Temen Makan Temen Makan Temen Makan….

A temen deketnya B. C teman dekat saya. A dekat sama saya. B berpacaran dengan C.A dan saya tidak cocok.B dan C putus. A sekarang dekat sama C.

Bingung kan?

Kerumitan hubungan pertalian persahabatan dan perkasihan yang berlangsung diantara kami berempat memang sedikit tinggi tingkatannya dibandingkan kerumitan soal matematika aljabar turunan 10 dalam final kompetisi matematika tingkat provinsi tahun 2002.Jika soal yang menggagalkan cita2 gue punya piala tersebut punya jalan penyelesaian yg jelas, berstruktur dan objektif; tidak demikian dengan kisruh soal ABC dan saya.

Langkah penyelesaian tidak berstruktur dan tidak rasional ini juga melibatkan factor-faktor yang awalnya tidak ada dalam soal, misalnya E sebagai mantan pacar A, F sebagai teman dekat bersama saya dan C, atau factor X; misalnya siapa yang lebih cantik, saya atau C? Juga penyelesaian tidak selama berakhir dengan notasi =; karena terkadang ada pihak yang merasa dirugikan; dihancurkan; lalu bunuh diri. Dan yang paling membuat soal cerita ini jadi bisa memakan waktu bertahun2 untuk dipecahkan…karena penyelesaian objektif nyaris mustahil dicapai.Perasaan masing2 pihak yang maha subjektif; air mata dan nilai moral dalam masyarakat sangat sering mengintervensi tahap diskusi dan dialog.

Karena tingginya tingkat kesulitan penyelesaian inilah, seminggu ini gue cukup diribetkan; membuat gue harus menanggalkan kebiasaan rutin gue, seperti chatting, facebook dan nge-blog. Sungguh menghambat aktivitas! Oleh karena itu, berbekal jam terbang tinggi dalam hal dimakan dan memakan teman; gue bermaksud membuat PANDUAN MAKAN TEMAN. Panduan ini gue bayangkan berbentuk buku saku, yang bisa menjadi sebuah textbook jurusan sosiologi, sama seperti sebuah textbook matematika yang menjadi buku wajib semua siswa jurusan IPA. Berikut ini ringkasannya:

BAB SATU: APA SIH MAKAN TEMEN ITU?
Pencipta istilah makan temen mungkin adalah orang yang sangat rendah hati sehingga menolak diidentifikasikan, atau mungkin cuma sekadar malu menjadi orang pertama yang makan teman. Tapi kira2 makan temen itu mencakup:
1. Selingkuh dengan pacar teman
2. Pacaran dengan gebetan teman
3. Pacaran dengan mantan teman
4. Menggebet pacar teman
5. Menggebet gebetan teman
6. Menggebet mantan teman
Akan tetapi, bahkan dengan keenam kategori tadi, tetap saja banyak keambiguan, misalnya: apakah berpacaran dengan kakak teman lalu mencampakkannya begitu saja termasuk makan teman?

Sama halnya dengan kasus ABC gue tadi.Meski masuk kategori nomer dua, teman dekat gue si C merasa dirinya tidak makan teman. Alasan: bukan dia kok yang pdkt duluan. Tetapi tetep aja, C jadi serba ga canggung setelah terdeteksi dekat dengan mantan gebetan gue tersebut. Beliau menjadi super ramah, super dermawan, super rajin kalau gue suruh2, mengindikasikan bahwa beliau memang merasa telah memakan gue.

BAB DUA: MAKAN TEMEN ITU SALAH GAK SIH?
Sebenernya definisi makan temen yang rancu itu berasal dari kerancuan moral tindakan tersebut. Seandainya aksi makan teman merupakan sesuatu yang mulia dan heroik, tentunya semua orang tidak akan malu mengaku telah makan teman.

Akan tetapi, dalam sosialisasi, manusia banyak menciptakan batasan2 agar hak2 setiap individu tetap terlindungi. Pacar teman, misalnya, adalah sebuah hak personal sang teman, dan maka dari itu, makan temen itu..salah! atau setidaknya, akan timbul sedikit rasa tidak enak karena telah memakan temen, seperti rasa mual yang muncul setelah makan sebongkah kue ulang taun sendirian.

Jujur pribadi, mungkin karena pemahaman moral yang rendah, gue tidak melihat sisi buruk dari aksi permakanan teman tersebut. Di era globalisasi seperti sekarang ini…semua bisa jadi ajang kompetisi. Bukankah lebih baik jika si gebetan yang maha sempurna jadi milik orang yang kita kenal daripada jatuh ke tangan orang asing ? Kaek temen gue, oknum R, seorang pemakan temen dan penggemar Cinta Laura.Menurut dia, kalau dia lebih ganteng dari temannya dan pacar temennya supermodel, mengapa tidak mereka membentuk pasangan yang lebih serasi?

Dan coba tempatkan diri kita pada posisi si pemakan teman, sungguh sangat sulit menahan godaan jodoh yang sempurna, bahkan meski sang arjuna/dewi bersanding dengan teman sendiri. Pas gue SMP, temen gue, seorang juara III gadis sampul punya pacar model super ganteng. Gue dan teman2 yang lain waktu itu sepakat akan menjadi sedekat mungkin dengan pasangan tersebut, sambil rajin berdoa agar mereka berdua cepat putus. Dalam hati, kita lebih memilih punya pacar cover boy daripada punya temen gadis sampul, atau kalau disingkat : lebih milih pacar dari temen. Sayangnya ketika mereka putus, sang lelaki sudah jadi bintang layar lebar, dan tentunya kami jauh dibawah standar pergaulannya. Tapi meski tidak terlaksana, dalam pikiran kami sudah terbentuk niat untuk makan temen.

Kalau ada hal lain yang lebih relevan dalam mencegah gue memakan teman, itu adalah status social. Gengsi aja rasanya buat gue untuk dapet bekasnya temen; berbekal prinsip gue lebih memilih jadi yang pertama daripada yang terakhir.Apalagi kalau temen gue punya penyakit kelamin. Ngeri.

BAB 3: KARAKTERISTIK MAKAN TEMEN
Berdasarkan pengamatan gue, orang yang berasal dari lingkup homogen menjadi lebih rentan terhadap kasus makan temen.Tentunya, ini sangat subjektif, hanya berdasarkan kondisi bekas SMA semata. Coba dilihat kasus gue yang lain ini: ada 5 orang bersahabat akrab dari sekolah homogen pasangan sekolah homogen gue. gue dekat sama si No.1. Tapi karena si No.1 itu baru putus sama pacarnya, gue menolak jadi pelarian. Maka gue dekat sama si No.2. Hubungan kami kandas dan si No.1 punya seorang pacar. Ga seneng hati, saya jadi dekat sama si No, 3 dan No. 4. Belakangan, mantan pacar si No.1 malah jadian sama si No.5. Dan No.1 jadi dekat sama pacar si No.2. Nah, sekarang coba bayangkan bahwa kasus yang sama, terulang dalam tiap kelas, di masing2 sekolah. Rumit bukan? Maklum, pool lawan jenis kami super terbatas, sehingga akhirnya timbul mindset yang memahfumkan tindakan makan temen tersebut.

Dalam pengamatan gue yang lain, biasanya cowo itu lebih cepet get over it dari cewe. Get over itu entah balik jadi temen deket seperti dulu, atau berhenti ngomong sama sekali. Apapun hasil akhirnya, tapi case closed dan tidak dibuka2 lagi. Misalnya kembali ke kisah ABC, ditanya apakah B bakal sakit hati mengingat C adalah mantannya, A menjawab dengan santai, “kami ini temen sedaerah, teman dekat, ga ada hubungannya sama wanita dong…” dan mereka hingga saat ini masi tinggal dalam apartment yang sama. Sebaliknya, kaum wanita biasanya akan menyimpan rasa dendam selama beberapa waktu, mengikuti periode jambak2an dan gampar2an.

BAB 4: MENJADI PEMAKAN TEMAN YANG BAIK
JANGAN TANGGUNG-TANGGUNG! Maksudnya, jika memang pengecut dan takut ngaku, langsunglah kawin lari ke Siberia! Mungkin setelah 20 tahun, bolehlah kembali menyegarkan tali persahabatan yang telah terkubur dengan sehelai permintaan maaf….Tapi jika emang jujur, jujurlah dari hari pertama gejala makan temen muncul. Hal ini akan mengurangi rasa sakit hati sekaligus mempersiapkan yang dimakan untuk menerima kenyataan.

JANGAN MENOLEH KEBELAKANG! Setelah berhasil memakan temen, jangan sekali2 menyebut nama temen yang dimakan itu di hadapan pacar baru. Salah2, si pacar ini jadi tumbuh rasa bersalah dan sujud minta maaf kepada temen yang telah dimakan tadi.Dan kalau temen yang termakan tadi itu sudi memaafkan, alamat yang dimakan jadi memakan, dan demikianlah rantai makanan ini membentuk lingkaran sempurna…Tentunya kita tidak mau hal ini terjadi karena bagaimanapun, dimakan tetep kurang enak.

BAB 5: DIMAKAN TANPA KECEWA
Err..tips dari gue Cuma…RELAKANLAH! Kalau pacar/gebetan/mantan gue itu cukup bajingan untuk mencampakkan gue demi temen gue, bukankah itu brarti gue telah dihindarkan dari kecanggungan yang lebih mengerikan jika suami gue nantinya mengambil teman baik gue sebagai istri kedua ? Peliknya dilema yang akan gue hadapi karena keinginan menyantet dihalangi kasih persaudaraan akan menjadi sangat tidak terperikan….
But then again, balik lagi ke soal ABC, sebenernya kasus makan temen terkadang bisa mengarah ke win win solution kok. C teman baik gue itu jadi senang karena dapat gebetan baru. Dan gue juga cukup senang, karena gue dapet pembantu berwujud C yang bersedia melakukan apa saja untuk menebus dosanya. C tidak pernah tahu bahwa gue telah menolak A dengan alasan gue memiliki pacar serius di Jakarta, yang sudah bersama sejak kuliah, yang sekarang sudah mapan; dan bahwa kami sudah bertunangan dan akan menikah selepas kelulusan nanti. Sebuah bualan impian yang gue lontarkan jika penyakit malas gue, termasuk malas berpacaran, malas trima telpon dan malas jalan2, kambuh kembali….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *