“Tipe cowok loe yang kayak apa sih, Gy?” Seorang teman lelaki membuka pembicaran suatu sore.
“Apa aja deh, asal nggak minder,” jawab gue cepat, sambil meneliti beberapa proposal.
“Maksudnya?”
“Maksudnya!” Gue menatap lurus, nantangi.
“Ohh! Ngerti-ngerti, ya abis loe terlalu mandiri sih Gy, cowo-cowo jadi pada takut! Kurang-kurangin lah, bisnis loe, ngejer karir, nggak usah terlalu sukses lah!” ujarnya sok bijak.
“Eh loe nyuruh gue nggak kerja, terus siapa yang mau ngasi gue makan? Beliin gue tas? Nganterin gue jalan-jalan? ELOE?” gue menjawab sewot sambil kembali menekuni proposal di tangan.
Dia nggak tau aja, I’ve been pretending dumb and unsuccessful since junior high school. Sejak cinta gue ditolak seorang pria karena rapor gue yang rata-rata nilainya 9. “Ketinggian,” begitu komentarnya.
