comment!