In My Memory: Berdoa tanpa Tapi

“Kamu pilih mana? Kuasa langit, yang bisa memberikan kamu apapun yang kamu mau, persis-persisan seperti yang kamu minta, dalam waktu yang instan? Atau kuasa Tuhan, yang kadang kamu malah dikasih hal-hal yang berlawanan dengan yang kamu bayangkan, waktunya sesuai waktu Tuhan, bahkan kadang tidak diberi? Tapi Tuhan tidak pernah kalah,” demikian Bruder menghardik, di pertemuan pertama kami.

Saat itu gue sedang mencari pembimbing baru, atau tepatnya sih penolong baru setelah Bunda meninggal beberapa bulan sebelumnya. Gue yang baru belajar berdoa masih kebingungan, belum PD belum mampu mengandalkan doa sendiri. Tubuh yang masih OTW pemulihan malah menjadi celah. Kena santet dukun kampung aja bisa tumbang. 

 

Numpang petunjuk pengikut Bunda lainnya dan sedikit doa yang terkabul membawa gue pada ruang percetakan kuno tempat Bruder berkarya, hari itu, sekitar delapan tahun yang lalu. “Ya pilih jalan Tuhan dong, Brud!” gue menjawab mantab. Tetapi seperti kata Igor Ryzov, ‘a quick yes is always followed with a but”.

 

“Ya sudah kalau begitu guna memperkuat diri kamu misa tiap hari,” perintah Bruder.

“Tapi Bruder, aku seringnya di luar kota, agak susah.”

“Memangnya di luar kota ndak ada gereja?”
“Ada bruder, tapi jadwalnya seringkali jam 5.30 pagi.”
“Ya berarti ada tho?”
“Ada bruder, tapi.. itu sangat pagi…” 

 

My first but, yang akan mengawali tapi-tapi lainnya delapan tahun ke depan. Brud, panggilan dari gue, yang bisa melihat masa depan tentu sudah bisa membayangkan betapa akan menyusahkannya anak yang musuhnya banyak doanya minim ini. 

 

Namun kasih mengalahkan keengganannya sehingga iapun mengadopsi gue. Dan demikian, mulailah dinamika Brud menjadi figur ayah, yang tegas, mendidik, namun nggak tegaan dan siap bail-up anaknya. Sedangkan gue, si anak manja nan ngeyel, merasa punya backing sehingga agak tengil.

 

Semua hal gue debat. Bahkan disuru doa makan aja gue ngeyel. Tapi Bruder, kalau makanan yang didoakan, kadang rasanya jadi nggak enak. Brud selalu punya jawaban atas semua tapi-tapi gue. Ya makanya doanya dilanjutkan, dan apapun rasanya, cocokkan dengan lidahku, Tuhan! 

 

Mereka yang mengenal gue menyimpan keheranan dalam hati, mengapa Brud mau mengadopsi gue. Repot-repot mematah santet sewu dino, mengusir lipan raksasa penusuk mata, atau keanehan lain yang membuat gue baca simpleman dan berkata, ohhh.. gue pernah tuh… Gue pun dengan manja mengandalkan opsi phone a brud, kalau menghadapi isu goib yang tak masuk akal. 

 

Gue juga nggak pernah paham. Kecuali bahwa Tuhan memang sebaik itu, bahkan pada hamba-Nya yang paling tidak layak. Lewat tangan Brud, Tuhan mengalirkan mujizatnya. I really owe him an eye, a life, a soul and perhaps a whole family. 

 

Terlepas dari segala kengeyelan, kesabaran Brud membawa gue berproses. Perlahan gue memahami konsep tubuh-roh-jiwa, membedakan aneka kuasa dan mengidentifikasi setan. Mengutip film, dari kasus kerasukan seram, hanya 10% yang benar-benar dilakukan setan, sisanya psikologis. 

 

Gue mulai mengenali iblis yang adalah penipu ulung, bersembunyi dalam tampak yang rupawan dan kata-kata yang halus, bahkan menyelip dalam tempat-tempat religi atau dalam doa di hati.

Bruder, bagaimana kami bisa membedakan doa yang disusupi dan dikabulkan iblis? Tanya gue satu kali. 

“Doa yang tulus tidak serakah, tidak mencari kekuasaan, tidak mencelakakan orang lain. Jika seseorang minta harta yang berlimpah, minta berkuasa, menyumpahi musuhnya, sekalipun terkabul, tentu bukan Tuhan yang mengabulkan,” jelasnya. 

 

Berangsur dalam doa gue menata hati, menilik keinginan dalam hati apakah dimotivasi obsesi atau kasih. Gue tidak lagi melambung melayang, menggelepar tak terkontrol dan mendelik, lalu muntah-muntah selama empat jam di ruang tamu bruderan yang biasanya sejuk damai itu. Yang besoknya begitu lagi. Bisa tiga kali seminggu. 

 

Yang awalnya setiap hari HP Brud penuh dengan foto kiriman berbagai sisi, foto muka ketempelan siluman ular pagelaran, mulai menjarang. Biarpun secara rutin gue masih membawa oleh-oleh hantu-hantu abad pertengahan  atau ikatan nyasar yang memaksa Brud kembali turun tangan.

 

Dan bagaimana gue tidak percaya Tuhan? Jika gue melihat karya-Nya setiap saat gue? Ketika penyakit kurang keping darah tidak sembuh meski sudah minum obat tiga bulan, malah makin menurun, lalu menjadi normal dalam waktu tiga hari setelah didoakan? 

 

Kebanyakan pasien Brud berproses menjadi pelayan doa atau penyembuh, kecuali gue yang konsisten jadi pasien abadi. Suatu kali Brud pernah mengajak gue berdoa untuk membuka mata batin. Di saat ia berdoa, Tuhan, jikalau seturut dengan kehendak-Mu maka bukalah mata anak ini untuk melayani Engkau, gue membatin Tuhan.. jangan Tuhaan.. nanti setannya serem!

 

Tidak terlintas saat itu Brud yang mata batinnya kenceng pasti mengetahui isi hati gue. 

“Kamu ndak berserah!” tuduhnya. 

“Tapi Bruder, nanti setannya serem, aku takut, malah kesambit” gue kembali bertapi-tapi. 

“Ya doa biar setannya kelihatan lucu, tidak menakutkan!”
“Tapi Bruder, aku ini doanya 50-50 dikabulinnya, kalau ternyata setannya tetep serem gimana?”

 

Brud masih mencoba menyemangati gue untuk mengasah ketajaman indra dan mendoakan orang lain. Tetapi gue sudah bertekad bahwa dalam tim doa eksorsis ini, gue fokus di bagian marketing, membawa orang dengan sakit aneh-aneh berobat pada Brud. 

 

Sungguh gue mengimani hal ini. Pernah satu kali dukun yang menyantet orang yang gue ajukan menjadi marah pada gue. “Kamu jadi berurusan dengan saya!” ujarnya lewat mediasi. Gue hanya mengangkat bahu, “dih, saya kan cuma marketing!” Brud ketawa dan suasana eksorsisme menjadi guyub.

 

Agak tuman, gue tidak pernah melewatkan kesempatan bertemu Brud dan tim doa setiap kali gue ada keperluan ke Jogja. Sekalipun tidak ada isu setan (meski ini jarang), gue akan dengan senang hati menyerap imu dan kebijakan soal pekerjaan, investasi hingga jodoh! 

 

Pernah suatu masa gue mengeluh mengapa nggak juga nikah. Apa gue masih disantet sama mantan pacar gue yang psycho itu. Brud, tanpa mengangkat wajahnya dari layar HP menjawab datar, “Tuhan tidak akan memberi pada mereka yang belum siap.” 

 

Ketika satu kali gue punya pacar, gue tetap mengeluh, merengek minta diputus ikatan batin.

“Loh itu kan doamu tho Gy?” ujarnya.

“Tapi saya mintanya jodoh yang baik, brud, kalau nggak baik ya bukan jodoh saya!” 

“Ya doa lagi biar jadi baik,” ujarnya.

“Tapi Brud, doain orang yang nggak berdoa itu susah, doaku tuh belum sekuat itu, salah-salah malah aku yang jadi ikutan jadi orang jahat!” 

 

Kali ini Brud mengajari gue untuk bertanggung jawab atas doa gue sendiri. Yang tentunya gue protes ketika hasilnya berbeda dengan yang gue harapkan. Ia mengangkat bahunya, “Ya aku juga nggak tahu kan Gy maunya Tuhan gimana?” Tapi.. tapi.. gue berkelit. Ia menyambung sambil menghela napas panjang, “Tuhan selalu menjawab doamu, hanya tidak seperti yang kamu bayangkan.”

 

Berserah dan berpasrah, memang satu lagi Pe-Er gue yang paling besar. Untuk menerima pemberian Tuhan tanpa tapi. Untuk tidak mempertanyakan syarat dan ketentuan berlaku dalam jawaban doa. Untuk bersuka cita dalam kondisi paling tak bisa diterima. 

 

Ada banyak lagi pengalaman dan pelajaran yang gue dapat dari Brud. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Tentang hantu penglaris yang ia injak buntutnya sepanjang makan. Tentang truk bertuah yang didoakan. Yang membuat ia mengambil kesimpulan, ‘anak ini memang tidak bisa mengusir setan, tapi dia lucu.’  

 

Hingga 12 Februari 2025, terakhir kalinya gue bermain tapi-tapian sama Brud. Lewat seorang teman yang punya kebisaan mediasi, ia bicara panjang. Semua tapi-tapi gue dijawab. Hingga gue kehabisan argumen. Percayalah Tuhan akan selalu menjagamu, pungkasnya. Bahwa kini gue harus percaya diri mengandalkan doa gue sendiri. 

 

Tepat dua minggu kemudian Brud meninggal. Orang yang paling tidak tegaan melihat orang lain kesakitan dan kesusahan, telah menahan sakit luar biasa selama ini hingga fisiknya menyerah. Kini, dengan doa yang nggak seberapa itu gue gantian mendoakan Brud untuk pensiun abadinya di surga. Fisiknya tak lagi digerus manusia ngeyel atau setan usil. 

 

Tidak ada lagi yang membalas tapi-tapian gue. Atau meladeni ke-ngeng-ngeng-an yang terjadi akibat doa-doa sombong gue.  Seperti pesan terakhirnya, gue harus percaya diri melanjutkan perjalanan doa gue, tanpa tapi.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *