Ugly Path in that Beautiful Plan: Renungan dari Santorini

Confirmed! This is the ugliest airport on earth.

 

Kami sedang duduk di lantai berdebu di tepi bandara Santorini bak pengungsi yang ditolak, menghadapi angin malam pantai yang mulai mendingin, ditumpuk 6 koper besar yang baru bisa di-check-in-kan 2 jam sebelum keberangkatan. Itu 4 jam lagi.

 

Ya tentu saja, ada bandara yang lebih kecil dari ini. Bandara Susilo di Sintang, Kalimantan Barat dengan ruang tunggu di warung indomie depan landasan juga lebih kecil. TAPIII kan tidak melayani penerbangan internasional dari Paris, Roma, Barcelona dan Madrid!

 

Otomatis, bandara JTR ini sudah mau meledak. Bau pesing menyeruak dari WC. Tempat duduk hanya 10 buah dirantai gembok. Jangan coba-coba nanya password WIFI. Dan kami, sudah pasti memilih berada di mana kek asal jangan di sini. Kami harusnya ada di Nice!

Sesaat kami merunut-runut bagaimana kami berakhir di Santorini. Jadwal kami adalah Barcelona, Madrid, Granada. Kandidat terakhir adalah Santorini atau Nice. Dari awal kami memang ingin pergi ke salah satu kota di Perancis Selatan. Mamih pengen beli LV bebas pajak lagi, tapi kalau ke Paris kejauhan.

 

Nice muncul sebagai kandidat ideal. Banyak penerbangan dengan jadwal yang cocok. Gue pernah ke sana satu kali, kotanya cantik, ada Baie Des Anges yang rapi dan indah menatap  Côte d’Azur yang lautnya bener-bener bewarna azzuri. Pusat perbelanjaannya besar, semua merk ada.

 

Seandainya kami memilih Nice, rute kami akan menjadi Barcelona-Granada-Madrid-Nice-Barcelona. Kami akan berada di Nice tanggal 13-15 Juli. Dan 14 Juli, malam kami ngedeprok di ubin Santorini itu, kami bisa menikmati festival Bastille Day, beli LV sambil makan king prawn.

 

Tapi entah demi alasan apa yang sekarang pun kami tidak ingat, kami malah milih ke Santorini. Penerbangan jam 1 pagi dari Madrid balik jam 3.30 subuh ke Barcelona. Disambut sama tanjakan maut sambil bawa koper 80 kg yang rodanya langsung menggilas kotoran keledai di sepanjang jalan.

 

Sudah pasti kami merasa salah pilih. Mamih mulai menyalahkan menantu yang bilang Santorini cakep. Maneee.. Rumah atep birunya aja Cuma 2! Begitu ia protes. Kami tiba di Barcelona tanggal 15 dini hari dalam keadaan kurang tidur, bosan, kesal.

 

Lalu ketika tiba di hotel, kami menonton TV. Puluhan orang meninggal dalam aksi teror. Di malam kami seharusnya berada di lokasi. Bukan hanya risiko yang tak terbayangkan jika kami pergi ke Nice, tapi kondisi kota mungkin hectic keesokan harinya menyulitkan kami terbang pulang.

 

They say, it’s the bus ride that you miss. The train schedule that suddenly changes. The alarm clock that never ring, might be the things that could save your life.

 

Gue jadi teringat pesan di kisah-kisah Chicken Soup for the Soul itu, bahwa kadang kondisi yang tidak diharapkan justru menyelamatkan. Gue tidak bisa membayangkan, bagaimana jika semua doa, harapan dan keingingan gue dipenuhi Tuhan. Pasti jadinya bencana.

 

Lelaki yang gue tangisi dalam doa semoga tidak meninggalkan gue, ternyata psikopat. I might not survive his murder plan. Order yang tidak kian datang setelah 3 kali Salam Maria, ternyata telah membangkrutkan 14 dari 20 perusahaan yang mendapatkannya.

 

Bahkan gue merasa kini bahwa SANTET yang menimpa gue dua tahun lalu sungguh terjadi atas sepengetahuan Yang di Atas. Karena mungkin hanya itu yang bisa menghentikan keras kepala gue mengejar sesuatu yang nggak ada.

 

Tanpa santet, gue akan terus hidup dengan sihir yang menurut gue lebih mengerikan lagi, terus bekerja rajin di perusahaan yang bukan punya sendiri, dan tidak akan kepepet melanjutkan dagang manggis yang kelanjur terjual.

 

Tentu saja pas gue terbaring miskin dan muntah-muntah gue tidak merasa demikian. Tentu saja gue protes mengapa Tuhan mengambil semua dari gue dan membiarkan ada orang sejahat itu hidup.

 

Tapi seperti kata seorang teman lelaki, “Tuhan Yesus tuh maunya loe dagang buah! Kalau kawin mah pembantu loe juga bisa, supir gue juga bisa, tapi siapa yang bisa jualin manggis, jualin kelapa sampe ke Eropa?”

“Lah dua taon lalu loe bilang gue suru kurang-kurangin, ga usah bisnis, jangan terlalu sukses karir, pegimana sih? Gue langsung memprotes.

“Yaa.. kan gue bilang itu Tuhannya eloe, kalau Tuhan gue mah belom tau maunya begimana!” Demikian ia mengeles.

 

Mungkin memang benar, the plan is always perfect. Dalam hidup, gue mungkin tidak bisa menghidari orang jahat, pengkhianatan, atau kerugian. Tapi mungkin gue telah dihindarkan sebelum tahu seseorang adalah jahat, dikhianati untuk diarahkan ke sebuah keuntungan, atau dihindarkan dari rugi besar dengan sebuah rugi kecil.

 

Karena seperti yang gue temui liburan ini, terkadang kita memang dipaksa masuk jalan rusak menanjak menginjak tai kuda yang bikin linu. Tapi jalan ini mungkin lebih baik daripada jalan lebar rapi penuh toko belanja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *