Wanita Karier

“Ga usah kawin, dhe Gy!  Nggak bisa ngapa-ngapain, kerja aja susah!”

Gue menatap aneh mencoba mencerna saran yang baru gue terima, lalu, menganggap saran tersebut datang dari seseorang yang berlatar belakang cukup kredibel, memutuskan untuk menjalankan nasihat tersebut bulat-bulat.

Tentu saja, gue sering mendengar anjuran sedemikian. Kalau itu datangnya dari orang tua, gue hanya akan manggut-manggut, masuk kiri keluar kanan. Namanya juga orang tua. Mana ada yang menganggap buah hatinya bukan bintang tercerah di galaksi bimasakti ini. Semua lelaki yang bukan keturunan Ratu Inggris atau Cendana bakal dianggap hanya akan menghambat anak perempuan tersayangnya.

 

Kalau itu datang dari teman sebaya perempuan yang belum nikah, gue akan menjawab tertawa-tawa sambil tos-tosan, kalau bisa pakai gelas martini. Itu namanya solidaritas. Anjuran yang diberikan lebih merupakan curhat colongan belum dapat jodoh daripada pandangan yang jujur. Belum tentu merasa begitu, tapi karena belum dapet, ya coba dicari sisi positipnya.

 

Kalau itu datangnya dari teman laki-laki, gue akan mendelik keki. Biarpun mungkin setuju dengan pernyataan tersebut, gue tetep akan menunjukkan keberatan, selayaknya wanita pada umumnya. Enak di elu ga enak di gue! Terus gue ngapain digantung? Loe gampang, lelaki, tua-tua keladi, lha gue?

 

Tapi kalau anjuran tersebut datang dari seorang perempuan yang lebih tua dan sudah menikah? Mungkin ada perlunya mempertimbangkan hal ini. Mungkin dengan usia yang lebih matang dan pengalaman, beliau telah membuktikan bahwa memang tidak mungkin punya profesi sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier secara seimbang.

 

Membuat gue yang di usia merenung dan refleksi ini jadi bertanya-tanya, is that really true? Bahwa sebenarnya memang tidak memungkinkan untuk menjadi ibu dan istri yang baik dan di saat yang bersamaan, menjadi wanita karier super sukses?

 

 I would love to think that wonder women really exists. Perempuan super yang menjadi ibu dari lima anak, menyusui tiap anaknya satu per satu, menyiapkan sarapan pagi, mengajari matematik, membimbing doa sebelum tidur, melayani suami dua kali semalam tiga kali seminggu, DAN menjadi Chief Executive Officer di perusahaan multinasional dengan 150 karyawan, memimpin rapat regional, menaikkan keuntungan perusahaan berdigit-digit, serta memperhatikan kemajuan anak buahnya.

 

Contohnya juga banyak. Pengusaha-pengusaha perempuan sakses yang menjadi role model majalah-majalah wanita, dengan kisah karier sumringahnya, dilengkapi foto saat berlibur dengan segenap anggota keluarga. Tetapi karena salah pergaulan, gue tidak pernah bertemu poster clean & bright tahun 70an yang nyata ini dalam hidup terdekat.

 

Beberapa orang teman yang mencoba hidup bersama mendapat kendala munculnya bentrok-bentrok kecil. Sabtu dan Minggu sudah tidak bisa lagi jadi waktu untuk mengejar ketinggalan tugas-tugas kerja. Sabtu-Minggu itu waktunya refreshing bersama pasangan, bahkan jika momen rekreasi itu malah jadi bikin setres karena teringat kerjaan yang belum tuntas.

 

Beberapa yang sudah menikah, sudah tidak bisa lagi pol-pol-an dalam karier. Jam enam sore sudah dijemput suami. Di rumah, pantang pegang BB. Mana bisa karier dibatasin jamnya? Otomatis tidak bisa lagi tampil menonjol. Lagipula, buat apa tampil menonjol jika nanti malah bikin insecure dan berantem di rumah?

 

Kenalan yang lain, anaknya bos perusahaan. Dari luar, terlihat sempurna, cerdas dan punya kisah karier mengikuti ibunya. Tapi iapun mengakui kekurangan kasih sayang seorang ibu. Kerabat yang dekat akan segera menemukan sisi psikis yang mengganggu yang mungkin takkan muncul seandainya…hanya seandainya…ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa.

 

Gue sendiri, sering berbangga hati merasa bisa membagi waktu dengan sempurna. Selalu punya pekerjaan beraneka ragam, kuliah overload, dan tidak pernah juga menjalaninya sendirian. Tapi terkadang, guepun masih berandai-andai bagaimana karier gue seandainya tidak disibukkan dengan urusan domestik hingga harus pindah arah karier.

 

Di usia belum lulus gue sempat ditawari posisi bergengsi kantor regional bidang marketing. Namun pekerjaan marketing itu, apalagi di Singapura terlihat seperti pekerjaan orang single banget. Mengurusi event berarti banyak waktu di luar dan mikirin sampai kecil-kecilnya. Brainstorming berarti otak hanya jadi punya kerjaan sampai idenya ketemu.

 

Sukses menjomblo karena menjajalnya, gue memutuskan memulai studi di bidang konten, dan bekerja di dalamnya hingga kini. Tentu dengan berandai-andai jika gue memulai karier dua tahun lebih awal di pekerjaan yang membutuhkan lima tahun pengalaman. Secara total, gue mungkin tujuh tahun lebih maju dari sekarang.

 

Bahkan saat ini, gue mendapatkan kesulitan untuk berbagi waktu dengan orang-orang terdekat. Bertemu aja nggak tiap hari. Pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi. Sejujurnya, gue masih belum juga mendapatkan formulanya. Diitung-itung bolak balik, kecuali gue diberi lebih dari 24 jam sehari, budget waktunya masih belum masuk.

 

Coba itungan berikut ini:

Waktu yang diperlukan untuk mempunyai Karier yang baik:

Kerja sesuai jam kerja             : 9 jam

Perjalanan PP ke kantor             : 3 jam

Waktu lembur                        : 3 jam

Total                           : 15 jam

 

Waktu yang diperlukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik

Membangunkan, dan menyiapkan untuk ke sekolah                     : 1 jam

Menyiapkan sarapan, makan malam dan makan siang bergizi           :  2 jam

Makan malam bersama seluruh keluarga                              : 1 jam

Membimbing belajar                                                : 3 jam

Menemani nonton TV atau bermain agar tidak salah pengertian       : 2 jam

Doabersama                                                        : 30 menit (bisa kurang)

Sex                                                               : 2 jam (bisa juga kurang)

Total                                                   : 11.5 jam

Jika keduanya ditotal, nilainya adalah 26,5 jam, lebih dari 24 jam dalam sehari. Itupun, tanpa menghitung waktu tidur, mandi dan dandan. Memang, ada bagian yang bisa dikurang-kurangi, tapi back again, aturannya adalah untuk menjadi YANG TERBAIK. Seks bisa dilakukan dalam 10 menit, doa juga cukup 2 menit, but who would then say that you are the best wife and mother?

 

Alangkah sulitnya kalau begitu menjadi wanita! Di satu sisi, perempuan diharapkan akan mengikuti kodrat blahblahblahblahnya untuk melahirkan dan menjadi seorang ibu yang baik. Secara penuh menjadi ibu rumah tangga sejati, yang mendukung suami dan memastikan anak titipan Tuhan itu tumbuh menjadi anak yang manis dan pintar.

 

Kalau memang aturannya begitu, gue sih nggak keberatan. Gue bahkan selalu menyatakan kepasrahan gue untuk menganggur dalam jangka waktu yang lama. Jika karier gue adalah menjadi ibu rumah tangga yang sukses, mengurus anak lalu di sela-sela waktu sekolah dan ekskul mereka, gue mengisi waktu dengan kursus merangkai bunga dan manicure, so be it!

 

Tapi bahkan, memilih saja sulit. Kadang perempuan tidak punya pilihan lain selain menempuh jalur karier dan melupakan jalur kerumahtanggaan. Hal ini disebabkan oleh nihilnya kesempatan menikah sebelum lulus kuliah. Akibatnya, demi menyambung hidup dan menjamin kebahagiaannya sendiri, si perempuan harus berfokes pada karier dan mati-matian dalam bekerja.

 

Nggak mungkin dong, perempuan macam gue akan tidak ngoyo dalam kerja dan lebih banyak mengisi waktu dengan nongkrong-nongkrong dan cari kenalan. Risiko! Kalau dapet! Kalau kagak? Alamat bisa tidak sejahtera lahir dan batin! Tapi buntutnya, karena terlalu sibuk bekerja, terjadilah kesalahan yang sering disebut itu: Nggak sempet nyari suami , sih! Dan berakhirlah perempuan itu memilih karier seumur hidupnya.

 

Dalam kasus lain, perempuan harus menjalankan kedua pilihan itu meski sama-sama tidak dipilih. Kalau punya suami seperti yang diharapkan si Mamih, yaitu Pangeran Harry atau Pangeran Cendana, ya pilihan ada di depan mata. Tapi kalau punya suami yang penghasilannya pas-pasan? Bukan satu dua pasangan yang harus bekerja banting tulang kedua-duanya demi menyekolahkan anak. Dan dalam hal ini, yang perempuan tetap harus mengurus si anak yang disekolahkan.

 

Maka kembalilah perempuan itu harus memilih secara tanggung. Biasanya, akan punya fokus lebih banyak mengurus keluarga, meski mengakibatkan perempuan itu menjadi pekerja ‘tanggung’ yang tidak berpencapaian dan tidak akan dikenang bangsa. Dengan keironisan lain, tetap menerima keluhan dari anak-anaknya yang merasa mama terlalu sibuk.
Alangkah sulitnya jadi perempuan!

 

Sedang misuh-misuh karena sulitnya pilihan menjadi perempuan, gue membaca sebuah majalah edisi tahun 2001. Kolumnisnya, seorang pria, mengeluh, betapa sulitnya menjadi seorang pria. Ia harus peka, sensitif, cukuran, punya badan bagus, cukup olahraga, minum suplemen, punya 1000 cara membuat perempuan ketawa, punya pengetahuan umum yang luas, punya 1000 cara menyenangkan pasangan, and this is just in bed.

 

Di luar itu, masih ada seribu kriteria termasuk meraih karier yang gemilang dan aktif dalam lingkup sosial yang tepat. Ternyata kaum pria juga punya masalah yang sama dengan perempuan sejak dahulu kala. Jadi perempuan dan jadi lelaki sama susahnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *