Jika tidak percaya Tuhan, akankah takut setan?
Pernah satu kali gue ngobrol sama seorang dukun, punteun Mbah, ini cuma mau berbagi ya… Gue bertanya bagaimana menghadapi orang yang nggak percaya klenik. Mbah dukun bercerita, ia akan menghadapi dengan sebuah tantangan, “OK, nggak apa kalau nggak percaya. Yang penting, nanti malam jam 1 pagi siap-siap ya, saya bakal kirim santet mati.”
Anjaayy.. biasanya, si lawan bicara akan jiper sendiri. Nggak percaya santet sih, tapi kalau dikirimin khusus kok jadi kepikiran juga. Dan dengan demikian Mbah Dukun membuktikan bahwa di dalam hati kecil setiap manusia, selalu ada keyakinan akan kuasa yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Sebuah pertanyaan yang sama yang diajukan Mikhail Bulgakov dalam bukunya, Master & Margarita. Bulgakov mengilik-ngilik pemerintahan Soviet masa itu, dan segenap warganya, tentang konsep Ketuhanan dan Kesetanan. Apa bener, mereka merasa nggak perlu Tuhan dan karenanya ga butuh agama? Kalau ada setan gimana? Tacuut ga sih?
Maklum namanya negara kuminis, ya nggak butuh agama dong. Orang-orang hidup sejahtera untuk hari ini! Agama itu hanya candu yang menghibur orang misqueen karena mereka nggak bisa kaya! Kayak orang liberal yang nggak punya akses yang sama terhadap sumber daya!
Tetapi kalau menurut Bulgakov mah, ya kenyataannya kejomplangan masih terjadi, dan ketiadaan agama, justru malah terkadang melegalisir sifat-sifat yang dikutuk agama: ketamakan, keegoisan, dan kesombongan.
Maka hadirlah setan suatu hari di Moscow, landing di Patriach Pond, sebuah kawasan elit Moscow masa itu, dan nimbrung pembicaraan Berlioz, orang partai, dan Ivan Homeless, seorang penulis miskin tentang ada tidaknya Tuhan. Ia lalu menantang, kalau sebagai setan, dia bisa memprediksi bagaimana Berlioz mati sebentar lagi.
Berlioz yang nggak percaya langsung cabcus, hanya untuk beberapa saat kemudian ketabrak kereta persis seperti yang diramalkan setan. Ivan Homeless yang ngeliat jadi ketakutan, buru-burulah dia memperingatkan warga yang lagi makan mewah tentang kehadiran setan di Moscow. Tapi karena pada nggak percaya Tuhan, ya nggak percaya setan dong.. berakhirlah Ivan dikirim ke rumah sakit jiwa.
Di situ, Ivan ketemu Master, seorang penulis yang lagi menulis kisah penyaliban Yesus dari POV Pontius Pilatus, pejabat Romawi yang akhirnya menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Ceritanya Pontius lagi migrain, dihadapi sama kasus Yesus, dan ketemu setan yang sama dengan yang lagi visit Moscow.
Dari situ cerita bergulir bergantian antara kisah Pontius Pilatus dan kisah setan yang bikin onar di Moscow. Setan bikin pertunjukan sulap, di mana ia bagi-bagi harta, uang, perhiasan, yang kemudian jadi daon kayak di film Suzanna. Penonton yang keburu hepi jadi kecewa dan marah. Tetapi setan kembali membalikkan, lah kan nggak percaya Tuhan, jangan berharap mujizat dong. Ini mah trik sulap aja..
Sebenarnya gue sudah lama membaca Master dan Margarita. Akan tetapi, baru ketika ziarah ke Patriach Pond di Moscow kemarin, lalu numpang pipis di rumah lama Bulgakov yang jadi museum, gue teringat betapa menyenangkannya buku ini.
Kebanyakan sastra Rusia itu khas: gloomy, gory, dan absurd . Tema-temanya pasti penindasan, gangguan kejiwaan seksual, depresi, dan bunuh diri. Entah karena ketidaksempurnaan translasi atau memang begitu semangatnya, gue seringkali kesulitan menyelesaikan buku karangan penulis Rusia. Atau di negara dingin ini, sungguh aneh untuk menjadi penulis yang hangat dan lucu.
Baca Lolita-nya Nabokov membuat gue sampai hari ini trauma baca buku Nabokov yang lain. Eneg. Segala fantasi dan aksi pedofilia dipaparkan secara detail. Baca Anna Karenina-nya Tolstoy ya bisa nambah ilmu tentang latar belakang agraria dan masyarakat Rusia, tetapi juga bikin kesel karena protagonis perempuan lagi-lagi mati gara-gara cowok toksik. Mana udah panjang bener 500 halaman.
Master and Margarita ya ada gila-gilanya juga. Namanya juga ngomongin setan. Akan tetapi ada gurau tipis-tipis yang dimasukkan sebagai bentuk kritik, terhadap kemunafikan dan sistem masyarakat yang sedang berjalan.
Seperti ketika setan bagi-bagi krim muka ke Margarita, kekasih Master yang terperangkap dalam pernikahan dengan orang kaya yang jauh lebih tuwir. Atau seperti pada akhir pamungkas, ketika Margarita meminta akhir bersatu bahagia dengan Master tanpa ada manusia yang bisa memisahkan sebagai imbalan atas jasa hosting pesta buat setan.
Ya dikirim dua-duanya ke akhirat.
Namanya juga minta sama setan.
Ada banyak kritik sosial masyarakat yang muncul sepanjang kisah yang ditulis tahun 20-40an ini sama penulis Rusia di negara Kuminis. Yang ternyata masih relevan diajukan hari hari ini di negara Pancasila, tahun 2026. Karena manusia masih sama maruknya, masih sama munafiknya, masih sama sombongnya di manapun berada, apapun ideologinya.
Dan setiap kali gue kembali teringat tentang sebuah konsep Ketuhanan, kepercayaan dan ekspresinya, tentang mana yang benar, dan apakah penting itu menjadi yang paling benar. Siapa setan siapa kebenaran? Karena kalau di negara sendiri sih, banyak banget pejabat yang kelakuannya lebih-lebih dari setan.