Yang Nggak Ada di Karibia (Yang Ada di Indonesia)

Apa sih yang dicari sampai harus jauh-jauh ke Karibia? Emang nggak ada apa itu di Indonesia? 

Sebagai seorang warga negara bucin patetik pada republik ini, gue tentunya ingin menjawab dengan berapi-api bahwa perjalanan gue menyambangi Bermuda dan Turks & Caicos itu sia-sia. 

Bahwa gue tidak menemukan hal unik, istimewa, yang lebih cantik, lebih utama, maupun pembelajaran apapun di seberang lautan. Namun sayangnya, muncullah tulisan ini, yang menyakitkan hatiku sebanyak hatimu.. bahwa masih ada yang kureng dari negara yang cantik apa adanya ini.

Dengan semangat skeptis gue menjejakkan kaki di pasir putih Providenciale, salah satu pulau di Turks & Caicos. Garis pantainya berliku panjang dengan pasir sehalus bedak ani-ani secara merata dari ujung ke ujung. Ah, check, di Indonesia Timur pasirnya juga kayak gini, cuma memang garisnya ga memanjang. Percuma, siapa yang mau menelusuri pantai panas-panasan 1 jam juga?

Lautnya bewarna biru turkoas memang terlihat berbeda, akibat sudut pantulan matahari yang berbeda di belahan benua menjelang subtropis ini. Ah, tapi siapa yang berani bilang ini lebih indah daripada biru donker laut Sulawesi? Atau warna emerald laut Bali? Zamrud khatulistiwa, beda bukan berarti jelek.

Lalu gue menyemplungkan diri ke laut Atlantik. Senyum terkembang. Airnya agak dingin, nggak kayak di Samudra Hindia. Mana betah, bikin keriput. Gue menatap hiu dan baraccuda yang berenang-renang muter-muter di bawah gue dengan sinis. Di Banyuwangi juga ada, biarpun hiunya ditangkar. Setidaknya bisa buat update foto profile. 

Pindah ke Bermuda juga sami mawon. Pantai pink? Check. Sama aja pinknya. Yang pink banget kayak di pink beach Komodo malah udah dikapling sama resor mewah, selain tamu The Loren nggak bisa main pasir. Kalau yang semu-semu kurang lebih sama kayak Pantai Tangsi Lombok. Pinknya cuma kalau lagi sunrise, kalau pasirnya basah, kalau sudut cahaya sekian-sekian. Banyak syarat pokoknya kayak mau buka rekening.

Tetapi, kenapa ada yang istimewa? Kenapa terasa lebih baik? Setengah menggigil digampar-gampar ombak laut Atlantik gue menyadari, ada sesuatu yang justru ada di Indonesia dan nggak ada di Karibia: SAMPAH PLASTIK.

Gue sudah berkeliling cukup jauh ke pelosok Indonesia. Ke teluk-teluk Papua, ke ujung Sabang, ke batas terluar selatan Indonesia di Rote. Dan bahkan di ujung republik ini, gue dengan mudah menemukan pemandangan yang sudah sangat familiar: setidaknya selembar-dua lembar bungkus Indomie. 

Bahkan jika tidak di pantainya, setidaknya di bawah lautnya, nyangkut sekali-dua-kali oleh terumbu karang yang apes, hanyut tak sengaja oleh tamu kapal pesiar yang tak berbudaya, atau oleh nelayan yang tidak berhasil menangkap lagi sampah terbang.

Dan sampah plastik, tidak berhasil gue temukan di Karibia, di samudra yang punya pulau sampah plastik katanya. KOK BISA? Gue memulai diskusi lingkungan gue sambil menggenggam gelas plastik berisi rum punch. Bagaimana gelas ini nggak berakhir di laut? 

“Ya mungkin karena yang dateng ke sini cukup teredukasi,” alesan #1 dari rekan perjalanan. Hmm.. ya masuk akal. Menurut gue, Cayman, Turks & Caicos, dan Bermuda ini absurd. Masa pulau liburan, di bandaranya dipasang iklan Financial Advisory, Investment in Bitcoin dan Tax Audit. Pasti yang dateng udah terseleksi. Duit aja mereka bikin bersih apalagi sampah. 

TAPIII.. nggak berarti horang kayah itu sadar lingkungan kok! Coba itu kasus kapal pesiar yang ngegrosok terumbu karang di Raja Ampat? Sampai sekarang nggak jelas ganti rugi dan apa yang bisa diganti. 

Lagipula, di beberapa area di Indonesia, gue menemukan sumber sampah utamanya bukan dari turis atau penduduk setempat. Pantai sampah akhir tahun di Bali jelas asalnya dari Jawa. Orangnya mah sadar lingkungan tapi sekitarnya? MEH! 

“Itulah! Bermuda itu deket mana coba? Nggak deket mana-mana! Turks & Caicos? deketnya cuma sama Miami, mungkin pengolahan sampah di US juga sudah bagus!” alesan #2 kontribusi rekan perjalanan, menenggak gelas rum punch keduanya, pakai gelas yang sama, belum dibuang ke laut.

Kali ini gue manggut sinis. Kesel. Pengolahan sampah di Indonesia itu jauh dari kata optimal. Belum ujung ke ujung. Kadang udah dipisahin di rumah, giliran masuk bak sampah dicampur lagi. Sedangkan tempat penerima sampah daur ulang paling deket di lapangan parkir mall, kudu bayar parkir kalau mau nyetor sampah, dan jalan kaki panas-panasan. 

Di beberapa kota Amerika Serikat seperti San Francisco, urusan kompos aja udah masuk undang-undang dari dekade lalu. Di New York baru mau jalan. Atau setidaknya sampah plastik bisa dikumpulkan, dimasukkan kontainer lalu dikirim ke negara berkembang seperti.. INDONESIA! Entah bagaimana caranya masuk bea cukai, lalu jadi urusan negara ini.

TAPI, gue membuka peta di handphone, membuat suasana sailing menjadi kurang santei. Okelah Bermuda memang sendirian. Jangankan sampah, lah pesawat aja pernah hilang di sini. Tetapi Turks & Caicos juga deket sama Dominican Republic, Haiti, dan negara berkembang lain yang juga punya track record negatif khas negara berkembang seperti korupsi dana kebersihan.

“Penduduknya berapa? Lagipula nggak ada aktivitas ekonomi lain yang berat,” alesan #3, yang kembali membuat gue mendengus sebal. Di Papua ada tambang. Di Lombok ada emas. Di Morowali.. hzzzz.. nikel. 

Cemaran logam berat jadi tinggi, bahkan di air yang kelihatan jernih sekalipun. Plus juga berarti menambah aktivitas orang yang berarti.. menambah sampah.. mengaliri limbah, dengan cara yang tak terolah serius. 

Lalu gue merasa kasihan. Pada gue sebagai penduduk republik ini. Pada biota laut yang nasibnya tumbuh di Indonesia. Karena kita semua jadi nggak bisa hidup optimal. Meski air lautnya lebih hangat, kadar garamnya lebih tinggi, dan teorinya nutrisinya lebih banyak, rumput laut di Indonesia dikenal berkualitas rendah. 

Gue sering heran kenapa hasilnya bisa kalah dengan Nova Scotia, Kanada, yang airnya dingin, kadar garam rendah dan harus dipompa berbagai cara untuk menumbuhkan rumput laut. Beda varietas sih, tapi gue mengerti bagaimana dengan air laut yang lebih bersih, polutan lebih rendah, maka kualitas rumput laut bisa lebih baik, meski produksi lebih sedikit.

“Rumput lautnya less brittle, pasti kalau dicek, kadar karagenannya lebih tinggi!” Gue mencetus, sambil memainkan rumput laut yang tumbuh liar. Iya, cuma gue yang berenang pake bikini pink di laut Karibia malah membahas rumput laut. Rekan perjalanan pun sudah nggak ngewaro. 

Dan gue dengan rasa cemburu yang luar biasa, begitu inginnya merebus popmie saat itu juga, dimakan anget-anget biar nggak masuk angin, lalu gelas stirofoam kosong itu kulempar ke laut, kuabadikan dalam foto pake caption, TUH DI KARIBIA JUGA ADA SAMPAH STIROFOAM! IDIH!

Yah gitu deh, kalau liburannya ke Bermuda, tapi mentalnya masih mental Pulau Panggang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *