The Science of Being Enough

“Jika diberikan mesin waktu untuk merevisi hidup, apa hal yang disesali yang mau diubah?”

“Apa yah? Kayaknya nggak ada deh,” jawab gue setelah memicing-micing seperti sedang berpikir.

“Hah, nggak ada sama sekali? Nggak ada yang disesali?”

“Hmm… nggak sih,” gue menjawab enteng. Meninggalkan lawan bicara menatap remeh pada gue yang terlihat kurang punya ambisi lagi cepat puas terhadap hidup yang biasa-biasa aja ini.

Tentu saja gue banyak penyesalan. Pandang saja deretan lelaki kardus yang judulnya REGRET semua itu. Namanya juga anak muda. Banyak hal yang gue lakukan tanpa pertimbangan yang berbuntut kesia-siaan waktu. But one thing leads to another. Dan bahwa tanpa sederet sebab akibat yang naas itu, tidak ada gue yang sekarang, dengan segala kekurangannya.

Buku The Midnight Library karya Matt Haig mengisahkan hal ini dengan indah. Nora Seed punya segudang penyesalan. Bagaimana kalau ia tekun berlatih renang lalu jadi juara Olimpiade? Atau bagaimana kalau ia menikahi mantan terindah itu? Dan segudang what ifs lainnya.

Tetapi mengubah satu jalur hidup adalah mengubah keseluruhan cabang hidup selanjutnya. Masing-masing, dengan penyesalannya sendiri-sendiri, bisa lebih besar bisa lebih kecil. Dan pada akhirnya, tetap hidup yang biasa-biasa ini saja yang paling masuk akal.

Itu kan karena idup loe baik-baik aja Gy, punya segalanya, coba kalau nggak, tentu masih banyak yang diinginkan, demikian teman kembali berkomentar.

“Oh tentu tidak!” Gue menjawab tegas. Segalanya adalah sebuah konsep yang tidak akan pernah tercapai. Demikian keinginan adalah sebuah dahaga yang tidak pernah terpuaskan. Tantangannya adalah berkata cukup, sesuatu yang gue kuasai, justru di saat kehilangan segalanya.

Gue pernah berpikir gue butuh banyak hal untuk hidup. Nggak jelek sih dampaknya. Itu membuat gue cukup rajin berupaya sekaligus jaga benteng mempertahankan kepemilikan beberapa hal dan status.

Then sh*t happens. Gue sudah membagikan ceritanya berjuta-juta kali. Uang, gengsi, bahkan hampir hidup itu sendiri. Gue pikir gue bakal mati dengan kehilangan semua materi dan kebanggaan itu. Tapi ternyata enggak tuh. Gue tetap hidup.

Apparently, we don’t need much to live. Daging sapi grade-grade-an itu ya enak, tapi nasi goreng warteg ya bikin kenyang juga. Makan juga paling banter bisa tiga kali sehari. Setelah itu, semewvah apapun sudah kurang ketelen.

Punya rumah gedong 4 lantai dengan lapangan sepak bola pribadi tentu nyaman, tetapi di kamar studio toh gue tidur pules juga. Naik mobil Tamiya tentu bergaya, tapi si mobil manual tetap sukses membawa gue ke Tasik.

Sebuah konsep yang kembali diuji ketika gue memasuki usia 36 tahun. Saat itu gue bermimpi seorang Bruder yang mempunyai kemampuan khusus bicara bahwa gue mungkin hanya sampai usia 36 tahun ini. Hawatir nasib naas, gue menjalani usia 36 tahun itu mempercayai bahwa hal ini bisa saja terjadi.

Gue mulai membuat rekap hal-hal yang jadi tujuan hidup. Ada begitu banyak cita-cita, mimpi, asa yang belum tercapai. Dan jika jangka waktu proyeknya cuma 1 tahun, tentu tetap tidak akan kesampaian.

Supaya lebih realistis, Gue lalu menyederhakanan KPI untuk jangka waktu singkat. Memastikan perusahaan dan hidup keluarga berkelanjutan, menyelesaikan satu karya buku, dan beberapa destinasi impian. Nyatanya, bahkan di akhir November banyak yang masih belum terlaksana.

Namun seiring waktu, semakin terasa tidak signifikan juga target-target itu. So what jika bukunya nggak keburu terbit? Gue sudah tertawa terbahak-bahak mendengar kisah teman-temanku saat menjalankan metode riset berbasis ghibah.

So what jika perusahaannya tetap akan berjalan tertatih-tatih secara boot-strap? Dia sudah jadi rumah bagi banyak orang yang gue anggap keluarga. So what jika belum kesampaian lihat ini itu? Rumah dan keluarga gue juga seru kayak piknik! Seperti kata Bruder dalam mimpi: Yah hidup lama-lama juga buat apa, Gy? Iya ya, selama-lamanya juga tidak pernah merasa cukup.

Satu buku The Pychology of Money menjabarkan bukan tentang bagaimana mengumpulkan pundi-pundi sebanyak-banyaknya sehingga berakhir tajir melintir, melainkan tentang bagaimana caranya menetapkan sebuah kata cukup.

Setiap orang punya target yang berbeda-beda dalam hidupnya, tetapi sampai bisa menentukan apa yang dianggap memuaskan dan tidak merevisinya, seseorang tidak akan bisa merasa ‘kaya’. Dan seseorang hanya bisa terjebak kehilangan segalanya, jika sempat punya segalanya itu, namun tidak merasa cukup, hingga memupuk ketamakan.

Suatu kali gue ikut-ikutan bergaya mistis, sok-sok mengintip past life. Konon, rupa kita hari ini, mirip dengan rupa kita di kehidupan yang lampau. “Tapi eloe beda, Gy, eloe dulu mah cantik banget,” ujar sang pembaca.

“Then what went wrong?” gue bertanya.

“Lah dulu itu loe yang minta. Loe bilang di kehidupan selanjutnya, loe minta dilahirkan sebagai orang yang biasa aja, biar loe tahu kalau ada orang yang suka sama loe, itu karena hati dan pikiran loe!”

Tentu setelah itu gue merasa marah pada diri sendiri. Apa-apa tuh kalau doa mbok ya dipikir dulu… Kalau gue nggak minta hal-hal aneh itu kan gue bakal jadi.. jadi.. jadi.. jadi apa  ya? Sesaat gue menyadari bahwa gue telah memilliki segala hal yang menjadi prioritas dalam hidup yang kali ini. Gue tetap punya ambisi kanan kiri, tetapi gue tahu apa yang penting, meski definisi penting bisa berbeda antara gue dan orang lain.

Dan tidak ada satu hal pun yang gue miliki hari ini, yang ingin gue barter dengan harta berlebih atau rupa yang lebih enak dilihat. Sahabat, keluarga, cinta, sebuah rasa damai karena jaminan ketulusan, dalam sebuah kehidupan yang tidak mentok dalam hal-hal lain. And with that, I think I have finally mastered, the ability to pronounce ‘enough’.

2 thoughts on “The Science of Being Enough”

  1. Hidayani says:

    Aaaa baca ini bikin aku merenung seketika, di mana aku yang kurang mengapresiasi diri dan kadang suka membandingkan diri dengan orang lain. Terimakasih sudah berbagi pengalaman yang ditulis dengan kata2 yang renyah untuk disantap kak Margiee

    1. margareta astaman says:

      most welcome! trimakasih sudah baca dan sharing juga.. we rock, as we are.. YEAY!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *