Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

7-tenang-tenang-menghanyutkan

The Rise of China

“Asyikkk… kalau kayak begini kan kita bisa belanja,” demikian gue berkomentar, dengan mata berbinar-binar, melahap barang-barang di salah satu toko oleh-oleh di Venezia.

 

Sebagai bagian dari rangkaian tur ke Eropa kemarin, gue mengunjungi Italia yang resesi, persis setelah menyambangi Swiss yang super mahal. Tentu rasanya seperti orang miskin yang mendadak kaya, bukan karena mendapat uang tapi karena tiba-tiba uang yang dimiliki jadi sedikit lebih berarti.

 

“Iya, kayak gini dong, kita kan jadi bisa beli oleh-oleh,” si mamih menimpali, setelah memunguti topeng khas opera Venesia dengan harga sekitar Rp. 15,000,- saja.


 

“Huh..demen banget, beli barang Cina juga.. di mana-mana juga banyak,” demikian si papih mengomentari. Party Pooper. Soalnya setelah ditotal-total, harga semua cindera mata itu juga mencapai sejutaan.

 

“Di Swiss nggak ada,” si mamih menjawab cepat.

“Di Cina juga belum tentu dijual, semuanya diekspor tuh!” gue menimpali.

 

Gue harus bersyukur dengan kebijakan impor macam di Italia ini. Tanpa adanya barang-barang Cina, apa yang bisa gue bawa dan gue tempel di kulkas gue sebagai pertanda gue pernah menyambangi negara yang jauh dan mahal itu?

 

Tapi tidak semua menanggapi dengan gembira solusi souvenir murah dari Cina ini. Yang punya negara salah satunya. Ketika gue berkunjung ke Murano, sebuah desa mungil penghasil kerajinan gelas kaca di dekat Venezia, sentimennya sungguh berbeda.

 

“Saya udah beli nih, yang ini!” Gue menunjuk sebuah pajangan gelas tiup yang ada di etalase sebuah toko milik keluarga Castello.

“Nggak mungkin,” Opa Castello menjawab nyolot.

“Ihh.. beneran kok, saya beli kemarin, persis!” Gue ngotot.

“Kita tuh perusahaan keluarga! Barang kita cuma dijual di sini!” si Opa semakin ngotot.

“Yaa pokoknya saya punya percis, tiruannya kali dari Cina” gue nggak mau kalah.

“Ini nih kenapa kita nggak suka wisatawan dari Cina, kita nggak bisa bedain mana turis mana tukang jiplak!” Si Opa wajahnya asem.

“Yaa..saya dari Indonesia sih,” timpal gue sambil melengos pergi.

 

Setelah pembicaraan itu gue langsung paham mengapa hampir di setiap toko di Murano, kecuali yang menjual barang Cina, terdapat lambang ‘Strictly No Photography!’. Mereka takut karya mereka ditiru bangsa Cina, lalu diproduksi masal dengan harga murah. Ngerusak pasaran.

 

Siapa yang mau beli produk negeri sana? Satu patung harganya 45 euro. Cari yang buatan Cina, dengan harga yang sama bisa dapat literally sekarung, kira-kira 45 buah dengan bentuk beraneka ragam.

 

Kualitasnya lumayan, harganya murah, pilihannya banyak. Kalau bukan kolektor, atau orang kaya sekali, tentu seperti gue, memilih souvenir buatan Cina. Buat bagi-bagi ini. Dan berakhirlah produk buatan lokal yang termasyur itu tanpa ada biaya research and development, lalu mati.

 

Dan kecenderungan ini ada di negara manapun yang gue kunjungi. Piring Delft Blue di Belanda, ada tiruannya, dua dolar. Satu buah menempel manis di kulkas gue. Menara Eiffel muncul dalam bentuk serenceng, 1 euro dapat 10. Kaos ‘I Love Rome’ made in China dan jam Cucko bahasa Mandarin.

 

Indonesia, jangan senang dulu. Kita tidak kebal. Sangat tidak kebal. Memangnya daster batik yang dibeli guna menunjukkan aku cinta Indonesia bahkan di rumah itu buatan mana?

 

Sudah jelas, Cina, di dunia, macamnya raksasa menakutkan yang sedang berusaha mencaplok kekuatan ekonomi negara-negara lain, satu per satu, pelan-pelan tapi pasti. Hampir tidak ada negara yang imun. Semua tergantung dengan impor barang-barang Cina.

 

Reaksinya? Ya seperti Opa Castello. Asem. Defensif. Larang foto-foto. Bikin kebijakan proteksionis. Sibuk memadamkan api yang berkobar-kobar di negeri maupun di dada. Seperti gue dengan daster batik? Ya macam itu, gue lalu memilih beli kaos kebarat-baratan buatan Bandung.

 

Tapi ini benci tapi butuh gitu loh. Afterall, tanpa barang Cina berlabel Venezia, turis konsumtif macam gue itu tidak akan berbelanja gila-gilaan. Tidak ada pajak yang gue bayarkan. Bahkan mungkin seperti ke Swiss, gue kapok dan nggak mau lagi balik ke sana.

 

Oh bukan, bukan karena gue Cina maka gue akan menganjurkan negara setempat untuk meningkatkan produksi sekaligus menurunkan harga. Menyalahkan masyarakat negeri setempat, yang tiada mampu membuat barang dengan kualitas yang baik dengan harga bersaing.

 

Klise.

 

Kalau begitu caranya, gue juga bakal keciduk. Memangnya gue mau dikorting 50% untuk sebuah konsep kreatif? Ogah. Cina bisa murah karena tidak ada biaya R&D. Biaya itu adanya di tangan mereka yang pencipta, yang kemudian ditiru habis-habisan itu.

 

Lagipula, Cina juga main curang. Barang-barang di Cina itu hanya murah kalau ada di luar Cina. Terakhir gue ke Shanghai, baju-baju di mall semenjana itu harganya di atas 1 juta semua. Macam di Swiss gitu deh.

 

Tapiii.. adakah cara lain untuk melihat kesaksesan Cina ini, di luar sebagai saingan bisnis yang menyebalkan?

 

Raksasa yang besar ini, memang bisa melakukan banyak hal. Tapi sebagai raksasa yang besar, dia juga butuh makan. Dan makannya juga banyak. Memangnya setelah kaya raya menjual barang ke negara lain, orang Cina tidak butuh berfoya-foya?

 

Cina selalu dilihat sebagai negara produsen. Berlomba-lomba sourcing barang murah biar bisa dijual mahal di Negara lain. Tapi di saat yang sama, Cina sebenarnya adalah sebuah Negara yang sangat konsumtif.

 

Orang kaya banyak di Cina. Ke manapun di negara manapun, sekarang selalu menemukan turis Cina. Dan mereka selalu rakus. Louis Vuitton sampai membatasi seorang hanya boleh membeli satu tas, di masa liburan orang-orang Cina.

 

Gallerie Lafayette di Negara yang terkenal sangat bangga dengan bahasa mereka, Perancis, menyediakan translator bahasa Cina. Sebanyak  Cina menginvasi produk negara lain, sebanyak itulah Negara lain bergantung pada Cina sebagai pasarnya.

 

Ini adalah sebuah indikasi baru: Cina sebagai pasar. Cina yang kalau diberi brosur wisata, akan mengambil dan pergi dan menghambur-hamburkan uangnya.

 

Saat sebuah negara menjadi begitu makmur, kesempatanpun muncul. Apa lagi yang diperlukan? Apa lagi yang bisa dijual? Karena jualan apapun juga, selama mahal, bermerk, bermutu,  akan dikejar dan dibeli.

 

Pernah ada yang sadar bahwa harga sepasang ceker ayam ditim di Cina mencapai Rp. 50,000,-? Itupun stoknya kurang! Semata karena ceker ayam itu, konon bagus untuk kulit.

 

Inilah ide gila yang tercetus suatu malam lagi duduk makan bersama Oknum R sambil mengkhawatirkan tenaga Cina yang dengan deras mengancam mata pencaharian. Betapa rajinnya mereka, betapa bagusnya barang mereka. Pas kuliah dulu, anak Cina berani nggak tidur dan nggak mandi demi nilai tertinggi!

 

Tapi mungkin setelah mereka sakses, jadi kaya raya, pergi keliling dunia, kita bisa jualan ke mereka, dan untung berlipat ganda. Benar tidaknya, sedang dites. Mudah-mudahan bisa sama-sama chuan

31st January 2014 | 5:46 pm |

no

Respon

Be the first to comment!