Bunderan maut, pk.21.00
Seorang polisi berdiri menghadang di depan mobil. Gue menghela napas panjang. Sekilas gue mengecek sabuk pengaman, jalur titik-titik di jalan dan lampu sen. Entah pasal berapa yang dikenakan malam ini.
“Berdasarkan pasal sekian ayat sekian, UU Lalu Lintas, lampu mobil harus dinyalakan waktu malam,” sang polisi memberi tahu begitu gue meminggirkan mobil.
“Nyala kok, pak! Lihat aja tuh, disini nyala!” gue menunjukkan speedometer yang menyala merah terang.
“Turun dulu deh, lihat di luar itu nggak nyala,” si Polisi maksa.
Apa lampu mobil gue mati? Jantung berdetak kencang, membayangkan 50ribu melayang terbang. “Nyala kok, Pak! Tuuu lihat, Bapak aja kali silau, lampu dari Grand Indo emang terang, Pak, jadinya lampu-lampu lain terlihat ga nyala!” gue berteriak nyaris kegirangan.
“Tadi nggak nyala, kamu baru nyalain kan?” Pak Polisi menuduh.
“Engga, pak, sumpah! Kalau saya baru nyalain, harusnya tadi kan lampu di dashboard ga nyala, tapi kan bapak liat sendiri, nyala. Kalau lampu saya mati sebelah, berarti pas saya turun tetep mati, tapi bapak kan liat sendiri, nyala!” gue beralibi.
“Bapak kamu siapa?” suara pak polisi melunak. Aha!
“Emangnya kenapa bapak nanya2 ayah saya?” Gue bersikap tengil ala anak jendral.
“Ya bapak kamu jabatannya apa?”
“Ada lah, pak.” Gue tersenyum seolah menyimpan rahasia.
“Ya sudah lain kali nyalakan lampu besar sekaligus.” Pak Polisi membiarkan gue pergi