Terima Jasa Revisi Doa

Seorang teman pernah punya doa sederhana. Ia minta jodoh, cantiknya terserah Tuhan, pintarnya terserah Tuhan, yang penting: rumah sang jodoh berjarak tidak lebih dari tiga lampu merah dari rumahnya.

Sungguh Tuhan Maha Pengasih, diberilah ia jodoh yang sedemikian. Rumah sang gadis pujaan bisa disambangi setelah melewati tidak lebih dari tiga lampu merah dari rumahnya.

Tapi harus lewat tol.

HAHAHHAHAAHAA…

Sampai hari ini, diceritakan ke siapapun, kisah doa ini masih mengundang tawa. “Kenapa sih, dia buat hal se-petty ini harus melibatkan Tuhan,” komentar Kaka Nay. Kami membayangkan Tuhan mengangkat bahu sambil berkata, “salahku opo? Dia kan nggak minta 3 lampu merah dengan motor, atau 3 lampu merah harus jalan biasa?”

Tapi herannya, selain mengundang tawa, kisah ini juga kemudian mengundang kata “ooh…” disambung dengan “gue juga pernah sih, sekali tuh minta…” Dan keluarlah kisah-kisah doa yang spekta itu.

Minta pacar yang rumahnya deket rumah tinggal, kantornya deket kantor saat ini. Dikasi percis-percisan. Hanya setting-nya itu adalah awal tahun 2020. Lalu Covid. Ia WFH. Sedangkan sang pacar yang kerja di sebuah bank harus tetap WFO. Bukan mendekatkan, malah membubarkan.

Atau yang sempat trending, lelaki yang jadi doanya perempuan Katulik se-Indonesia. Yang tampan, tajir, nggak macem-macem lagi seiman. Lalu semua buru-buru minta revisi begitu sosok tersebut jadi tersangka koruptor. Bilangnya nggak apa dhe ternyata sama suamiku aja yang buncit, jelek, duitnya nggak banyak itu. (Meskipun kalau opsinya gitu sih doanya tetap ga aku revisi. Biar aja beliow keluar penjara 4 tahun lagi juga pasti masih ganteng).

Sedangkan gue, pernah disalah-salahkan ketika menolak seorang lelaki dari negara yang menurut gue absurd banget. “Emang doa loe gimana Gy? Loe minta jodoh kan? Emang pas minta loe bilang, Tuhan minta jodoh tapi kalau bisa jangan dari negara pecahan Uni Soviet?”

The power of a deal is in its wording, demikian aturan main sebuah permintaan dalam buku The Invisible Life of Addie LaRue. Tokoh dalam film membuat perjanjian dengan setan. Ingin hidup bebas, ingin bisa pergi ke mana-mana, kalau sudah bosan, boleh ambil jiwa. Tanpa sadar bahwa trik hidup bebas adalah ketika tidak ada orang yang dapat mengingat dirinya.

Meskipun ini aturan minta sama setan, namun menurut Addie, sebenarnya minta ke siapa ya sama saja aturannya. It is not who you are sacrificing to, it is what you are sacrificing for. Tergantung motifnya apa, yang mengabulkan bisa siapa saja. Tetapi aturannya tetap sama: semantik, meskipun terasa sederhana, ternyata sangat berpengaruh.

Masalahnya, selalu saja ada syarat dan ketentuan yang terlewat oleh manusia yang banyak kekurangannya ini. Minta pedang yang membuat seseorang kebal bacok. Tapi bagaimana jika lagi nggak megang pedang? Minta cowo ganteng cakep manis kiyut gemes-gemes kayak salah satu K-Drama. Lupa bahwa salah satu konflik dalam film adalah restu orang tua yang nggak kunjung datang.

Lantas bagaimana caranya meminta yang tepat? Apakah manifestasi sampai ke ujung-ujungnya detail menyeluruh?

“Ah, dikasi yang percis-percisan juga kadang nggak ngaruh,” ujar seorang teman, “soalnya abis dikasi trus diambil lagi.” Permintaan relasi sehat dengan pria ideal yang ia minta terkabulkan… till it’s not.

“Ya berarti nggak dikasi, itu cowok emang toksik aja baru ketauan,” gue menyanggah.

“Dikasi, tapi trus sifat sehatnya diambil lagi,” iya berdebat.

Ah sudah cape-cape berdoa, dikabulkan, tapi nggak tahan lama. Tapi ya memang selalu terjadi. Minta biar lulus SD. Setelah dikasih, apakah kemudian menjadi jaminan selalu lulus jenjang sekolah lain? Ya enggak. Harus doa lagi, minta lulus SMP dan selanjutnya.

Karena manusia selalu meminta hasil, bukan proses. Gue terkecut-kecut dengan jawaban dari kartu tarot digital di reels Instagram yang seolah sakses menguping pembicaraan gue dengan teman-teman.

Ketika gue minta kurus, yang gue minta adalah hasilnya. Doa gue adalah Tuhan saya pengen kurus, tapi saya tuh kurang disiplin diet dan suka makan enak. Gimana ya? Tuhan langsung berkata say no more dan memberi gue radang usus.

Padahal, seandainya yang gue minta adalah kegemaran akan makanan-makanan sehat, atau waktu yang cukup untuk berolahraga setiap hari, atau teman-teman yang nggak suka ngajak makan, niscaya gue akan selalu kurus, bahkan meskipun gue sedang tidak berdoa.

Jadi, mulailah dengan meminta sebuah proses. Kalau gemar berkendara dan perjalanan senantiasa dilancarkan, niscaya 10 lampu merah juga terasa dekat. Kalau bisa saling mengakomodasi pasangan, mau ketemu di rumah di kantor gak ketemu sama sekali juga tetap bisa saling percaya.

Dan kalau doa masih punya loophole, jangan khawatir, selalu ada saja orang-orang yang bisa menangkap kesempatan. Masih ada Mas Romi, sang perevisi doa:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *