“Gy, is he the impact investor we’ve been looking for?” Rekan bisnis bertanya dalam sebuah pitching.
“Inget kata Tante D, malaikat itu nggak ada,” gue merespon pendek.
“Yaa.. kalau angel investor nggak ada, impact investor ada kali, Tan…”
Gue menahan kikik tawa sambil tetap pura-pura serius, kala pitching pagi itu mengirim gue 22 tahun silam, pada seorang perempuan yang kami kodein Tante D, mentor bisnis pertama gue, meski dengan cara yang paling tak biasa.
“Rule number one: There’s no angel in this world, darling,” Tante D itu memaparkan sambil terkekeh kecil dengan mata yang tak tersenyum pada khalayaknya, perempuan-perempuan berusia belasan tahun yang belum genap menyelesaikan pendidikan sekunder mereka
Masa itu, kami sedang mempersiapkan program pensi. Sebagai remaja tak berpenghasilan, kami mencari donatur dari kalangan orang tua murid atau para alumni. Di situlah Tante D hadir, di satu siang usai jam pelajaran, memperkenalkan diri sebagai salah satu alumni yang akan membantu.
Tampilannya semampai anggun di usia akhir 40 jelang 50. Meski sudah mulai ada garis di ujung matanya, kulitnya halus, bersinar, nggak hasil oplas instan. Punya dua anak, tapi badannya 11-12 sama remaja. Busananya nggak keliatan merknya, tapi menjeritkan kemewahan ujung ke ujung.
Tante D, adalah bagian dari salah satu keluarga orang kaya lama yang jika disebut namanya pasti akan membuat semua orang bilang Ooh… Ia orang pertama yang gue kenal pergi Jakarta-Bandung naik jetpri.
“I’ll give you all the money you need, but you must find it. If you can find it, you don’t have to pay. If you can’t find it, you’ll have to pay. But don’t worry, I’ll make sure you can,” tawarnya sambil menanggalkan blazer hitamnya yang tak kusut segarispun. Ia memang selalu berbahasa Inggris.
Kami yang menatapnya terkagum-kagum, layaknya malaikat yang turun ke bumi, manggut-manggut antusias. Baru setelah seorang senior memperingatkan kami bahwa semua itu bukan teka-teki enteng-enteng, bahwa di akhir kegiatan Tante D akan datang menagih semua uang hingga ia tersangkut kasus, kami menyadari bahwa Tante D meant business.
Kami berembug keras, hingga rasa kepepet mengalahkan. Ada beberapa pengeluaran yang memang harus dijalankan sebelum kami dapat dana, seperti publikasi dan material pertunjukkan. “Kita ambil tawarannya, tetapi kita akan anggap ini sebuah pinjaman. Kita tetap akan cari uangnya dan pastikan kita bisa bayar di akhir acara,” demikian keputusan gue.
Dan dengan demikian, dimulailah Squid Games versi anak SMA kami. Uang mengalir, tetapi dengan kontrak yang jelas, yang gue tandatangani secara legal sebagai seorang dewasa yang telah berusia 17 tahun.
Setiap minggu, kami punya tiga rapat. Satu rapat mempersiapkan laporan sebelum ketemu tante D. Satu rapat dengan tante D. Satu rapat mencoba mengartikan riddles, jebakan, dan berbagi tugas. Lalu empat hari bekerja sebelum rapat rangkuman.
Ajaran pertamanya, ya bahwa tidak ada orang baik yang serta-merta mendonasikan uangnya untuk satu kegiatan. Setiap orang punya motif. Dan hanya jika kita bisa menjawab motif mereka, kita akan mendapatkan hasil. Maka untuk setiap donatur potensial kami harus menelaah, siapa mereka, apa latar belakangnya, apa motifnya dan bagaimana kami bisa menjawab motif itu.
Di hari-hari saat internet masih byarpet, Tante D akan membawa buku silsilah keluarganya untuk kami pelajari, siapa dari sekian nama itu yang mungkin bisa menjadi donatur. Atau blueprint marketing perusahaan untuk melihat celah pasar saat menawarkan proposal.
Training tidak hanya berjalan di hari biasa. Dalam sebuah akhir pekan ia bisa mengajak gue ke sebuah restoran hotel untuk mengobservasi sebuah keluarga. “Imagine Margie, what are they talking about? Who is the decision maker? What’s his or her motive? And how do you tap on it?”
Dan dalam prosesnya, gue memang harus menemukan bahwa motif seseorang tidak setulus itu. “So you know the motive?” tanyanya suatu kali. Gue memejamkan mata dan mengiyakan.
“So how much?” tanyanya lagi.
“It’s not for sale,” gue berkata.
“Yes Margie, but how much?” ia menekankan.
“I just never thought of a pricetag,” gue ngotot.
“Yes, but you still need to know how much you worth,” ujarnya lagi. Another riddle.
Di kala lain, dia akan bertanya siapa sasaran tembak dalam tim. Gue menjawab diri gue sendiri, namun dia ngotot, hingga gue menyebut satu nama. Gue tahu Tante D nggak akan berani terlalu macem-macem pada keluarganya.
Jawaban itu nampaknya memuaskan hatinya. “So you’re really as they said, the smartest girl in this holy great school?” responnya dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. Tersenyum dingin, dengan sorot mata yang tajam.
Gue sempat mengeluh karena menjalani hari-hari bak reality show. Dan di masa-masa itu, teman-teman sepanitia adalah yang paling menguatkan.
“Imagine how her son lives,” ujar satu teman setengah menghibur.
“Imagine how her daughter-in-law gonna live,” gue menimpali lalu kami terpingkal-pingkal roleplay jadi Tante D dan mantu. Gue pernah meyakini bahwa jika kami lolos dari kegiatan ini, sang teman pasti diterima di World Bank. Self-fulfilling prophecy, ia akhirnya benar-benar kerja di World Bank.
Dalam empat bulan, kami berhasil mengumpulkan donasi ratusan juta rupiah, jauh melampaui kebutuhan dana kami. Kegiatan berjalan lancar namun Tante D seperti hantu hari itu, tidak ada jejaknya sama sekali. Gue hanya menerima satu telepon sebelum acara berakhir, “Good job dear, I’ve seen everything. See you Monday.”
Hari Senin itu kami siap dengan segalanya. Laporan pembukuan dan sisa uang untuk membayar utang kami lengkap dengan bunga-bunganya kalau diperlukan. Ia datang dengan setumpuk invoice dan perjanjian yang ia simpan copy-nya. “Well done and I declare that this job is finished,” ujarnya sambil merobek semua dokumen di hadapan kami.
“Tante, kalau untuk invoice-invoice ini kami transfer ke manakah?” gue bertanya sekali lagi.
“Which invoice? There’s no more invoice,” ujarnya.
“Kita ada sisa budget, tan.”
“Small money,” ujarnya terkekeh sambil mengibaskan tangan, “but you can use it to have a lot of fun, dear, I’ll close my eyes” lanjutnya. The last test.
“Kami akan masukkan budget pembubaran panitia. Billnya akan kita masukkan ke catatan pembukuan,” gue menjawab.
Maka kami makan-makan. Tentu Tante D lagi yang traktir. Dan sebelum berpisah, gue berkesempatan mengajukan pertanyaan pamungkas, “tante, what’s your motive?”
“Entertainment,” jawabnya sambil tersenyum, “look how you’ve changed darling, oh, where’s that innocent young girl? Do I see a fierce business woman in the making?” lanjutnya.
“Nggak tan, aku mau jadi penulis,” gue menjawab tawar.
“We’ll see,” ujarnya sambil memutar mata dan terkekeh ringan.
In a twist of fate, mengingat betapa jarangnya gue update blog ini, gue memang tidak jadi penulis. Gue memasuki dunia bisnis di mana begitu banyak kedok sosial, berdampak, peduli, dan malaikat digunakan hanya sebagai jargon marketing.
And how do we navigate that world? Pada akhirnya gue selalu kembali pada bagaimana gue menghadapi Tante D dua puluh tahun silam. Manage my expectation. Semua orang punya motif. Tetapi gue masih bisa mendapatkan sesuatu yang baik dari orang dengan motif yang paling berseberangan sekalipun. Selama gue tidak kecewa, saat motif mereka tidak seperti yang terparaf di atas kertas.
Sebaliknya, know my worth too. Macam lagi berselancar, ombak bisa tinggi, arus bisa kenceng, dan terlepas semahal apapun papan yang dipakai, kalau otot perut nggak setrong nggak akan bisa bertahan di atas ombak.
It could be quite puzzling to be surrounded with people of different motives. Tiba-tiba gue jadi ingin ini itu. Apalagi, kalau mereka punya suara yang jauh lebih kenceng. Tapi pada akhirnya, gue harus ajeg dengan apa yang jadi tujuan awal dan bagaimana gue melihat diri dan usaha gue. Kadang, ada yang harganya terlalu mahal hingga tidak bisa dibeli.
Support system always comes handy. Gue beruntung dari zaman 20 tahun lalu hingga sekarang, dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang gue tidak perlu bertanya-tanya di mana mereka berdiri. Posisi mereka selalu jelas, dan mereka selalu siap, setidaknya untuk bikin roleplay lalu sama-sama menertawakan nasib.
Dan ujian terakhir yang selalu ada, selalu tahu kata cukup. Sepuluh tahun terakhir gue menyaksikan bagaimana bisnis yang awalnya menjanjikan jadi patpatgulipat karena ketamakan terhadap arus dana berlebih. Dan juga ditertawakan, karena menolak tawaran jutaan dolar demi bertumbuh organik cimit-cimit.
Seseorang pernah berkata bahwa the devil can only operate when there’s greed. Ketamakan membuat seseorang mengambil lebih dari porsinya, mengambil penawaran setan yang menjerumuskan. Tapi mereka yang bisa bilang cukup tidak akan terpancing untuk masuk jebakan betmen.
Sayangnya gue tidak pernah lagi bertemu dengan Tante D. Gue masih sempat mencuri dengar tentang sepak terjangnya. Tentang betapa kejamnya dia pada mereka yang percaya akan kebaikan. Hingga konon hidupnya berakhir tragis.
Betapa gue ingin berkata dalam Bahasa Inggris, yes, I became that independent, harsh-tongue business lady. I’ve met a lot of people who pretend to be kind while they’re no angel. But they don’t change me. I know my worth. I went through my tests of being enough. I find people who love me and kindness in the unlikeliest soul. And that being said, I still believe in angels.