Kebencian yang Mengalir Sampai Jauh

Apa hubungannya Presiden Prancis Macron dengan Pak Adi petani jeruk purut?

Ya nggak ada dong, gimana sih, kan kita yang boikot produk mereka, bukan kebalikannya… Eh gitu kan ya?

Di dunia yang terkungkung dan tidak saling terhubung, saat matahari bersinar cerah dan burung-burung berkicau, memang tidak ada hubungannya. Di dunia yang sedemikian, seruan boikot juga mungkin tidak akan terjadi. Prancis sibuk aja gelut sendiri. Indonesia, juga.

Tapi kita hidup dalam dunia yang saling terkoneksi. Dan di dunia semacam ini, sejauh kebaikan yang bisa mengalir hingga kembali pada pelakunya, pay it forward istilahnya, demikian juga kebencian, punya kemampuan untuk mempengaruhi orang-orang yang jauh dari jangkauan, bahkan hingga muter kembali ke diri sendiri.

Secara tidak langsung dan muternya mayan jauh, terjadilah siklus sebab-akibat yang menghubungkan Macron dan Pak Adi sebagai berikut:

  1. Periode akhir tahun adalah pesta ekspor buah eksotis. Banyak perayaan, banyak makan-makan di restoran. Dan perasan jeruk purut, adalah salah satu jenis komoditas yang paling digemari mewarnai pesta haram mabuk-mabukan dengan cocktail atau bir, serta simbol ketamakan makanan gourmet yang seemprit porsinya dihargai gaji UMP Jawa Barat, kadang juga berakhir sia-sia terbuang-buang.
  2. Artinya, periode akhir tahun ini akan jadi masa panen bagi Pak Adi, petani jeruk purut, juga petani manggis serta buah-buah tropis yang dianggap eksotis lainnya.
  3. Oktober 2020, permintaan mulai naik.
  4. Lalu terjadilah yang terjadi… Gelombang kedua COVID dan segala kisruh serta pernyataan Oom Macron.
  5. Kalau cuma COVID, orang masih belanja jeruk dan manggis. Orang tetap butuh makan, biarpun dompet makin tipis. Di saat stok buah-buahan Eropa semakin sedikit dengan turunnya suhu, mulailah mereka mengisi perut dengan buah-buahan dari negara-negara yang jauh ini.
  6. Namun kondisi resesi ini diperparah dengan ekspresi kebencian. Pembantaian, pemenggalan yang menimbulkan rasa teror yang membuat orang makin gak keluar rumah. Malas ke supermarket atau makan di restoran. Nggak tau juga besok apakah masih berdiri negara ini. Makan kentang lagi aja dah. Katanya, tiada buah seharga nyawa.
  7. Restoran-restoran serta supermarket elit tempat jeruk purut berada mulai bertutupan. Permintaan akan jeruk purut menurun. Di hari pembantaian pertama, sebuah pengiriman dibatalkan. Jeruk-jeruk yang telah dipanen diam melongo di dalam ruang berpendingin. Entah untuk berapa lama. Entah kapan lagi ada pengiriman.

Hal yang sama pernah terjadi sekitar dua tahun lalu, ketika gelombang unjuk rasa memekikkan kebencian terhadap keturunan Tionghoa. Pembeli buah salak di Shanghai yang melihat kengerian dari layar kaca berkontak, “apa masih bisa bekerja dengan orang-orang yang ingin membunuh dan memenjarakan kita?”

Sampai berbusa-busa gue menjelaskan bahwa itu cuma OKNUM. Bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih menerima kami dan kami tidak punya masalah sedikitpun berdagang dengan petani-petani kami.

Tapi layar kaca berkata lain. Katanya demo diikuti oleh 7 juta orang. Itu jumlah yang besar kan? Itu mayoritas penduduk Jakarta kan? Dan sedikit demi sedikit, pasar China, pasar terbesar salak, mulai mengurangi pemesanannya.

Hingga saat ini, masih sulit untuk menjawab keluhan petani, “Bu kok, yang ke Cina sepi ya?”

Bagaimana gue bisa menjelaskan, bahwa satu kebencian yang diarahkan pada seseorang, ternyata telah mengambil jalan memutar, menyambit negara lain dan kembali untuk merugikan saudara-saudaranya sendiri? Para petani yang mayoritas saudara seiman? Yang katanya adalah pribumi yang sedang mereka bela itu?

But can we not hate?

Gue tidak untuk menghakimi apakah kebencian itu boleh atau tidak boleh muncul. Kebencian adalah suatu respon otak terhadap rasa tak aman yang muncul ketika eksistensi diri terancam. Sebuah dorongan primal, yang telah membantu manusia dan masyarakatnya bertahan selama jutaan tahun.

Rasa tidak aman manusia kepada ular dalam masa evolusi telah menimbulkan satu aspek benci kaum manusia pada ular, sehingga kita menunjukkan agresi ketika diserang ular, dan menjadi waspada pada sebentuk ular, bahkan yang belum pernah menyerang sekalipun.

Respon pertama guepun, ketika gegara demo surga itu ada rakyat yang tidak jadi makan, adalah mengelegak dengan rasa benci. It’s hard not to hate, if something that we believe in, something that we care for, is being violated by others.

Tapi apakah tidak bisa mengisolir penyebab tumbuhnya kebencian, dan mengarahkan rasa benci itu tidak secara kolektif kepada semua hal yang mempunyai kemiripan?

Bencilah Macron jika pendapatnya terasa tidak tepat, tapi apa perlu karena Macron, semua makhluk kulit putih berkebangsaan Prancis menjadi musuh dan dibantai? Bencilah Ahok jika ia menyakiti hatimu. Tetapi apakah perlu mengusir semua keturunan Cina hanya karena mereka di suatu masa ratusan tahun yang lalu berbagi darah dengan orang yang dibenci?

Tidak bisakah kita sebagai manusia modern yang sudah berkembang jauh kemampuan otaknya, memilah dan mengisolir sebuah insiden, dan tidak begitu saja menuruti insting primal kita? Karena alih-alih memupuk rasa aman, kebencian itu justru malah bisa mengalir begitu jauh, menelusuk orang-orang yang sama sekali tidak pernah melukai kita, bahkan, menghunus orang-orang yang kita cintai.

Gue juga harus belajar tetap memikirkan packers dan petani, yang etnisitasnya sama dengan yang memekikkan ganyang Cina itu. Karena gue tahu, mereka bukan orang yang sama. Mereka bukan orang-orang yang membuat gue merasa tidak aman tinggal di Indonesia.

Jadi, tetep minum Aqua nih biarpun udah dibeli Danone? Nggak jadi dibakarin nih manggis yang naik Airbus? Oh, sungguh terserah! Itu pilihan setiap orang sebagai konsumen, dan kata orang bijak, konsumen itu raja. Raja ga pernah salah.

Akan tetapi, berikutnya mau mengambil keputusan berdasarkan kebencian akan sesuatu, think again. Bagaimana jika aksi itu berbalik dan melukai orang-orang terdekat kita? Will we do what we do? Because hatred goes a long way, and it will find its way, to come back at you.

4 thoughts on “Kebencian yang Mengalir Sampai Jauh”

  1. Handoko Widagdo says:

    Bahkan kalau tidak bisa tidak membenci, Tuhan telah menciptakan iblis untuk dibenci bersama-sama.

    1. margareta astaman says:

      hehehee..halooo pak.. eh tapi nanti berantem lagi.. iblis versi kitab mana yang dijadikan acuan.. 😀

  2. Meisya says:

    Ternyata ada yg sepemikiran.
    Aku pikir cuma aku yg heran melihat betapa reaktifnya orang-orang atas sebuah hal yang masih abu-abu. Yang belum jelas hitam dan putihnya.
    Tetap tebarkan senyum dan pelukan hangat dr tulisanmu ya kak.

    Salam hangat

    Meisya

    1. margareta astaman says:

      yeayy! Toosss… thanks for the support yaa… ayo kita terus tebarkan kebaikan ya.. biar yang jaat-jaat itu tenggelam!!

Leave a Reply to Meisya

Your email address will not be published. Required fields are marked *