Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

8-tempat-hitler-ditangkap_2

Singapour Van Europe

“Jadi dari kota-kota yang loe kunjungin kemarin, mana yang loe paling suka?” demikian biasanya pertanyaan lanjutan setelah cerita dua lembar A4 bolak balik tentang ziarah Eropa gue,

“Paris dong!” Gue menjawab antusias, as if gue bisa segera kembali dan menetap di kota pilihan.

“Lho bukannya Paris jorok ya? Loe bukannya lama di Monte Carlo? Cantik banget kan tempatnya? Tinggal di hotel mewah pula!”

“Tapi Paris tuh a real city! Monaco tuh cuma tempat turis, nggak real!”

Lawan bicara menatap gue aneh mendengar alibi yang tidak masuk akal itu.

Memang, di antara Paris, Rome, Nice, Cannes dan Monte Carlo, yang terakhirlah yang paling ‘Eropa’ sesuai bayangan masyarakat dunia ketiga macam gue. Kotanya indah, persis nge-jogrog di tepi Laut Mediterania yang warnanya azzura. Ukurannya juga pas, kecil mungil bersih tertata rapi.

 

Nggak ada yang jelek di kota ini. Isinya cuma kasino, hotel mewah, kafe-kafe cantik pinggir laut, club eksklusif, apartemen mewah dan yacht, a lot of it… Kalaupun ada bangunan dari dekade yang silam, semuanya terlihat serasi dengan cat tembok yang seragam, warna krem Mediterania (persis kayak apartemen salah kostum di Jakarta itu) atau biru telor asin.

 

Kotanya berbukit-bukit, tapi jangan khawatir! Ada lift dipasang di jalan umum. Naik turun pantang cape. Jalanan banyak yang sempit, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan hingga larut malam. Nampaknya masyarakat di sini tajir semua, sehingga tidak pernah ada kerisauan jambreta dan copetta. Jalanan terowongan ditaburi glitter. Pokoknya, Monte Carlo adalah kota tanpa cela!

 

Tapi, keteraturan, keindahan, kesempurnaan Monte Carlo justru membuat gue merasa tidak nyaman. Monaco mengingatkan gue pada  kota lain yang nilainya 100,5 di mata orang Indonesia. Kota yang teratur, indah, dan sempurna.

 

Monaco di mata gue adalah Singapore Van Europe. Salahkan gue yang bersikap subjektif, pilih kasih dan tidak adil. Monaco memang bukan Singapur dan gue tidak tinggal cukup lama di sana untuk main hakim sendiri.

 

Tapi tinggal di Singapura telah menyadarkan gue bahwa hidup seharusnya memang tidak sempurna. Tanpa cacad bukanlah ciri alami kehidupan dan karenanya, sesuatu yang sempurna pastilah punya kekurangan besar. Atau kalaupun memang sempurna, dibuat dari sesuatu yang artifisial.

 

Singapura memang cantik, teratur, bersih, rapi, hijau, surga belanja. Tapi semua itu diciptakan dengan menghilangkan sisi manusiawi masyarakat penyusunnya, dalam sistem persaingan ketat yang menyingkirkan mereka yang dianggap tidak layak. Semua unek-unek yang gue tuangkan dalam buku After Orchard itu.

 

Dan, berada dalam kota yang cantik, teratur, bersih, rapi, hijau, surga belanja (merk) ini membuat gue bertanya-tanya jikalau ada hal yang sama salahnya bisa terjadi di sini. Gue tidak merasa ini adalah kota sesungguhnya, tempat orang sungguhan hidup. Setidaknya, gue tidak merasakan ada orang yang tinggal di kota mungil ini. Semua adalah turis, dan orang kaya yang hanya bisa gue khayalkan itu.

 

Toko-toko dengan serempak tutup jam 7 malam. Seolah-olah satu kota tidak ada yang butuh duit. Bahkan tidak ada imigran-imigran Asia yang suka jualan souvenir 24 jam nonstop itu. Satu-satunya tempat atraksi yang menurut gue cukup seru, hanyalah Jardin Exotique, taman kaktus yang tentunya tidak untuk dikunjungi lebih dari sekali.

 

Meski hidup dalam kenyamanan hotel bintang lima, gue tetap jauh lebih lega saat bertandang ke kota-kota pinggir Cote d’Azurre lainnya seperti Cannes dan Nice. Sama cantiknya, lautnya masih tiga warna dan langitnya masih biru terang, tapi bahkan kota-kota ini terasa lebih hidup dan lebih nyata dibandingkan Monte Carlo.

 

Tentu saja selain sama-sama city-state, sama-sama sempurna dan sama-sama tidak punya banyak atraksi wisata, Monaco tidak punya kemiripan lain dengan Singapura. Setidaknya, warga Monaco lebih ramah dan punya pantai sungguhan…Malah Monaco punya kemiripan lebih dengan Indonesia. Benderanya sama!

 

Monaco dan Southern French bisa diintip di sini!

21st November 2010 | 4:58 am |

11

Respon
  1. Berarti kota impianku yaitu London adalah kota “sempurna” karena banyak fasis bola di sana (yg kadang bikin rusuh) sebagai penyeimbang hehe. Tapi belum pernah ke sana sih hehe

    andisturbia | March 24, 2013 | 13:58 |

  2. Hi… again Marg! kayanya elo bakal lebih perfect jika kelak mengulas perjalanan humanisme seorang backpacker ( itupun kalo tantangan sbg torist ala borjuis udah ngebosenin )… Tapi dengan sekarang lo menantang perasaan dan pikiran lo merasakan 5 stars accomodation services, sambil terus menantang idealisme loe sendiri… kayanya bisa jadi suatu saat nanti lo akan memaksa masuk perjalanan2 baru yg lebih “nyeleneh” bahayanya… he he he tarohan nyoook :)

    Tapi ya secara elo sekarang masih muda ceria, dan ramalan gw juga belon tentu nyata pa kagak, sebuah keberuntungan merasakan segalanya mulai dari passion lo sendiri… wah wah wah rejeki ‘intangible’ nomplok dimasa muda … so good to hear you still adore with the real not fake appearances :D~

    Menyinggung interaksi manusia di berbagai nilai perkotaan yang elo kunjungi, jika terus berlanjut dengan curiosity yg makin dalem… biasanya sih akan membuat lo masuk kedalam analisa sejarah budaya, kiblat ekonomi /industri, bahkan yg paling ga enak konspirasi politik… Gw punya formulasi yg rada reduksionist, kalo dalam kehidupan masyarakat itu yg gampang dibuat susah, yg normatif jadi eksklusif maka itulah tanda2 hadirnya sebuah konspirasi :)

    Soal Spore van Europe, gw jadi penasaran bagaimana kota ‘panggung’ seperti montecarlo menyembunyikan kehidupan nyata warga negara asli mereka, nilai-nilai manusia dan politk seperti apa yg mereka anut ? Freemasonria atau Religius atau Kapitalis murni ? Apakah ada mekanisme stabilisasi politk ala ISA nya Spore dengan mengkaitkan perlindungan NATO ? Wuih lo bikin proposal penulisan buku kaya gitu cui, kan dapet sponsor tinggal 4 taon di Monte carlo bukan ? *blink* *blink*

    Well however Good opinion of Montecarlo from you Margie, Lanjut Gan !

    qnoyzone | March 24, 2013 | 13:59 |

  3. @qnoyzone Jiahahaha…yg ada gw diusir lagi dari Monte Carlo kaek dari Singapur!! Lha ngejelek2in negara orang lagi!hihihi… Itu yang mnurut gw membuat MOnaco terasa ganjil, karena nilai2 manusia dan politiknya terasa gak jelas, ga seperti kota2 lain yang semua ‘warna’nya terlihat bahkan dari bbrp hari aja… Kalau kata Oknum R, mungkin memang sudah nggak ada, yang miskin, yg nyeleneh, uda diusir semua!! hehehe

    margarittta | March 24, 2013 | 14:00 |

  4. @andisturbia Mungkin begitu! hahaha..Yang rusuh itu pertanda kewajaran.. :P

    margarittta | March 24, 2013 | 14:04 |

  5. … Ha ha ha apa iya ya menjadi spesifik dan punya produk unik itu harus berisiko dianggap ‘ancaman’ ? Lha kalo memang iya ya so be it lah… Kewl juga punya temen spt oknum R itu , infonya soal ‘genocide’ kaum urakan dan miskin dari eropa yang serba bersih itu ‘lucu’ juga… dan baru keliatan ‘lucu’ beneran begitu ada demo kaum buruh dan pekerja yg sangat kompak di seluruh perancis itu… Mungkin memang di Perancis demografi penduduknya begitu heterogen sehingga susah kemanusiaan disembunyikan ?

    Ah Monte carlo yg gw bayangkan memang sepanjang jalur lintasan sempit F1 di tengah jalan2 kota, Spore belakangan mengikuti cara yg sama demi image kota wisata… yang laen image romantis ex aktris hollywood grace kelly yg jadi mantan ratu negeri itu… yg laennya selintas kemewahan yg tak terperi… pencitraan yang hebat, jika saja ada kisah manusiawi ‘asli’ dibaliknya … jika saja, andai nanti… :)

    qnoyzone | March 24, 2013 | 14:04 |

  6. So what constitues as “human factor”? Singapore is more of “Human Factor(y)” everyone coming from a conveyor belt living life according to a script. No “adapt, adjust & accomodate” in Singapore :)

    asubmani | March 24, 2013 | 14:05 |

  7. @asubmani Huehehe..I actually wrote something similar as one of the titles in my Singapore book, The Baby Factory, as everything is soo well-planned, and no room for uniqueness. I’ve learnt my singapore lesson! Hehehe…imperfection is human’s trait.. :D Thanks for visiting my site!! :) Back in Malaysia yet?

    margarittta | March 24, 2013 | 14:06 |

  8. 3 bulan lg di situ, mungkin lo udah bisa nemuin boroknya Monaco, mar. itu juga kalo lo belom mati stress di sana. ehehehehe…

    lelylunlan | March 24, 2013 | 14:07 |

  9. @lelylunlan Huahahaha…Perlu riset itu!! Tapi nggak ad yg maw ngebiayain risetnya.. :P

    margarittta | March 24, 2013 | 14:17 |

  10. hmmm… that’s a good side of monaco that u havent share it with me. but i do agree with u. and the fact is, perfectness can be immediately be boriiiing… because, it’s all the flaws that makes it perfect.for a city, as well as a human…

    adeirra | March 24, 2013 | 14:18 |

  11. @adeirra Neng adeee…you’re back in perblog-an!! hhehehe..uda ga raker kamu lg ye…Agree with you! Loving my imperfect, dusty, ugly, Jakarta! :D

    margarittta | March 24, 2013 | 14:25 |