Moscow: Sebuah Utopia Komunisme

“Nah gini dong negara tuh fasilitas buat rakyatnya mumpuni, sama rasa sama rata!” Gue berdecak mengagumi fasilitas playground anak di tengah taman kota Moscow, yang kelihatan kinclong masi baru kayak habis dibuka dari plastik, mirip dengan setting Gymboree kalau di Mall di Indonesia, yang bayar jam-jam-an. 

Itu adalah hari ketiga gue di Moscow, dan sejak menjejakkan kaki di ibukota Rusia itu, tak berhenti gue ber-hah-hoh-hah-hoh. Singapura yang artsy, begitu gue mengibaratkannya. Tata kotanya dibangun sangat grande, nggak ada model gang senggol bacok, kayak udah dipikirin dari dulu dan dijalankan dengan penuh amanah. Curiga ga ada tukar guling lahan.

Fasilitas umum begitu terjaga, dengan metro yang liwat semenit sekali sampai dikasi timer detiknya. Setiap stasiun metro bak galeri seni, dihias cantik mulai dari lukisan mozaik, patung-patung, hingga yang futuristik. Jalanan lebar bersih kinclong karena dicuci setiap hari. Iya, digosok oleh mobil besar yang ngalah-ngalahin armada pemadaman kebakaran hutan Kalimantan.

Semua bangunan kuno, macam si Gereja es krim atau kompleks Kremlin nggak lusuh kurang dana renovasi kayak di Eropa. Semua bersinar, bak habis dicat ulang. Demikian juga gedung pemerintahan dan fasilitas umum lainnya. Nyaman, bersih, rapi, aman, tapi juga cantik. 

Membuat gue saat itu bertanya-tanya apakah inilah sebuah tanda kejayaan satu paham ideologi yang dianut negara ini: Komunisme?

Setiap paham punya plus dan minusnya. Komunisme, dalam konteks idealnya menurut gue sangat sempurna. Masyarakat sama-rasa-sama-rata, tanpa ada sekat kelas, di saat semua punya kesempatan yang sama, kepemilikan yang sama, dan berbagi kesejahteraan. Namun faktanya, gue tidak pernah mendengar ada negara yang berhasil mencapai komunisme.

Kebanyakan berhenti di sosialisme, saat negara masih harus mengontrol distribusi sumber daya milik masyarakat. Atau lebih paitnya lagi militerisme, ketika dominasi militerlah yang memaksakan distribusi sumber daya tersebut.

Karena sebanyak komunisme adalah sesuai dengan khaidah manusia sebagai makhluk sosial, manusia jugalah makhluk individu. Setiap orang tetap ingin punya pencapaian pribadi, sehingga buntutnya beberapa figur di negara ataupun militer yang malah paling menonjol. Sedangkan di dalam masyarakat, ketika keunikan individu sudah tidak lagi diapreasiasi, buntutnya jadi males. Alih-alih berbagi kemakmuran, jatohnya adu-adu derita.

Itulah sebabnya, pengalaman gue ke negara-negara dengan paham serupa itu biasanya nggak gitu bikin kagum. Kebanyakan terasa kurang maju. Kalaupun ada yang super maju seperti China, itu karena mereka membatasi sistem komunisme hanya di politik. Sistem dagangnya sih blass go go go international super kapitalis super liberalis. 

Akan tetapi, di depan mata gue, berdiri negara yang totok klaimnya bentrok sama liberalis, disanksi mana-mana sampai segala bentuk cara pembayaran dari visa, mastercard, amex, JCB terblokir, tetapi santei-santei aja menggaungkan kehidupannya.

Di jalan berseliweran mobil mentereng, kayak abis masuk salon mobil semua. Restoran dan cafe ramai dan buka dari pagi hingga tengah malam. Orang-orang menenteng tas belanjaan, berseliweran di Arbat, salah satu area perbelanjaan di pusat kota Moscow. Dan di akhir pekan, pertunjukan balet full house di Theater Bolshoi, dengan tiket termurah dari sejuta rupiah.

“Ya abis mereka punya segala sumber daya sih, ada gas alam yang menghangatkan saat musim dingin, ada penyulingan minyak untuk industri dan otomotif, mereka bisa self-sustain,” prof berkomentar. Gue manggut-manggut, kita juga punya, tapi di Rusia kayaknya dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.

Tetapi.. apakah benar demikian? Atau yang gue saksikan hanyalah satu bentuk utopia. Yah sama kayak percintaan, when it’s too good to be true, it is too good to be true.

Apakah Moscow memang sesempurna ini? 

“Dulu malah lebih sempurna lagi, tapi kota lain si enggak,” jawab seorang warlok getir. Konon, sebelum perang, Moscow bener-bener kayak kota Capitol dalam The Hunger Games. Paving jalanan diganti tiap tahun makanya selalu keliatan baru. 

Salju yang tebal nggak pernah jadi masalah karena selalu disebrok. Baru setelah perang berjalan, mereka agak kureng-kurengin. Jalanan dicuci aja ga usah diganti baru bak piring sekali pakai.

Namun kondisi di luar kota-kota terbesar Moscow, wah ya nggak janji. Kurleb kayak si para District kali ya. Di musim dingin, salju bisa menumpuk hingga 1 meter, menutup akses jalan, membuat perekonomian makin tersendat. Sedangkan UMR warga Rusia, hanya sebesar UMR Jakarta, yang nggak perlu keluar ongkos ngangetin badan di suhu -26 derajat celcius.

Krisis bahan bakar mulai menghantui, dengan serangan-serangan drone menuju pada pusat pengilangan minyak. Yang terakhir? Konon melukai 1/3 supply nasional. Gue menyentuh sisi gelembung yang tidak kelihatan itu. Di hari serangan, anak-anak kecil sedang menari breakdance di jalan. Ternyata, gue juga sedang ada dalam gelembung utopia sebesar kota Moscow.

Gue tidak berkesempatan mengunjungi kota-kota lain di Rusia untuk membuktikan kesenjangan sosial yang tentu tidak sesuai dengan cita-cita Karl Marx itu. Namun di hari terakhir gue mencicipi sedikit bentuk kejomplangan yang terjadi. 

Gue menginap di sebuah hotel di dalam bandara, yang bersisian dengan terminal domestik. Ternyata, sudah sejak 2020 tidak beroperasi. Alasannya, renovasi, tetapi pas gue ke sana, kondisinya sih kosong melompong. Area komersial seputar hotel jadi punya vibe Gajah Mada Plaza. Sebagian besar toko tutup, sisa satu kantin masakan China yang remang-remang.

Naik underground train dari terminal internasional yang sekelas Changi Airport ke terminal domestik van Gajah Mada itu terasa seperti menyusuri lorong waktu. Dari 2026, tau-tau mundur ke zaman Uni Soviet. Bener-bener nggak ada transisinya. Keyder takut papasan sama Yuri Gagarin. Dia mungkin masih hidup di masa itu. 

“Bensin mulai susah, nih,” keluh seorang tukang taksi, “mana mahal,” lanjutnya, membuyarkan lamunan gue tentang utopia komunisme. “Oh kalau di negara gue si harga 92 separohnya tuh,” gue pamer. Hanya untuk malamnya gonjang ganjing Pertamax naik. Emang negara gue kagak bisa dibanggain sedikit-dikitnya acan. 

“Seengga-engganya, Rusia itu punya satu kota yang kayak Moscow. Keliatan gituloh, biar kagak rata, aliran dananya ke penduduk ada. Lah kita, sumber daya melimpah, tapi Jakartanya aja engap, boro-boro desa-desa lain, yang kena musibah lalu beritanya hilang ketiup angin!” Gue kembali merepet-repet. 

Memang, setiap paham itu punya plus dan minusnya. Berdebatpun nggak akan ada habisnya, karena seperti agama, tentu pemeluknya percaya itulah yang terbaik. Sama seperti gue yang percaya Pancasila harga mati. Akan tetapi, apapun pahamnya, gue rasa semua bakal setuju. Kalau urusannya sama korupsi dan ambisi pulitik tak berdasar, paham apa juga nggak bisa maju. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *