Wani Piro Nihi: Yang Berani Dibayar Orang Indonesia di Negara Sendiri

“Mbaknya baru pertama kali ke Nihi?” tanya guest captain kami, sambil mengamati gue yang sibuk motret sana sini. Batu dipotret. Kelapa dipotret. Kayak kerjaan selama enam tahun ini bukan ngamatin foto buah.

“Ya iyalah Kak! Mana berani orang lokal kayak saya dulu main ke Nihi, nggak mampu!” gue mencetus, sambil terus lanjut foto-foto demi memenuhi kebutuhan konten selama tiga bulan. Biar kesannya kayak Brody Jenner, nggak pulang-pulang dari Nihi.

“Rasanya mampu, tapi dihabiskan di luar negeri,” jawabnya enteng, sambil melompati bebatuan menuju villa kami.

Plak. Demikian jawaban itu menampar seperti goyang-goyang kepala kuda Sumba yang tak sengaja mengantuk kepala ketika sedang berenang di laut. Lumayan bisa bikin gegar otak. Bener juga sih… dalam hati gue membatin, meski tentunya yang keluar dari mulut adalah bantahan satu kali lagi, “ya tetap nggak mampu lah! Ke luar negeri juga nggak segitu!”

Sambil mulai menggasak minibar villa yang menampilkan vodka-gin-whiskey mengalir tiada henti, gue mulai memikirkan pernyataan si mbak guest captain, apakah betul gue juga telah menghargai yang jauh lebih dari yang dekat. Memang, alkohol itu suka membuat orang merenung kebanyakan.

Hanjir, ampir sama kayak ke Ostrali! Demikian respon kebanyakan orang ketika mengetahui harga tiket pesawat ke Papua. Meskipun dalam kenyataannya avtur yang diperlukan dalam perjalanan ke Papua itu sebanyak ke Australia, namun dalam kaca mata domestik, perbandingannya menjadi tidak seimbang sejajar sama sisi.  

Papua Barat itu kan Indonesia, dan Indonesia itu berarti domestik. Terserah kata orang Indonesia itu luas banget. Selama visa belum keluar ya berarti dalam negeri. Dan pantang keluar duit banyak buat dalam negeri. No no no… Kalau ke luar negeri baru masuk akal.

Persis seperti kelakuan turis Indonesia yang kalau di Surabaya belanja irit-irit, tapi kalau di Singapura rela ngantri-ngantri dan setoko diborong. Karena Singapura, meskipun hanya sepelemparan galah dari Batam, adalah luar negeri. 

Dan kini, seperti itulah hubungan gue dengan Nihi. Bagi masyarakat kelas menengah ngehe Indonesia semacam gue, Nihi Sumba itu mahal. Mau pakai sebutan paket hemat, low season, yada yada, kalau penginapan angkanya sudah empat berjejer dan dalam dolar ya mahal. 

Tapi apakah gue tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu untuk akomodasi dan berlibur di negara lain? Mungkin pernah. Bahkan total biaya nginap Nihi dengan harga normal sebelum masa pandemi mungkin hanya akan berakhir dalam bentuk satu tas yang ngejogrog di lemari, yang harus diangin-angin setiap Selasa-Kamis, biar nggak buluk saking jarangnya dipakai.

Hanya bedanya, ketika gue dihadapkan dalam pilihan, gue memilih berlibur di Eropah, atau nenteng tas. Apakah karena harga sedemikian terasa pantas bagi hasil karya orang Eropah (atau orang Cina di Eropah) yang melewati ratusan tahapan, dan terasa terlalu banyak untuk biaya pelatihan rakyat pantai Nihi agar bisa memijat secenggih lulusan S1 perhotelan enternasional yang diimpor oleh resor bintang tujuh lainnya?

Selama ini gue menganggap bahwa orang Indonesia memandang rendah sesamanya, hanya berlaku dalam konteks Penjual pada Konsumen. Ingat-ingat lagilah masa-masa kejayaan beach clubs di Seminyak, atau ketika restoran skyview di Jakarta lagi lucu-lucunya. Betapa galaknya si sesembak pada tamu yang berwajah Asia.

Seorang teman pernah ditolak reservasinya karena menggunakan Bahasa Indonesia. Ketika ia menelpon lagi dengan Bahasa Inggris, ia langsung diterima. Semata seolah karena orang Indonesia, melihat bangsanya sebagai bangsa kere yang cuma beli es teh tawar segelas duduknya lima jam. 

Dan semua itu selalu membuat gue marah. Karena gue tahu betul beberapa orang Indonesia asetnya lebih besar daripada cadangan devisa negara lain. Gue bahkan nyukurin, ketika saat ini, resto dan hotel tersebut tidak punya pilihan selain bergantung pada bangsa kere yang adalah sesamanya sendiri. Mampus lu, gak ada pilihan kan… Dan ucapan Mbak Guest Captain mencubit gue, jika gue ternyata telah berlaku sedemikian hina pula. Gue, yang ekspor buah asli Indonesia. 

Tentu saja gue tidak bilang bahwa kecenderungan impor-mahal-lokal-diskon ini tidak berlaku bagi orang-orang di negara lain. Afterall, usaha buah segar yang kami jalankan juga mengandalkan kecenderungan konsumen yang menghargai sesuatu yang jauh lebih dari yang dekat. 

Jeruk purut si buah goib harganya 30 Euro per kilo. Sedangkan buah khaki yang manis mutlak lagi warnanya seragam, itu SATU Euro per kilo. Semata karena jeruk purut dikirim pakai pesawat, sedang buah khaki tinggal metik waktu musim panas dari provinsi tetangga. Jeruk purut jadi gourmet, buah khaki jadi buah terminal. 

Demikian juga gue menerka, londo-londo itu berani menghabiskan uang banyak di hotel terbaik dunia yang kebetulan ada di Indonesia, sedangkan di negerinya sendiri mungkin makan rendang yang diangetin juga.

Gue mungkin tidak akan ngajak sok-sok-an untuk menghargai produk Indonesia lebih tinggi daripada luar negeri. Jangan sampe ajakan semacam ini malah diikuti orang Eropa, bisa gaswat bisnis akutu… Akan tetapi, mari kita bandingkan sejajar sama sisi saja.

Untuk melihat kain tenun pewarna alam itu sama nilainya dengan scarf lukis rumah mode ternama. Untuk melihat tas kulit made in Indonesia itu, layak dihargai senilai tas elpi sukaesih. Dan sebaliknya, untuk melayani konsumen Indonesia, rakyat Indonesia semanis sehormat, ketika melayani para bule perang. Kan bayarnya sama.

Gue mencipak-cipak kaki gue di plunge pool yang menghadap langsung ke laut lepas. Dari berbagai negara yang gue kunjungi, semua punya keindahannya masing-masing. Tapi Indonesia bagi gue adalah negara terindah di dunia. Dan pantai di Indonesia Timur ini adalah salah satu yang terindah di Indonesia. 

Gue membayangkan betapa ribetnya pengadaan infrastruktur di sini. Bikin jalan, dibegal, narik kabel listrik, bikin air sendiri, narik kabel internet, yang begitu ditowel galian pipa air langsung byarpet. Belum lagi training penduduk setempat untuk bisa memberikan pelayanan sekelas hotel bintang-bintang. Pemandangan sekece ini, dan upaya seribet ini, ya mungkin memang harus segitu nilainya.  Jadi ini bukan aksi sok-sokan merasa Jet-Z nongkrong di Nihi. Karena gue sebenernya itu Chiki Coklat! 

2 thoughts on “Wani Piro Nihi: Yang Berani Dibayar Orang Indonesia di Negara Sendiri”

  1. Widya says:

    Thankss Kak Margi 😊 tulisan yg bikin senyum senyum sendiri karna merasa tersindir 🤣

    1. margareta astaman says:

      thank you for reading! wahahahaha.. akupuuunn.. tertampar sama si mbak kapten itu..

Leave a Reply to margareta astaman

Your email address will not be published. Required fields are marked *