Midnight in Paris : A first World City that isn’t Really No.1

Namanya juga baru dari Paris, jelas harus nonton film yang berbau Paris dong, biar makin terkenang-kenang menelusuri Champ-Elysees dan foto bareng menara Eiffel lagi. Wajar saja gue langsung memilih film ‘Midnight in Paris’ garapan Woody Allen sebagai salah satu peneman perjalanan 12 jam, saat gue menyadari kenyataan pahit : gue kini kebal Antimo…

Sesaat setelah film diputar gue langsung ber-ooh dan ber-ahh menikmati sinematografi manis yang membalut kisah seorang penulis yang ingin tinggal di Paris karena terkenang masa jaya seni era Picasso dan Dali di awal abad ke-20 ini.

Keajaiban yang terjadi setiap Paris memasuki tengah malam, saat ia terlempar sungguh ke abad impian, menjalin cinta dengan Adriana, kekasih Hemmingway, digambarkan dengan latar jalan-jalan dan bangunan kuno khas Paris, Montmarne, dan kafe-kafe mungil pinggir jalan yang selalu punya croissant enak.

Umur itu Relatif

I swear this kind of things only happen to me.

Saat gue mengetahui bahwa rancangan meng-‘umroh’-kan orang tua ke Eropa adalah sama dengan rencana seorang kenalan, whom I shared living quarter before, berbulan madu, gue tidak punya perasaan jelek sama sekali.

Bahkan meski ada peristiwa ganjil saat beliau menyatakan bahwa yang ia rasakan pada gue sungguhlah cinta, lewat messenger-setelah bertahun-tahun tak terdengar kabar- dua minggu sebelum pernikahannya, gue tetap positif.

Hepatitis Membawa Berkah

Semua berawal dari hepatitis A…

Dan kalimat awalan sebuah cerita di www.aksisemangat.com itu berhasil membuat gue tertawa terbahak-bahak. Kalau ada yang berani mengaku punya kedekatan khusus pada penyakit hepatitis, gue-lah orangnya. Betapa tidak, kalau banyak orang diingatkan untuk tidak kena hepatitis sampai dua kali, gue sudah merasakan penyakit itu selama empat kali.

Seproduktif Ibu 15 Anak

Ibu selalu bilang kalau gue seperti hidup dengan tanggungan 15 anak.

Ada masanya gue menjalani tiga pekerjaan sekaligus. Yang pertama adalah pekerjaan tetap, sistem kerja pagi hingga sore, di sebuah perusahaan multinasional. Yang kedua adalah menulis buku, ditargetkan satu setiap bulan sebelum istirahat sedikit demi mengatur layout, editing dan cover. Yang ketiga adalah menjadi seorang penulis lepas atau sekadar memberi arahan editorial secara anonim.

Listen

“Mau pergi ke mana?”

“Ke pasar, beli pupuk.”

“Beli krupuk terus, yang kemarin aja masih belum digoreng, masa udah mau beli krupuk lagi?”

“PUPUK bukan KRUPUK!”

Broken Chain

She used to joke, that one day we should break the chain.

It was probably my closest and longest friendship. We lived nearby. We went to the same elementary school, the same junior high school, the same senior high school. All three different schools. We were teammate for badminton games. We joined the same theatre group. We chose the same foreign language class and we sat together in class. She accompanied me in my dates, in my first public bus experience.

Pindah gak, loe!

Terjadi kelangkaan Bacang jelang Ceng Beng tahun ini. Para tukang bacang biasanya suka memanfaatkan berbagai perayaan ke-cina-cina-an untuk berdagang makanan yang terdengar Cina, namun ketika dihubungi, mereka menolak membuat bacang kecuali harga dinaikkan dua kali lipat atau isinya diganti ayam.

Hal ini disebabkan langkanya daging babi di pasar-pasar tradisional, setelah FPI seringkali melakukan razia babi. FPI telah mengancam, menyegel toko babi hingga menyita paksa barang dagangan (babi), sehingga  menimbulkan rasa takut di kalangan pedagang babi. Akibatnya, para pedagang bacang harus membeli daging babi di supermarket yang harganya lebih mahal.

When Motherhood (hasn’t) Called

Raumanen tersenyum haru melihat bayi perempuannya.  Matanya berbinar-binar cerdas. Dibalut baju serba pink, bayi itu mulai mengucap-ucap, ma..ma..ma…ma… Raumanen dengan bangga memamerkan putri kecilnya pada semua orang. “Say something,” ujarnya, agar si anak mulai mengeluarkan gumaman-gumaman ala bayi.

 

Sekelilingnya tersenyum melihat bayi cantik itu. Entah berapa lama waktu berlalu. Tiba-tiba Raumanen panik, Tangannya pegal dan mulai bosan. Bayi yang terlihat rapuh itu menggeliat-geliat, sejuta hal bisa terjadi padanya, dan ia terperangkap dengannya! MAMIIIII MANAAAA…. Ia tiba-tiba menangis seperti bayinya.

Pura-pura toleran

“Mbak, Markus Horison itu Islam apa Kristen, sih?” supir taksi memecah lamunan gue yang sudah berlayar ke pulau impian, saat memasuki gerbang Ancol untuk pergi tahun baruan di Pulau Kaliage.

“Hah? Kayaknya Islam, deh, Pak, kan suaminya Kiki Amalia, Kiki-nya Islam,” gue menjawab asal.

“Iya, saya juga pikir begitu, tapi kemarin anak saya yang umur tujuh tahun nanyain, papa, kok namanya kayak yang di alkitab, saya jadi bingung, saya jawab aja, ini Markus-nya lain, bukan yang di alkitab, tapi yang di Al-Quran.”

“Emang di Al-Quran ada Markus?”

The Battle of the Call Center

Seorang teman duduk di pojok dekat tangga darurat sambil menggenggam handphone. Ia nampak berbicara serius. Tiba-tiba suaranya meninggi, INI KAN JUGA BUKAN SALAHKU! Wajahnya merah padam. Sang teman masih terus dengan tegang mendengarkan lawan bicara. Setelah beberapa saat, ia mulai menangis.

 

Usai menelepon gue menghampiri penuh hasrat bergosip, “telepon siapa sih?”
“Customer Service.”

“Ohhh..pantes…” gue mengangguk-angguk penuh simpati.Bicara dengan customer servicememang bisa menguras emosi semacam bicara dengan pacar yang selingkuh.