Pura-Pura Bego

“Tipe cowok loe yang kayak apa sih, Gy?” Seorang teman lelaki membuka pembicaran suatu sore.

“Apa aja deh, asal nggak minder,” jawab gue cepat, sambil meneliti beberapa proposal.

“Maksudnya?”

“Maksudnya!” Gue menatap lurus, nantangi.

“Ohh! Ngerti-ngerti, ya abis loe terlalu mandiri sih Gy, cowo-cowo jadi pada takut! Kurang-kurangin lah, bisnis loe, ngejer karir, nggak usah terlalu sukses lah!” ujarnya sok bijak.

“Eh loe nyuruh gue nggak kerja, terus siapa yang mau ngasi gue makan? Beliin gue tas? Nganterin gue jalan-jalan? ELOE?” gue menjawab sewot sambil kembali menekuni proposal di tangan.

 

Dia nggak tau aja,  I’ve been pretending dumb and unsuccessful since junior high school. Sejak cinta gue ditolak seorang pria karena rapor gue yang rata-rata nilainya 9. “Ketinggian,” begitu komentarnya.

Impulsif!

“Kenapa beli mobil sih, Mar?” seorang teman bertanya heran ketika melihat pembelian impulsif gue.

“Mau jawaban yang pendek apa panjang?”

“Pendek aja.”
“Ya udah, gue suka mobilnya,” jawab gue pendek.

“Hah?”

 

Ini highlight akhir tahun gue. Maklum. Mobil itu gue beli di akhir tahun. THR juga belum turun. Di tengah bulan-bulan nanggung itu siapa yang kepikiran beli mobil baru. Apalagi gue juga bukan orang kaya yang bingung cara menghabiskan uang.

 

Tidak ada yang salah juga dengan UGE, si mobil lama. Biarpun umurnya sudah 5 tahun, kilometernya belum mencapai 50.000. UGE memang jarang dipakai ke luar kota. Lagipula, keperluan menyetir gue cuma sekadar apartemen-kantor yang sejarak satu halte busway saja.

 

Kalau ditanya alasan sebenarnya, adalah karena suatu hari gue datang ke sebuah acara. Ketika melihat acara tersebut, gue berpikir, daripada gue mengeluarkan uang untuk membuat acara yang sedemikian, mendingan duitnya buat beli mobil baru.

Padang-Venture

I was cursed.

 

Dalam sebuah dialog antar umat beragama, gue bertemu dengan seorang pemuda Minang beragama Islam. Dalam kesempatan itu, gue mengemukakan keyakinan bahwa orang dengan agama dan suku yang berbeda dapat hidup berdampingan.

 

Keyakinan gue kemudian diuji ketika pemuda tersebut menawarkan untuk menjalankan hubungan pacaran. Ia berhasil membalikkan semua kata-kata gue. Karena gue tidak menemukan alasan untuk menolak, maka ya sudah gue terima saja.

 

Sepanjang yang gue ingat, pemuda ini tampan, tinggi, anak orang kaya, pintar dan anak basket. Lagipula gue tidak mungkin menelan kata-kata gue sendiri bahwa pluralisme akan memperindah hidup blah-blah.

A Sweet and Tinder Love

Setelah dua tahun menjomblo, seorang rekan kantor berhasil mendapatkan pacar dalam waktu dua hari saja. Rahasianya? Sebuah aplikasi dating bernama Tinder.

 

Gegap gempita langsung melanda kantor. Mbak Mi yang telah menjadi social media manager rekan kantor yang bersangkutan sibuk memberi kesaksian pujian tentang efektivitas Tinder dan online dating dalam mengakhiri kesendirian.

The Most Beautiful Country on Earth through Kupang

“Wuihhh Sunset!!!!” Gue menjerit sambil melompat dari gazebo tempat gue duduk-duduk cantik di tepi pantai Kupang. Buru-buru mengambil kamera, mengabadikan pemandangan yang konon adalah salah satu yang terindah di Indonesia.

 

sunset, kupang
Sore-sore menanti matahari terbenam di Kupang

Bapak dan Ibu guru yang mengantar siang itu hanya mencibir kecil melihat kelakuan gue yang pecicilan. Biarin, dalam hati gue berbisik, gue kan emang dari Jakarta, kota yang sunsetnya kelabu ketutupan asap dan debu, boleh dong gue norak.

 

“Minggu lalu saya diajak ke Bali juga ngeliat beginian,” Bapak Guru memulai ceritanya.

“Ahhh.. kayaknya nggak sebagus ini deh Pak,” gue membela kenorakan gue.

“Iya, memang,” jawabnya datar.

 

Lalu mengalirlah cerita perjalanan Bapak Guru di Bali. Di sore yang terik ia dibawa ke Tanah Lot, lihat sunset katanya.  Setelah menunggu di bawah panas berjam-jam, akhirnya datang juga sunset itu. Dan reaksinya adalah, “yah, yang kayak begini mah di Kupang juga ada setiap hari, lebih bagus pula!”

Cowok Pepetan

“Jadi, harusnya dipepet atau enggak nih?”

“PEPET LAHH!! Udah umur berapa inii? Mau sampe kapan lagi loe nunggu terus diserobot orang! Jemput ke kantor! Santronin rumahnya tiap hari! SANTET semua saingan!”

“Ya elah siiisss…. Susah-susah amat, klo mau cepet kawin mah, loe pindah agama aja, pake atribut agamanya, terus pindah ke daerah X, pasti ada yang kasian trus mau ngawinin eloe!”

“Ya nggak se-desperate itu juga kali Gy, masa asal dapet doang?”

“YA ITU DIA MAKSUD GUEEE! LOE MAU ASAL KAWIN AJA??”

The Long Awaited Story about… Aceh

Margie berjilbab.

 

Margie: mulut sampah, senonoh, celana pendek, tank-top. Berjilbab: Santun, tertutup, bahan panjang. Dua kata yang mengandung signifikansi berlawanan. Yang ketika digabungkan menjadi sama absurdnya dengan 100 persen kehadiran anggota DPR.

 

Maka Margie ke Aceh, menjadi sebuah konsep yang sama absurdnya. Kata orang, kalau ke Aceh itu harus pakai jilbab, soalnya ada hukum syariah Islam, kalau nggak pake bisa dicambuk, atau dirajam pakai batu.

 

Sedangkan Margie, tidak pernah punya baju tertutup seumur hidupnya. Dari bocah selalu milih celana pendek sama kutang. Dipakein rok panjang sedikit langsung nangis. Gimana caranya Margie bisa ke Aceh?

Negara Santun Lagi Kaya

“Mamih seneng deh di Jepang sini. Mamih nyerobot antrian nggak ada yang marah. Mamih nggak sengaja dorong nenek-nenek sampe jatoh, neneknya malah minta maaf. Mamih kentutin diem aja…”

“HHhhh mamih! Jangan ngelunjak atuuhh!!”

Petualangan Mamih di Negeri Doremon


 I’m 28-year-old and I travel with parents.

 

Gue sering menerima pandangan heran saat turis Margie, terlalu tua sebagai anak sekolahan, check in di kamar tripple room bersama sepasang kakek-nenek berusia 60an saat di Jepang kemarin. Bepergian dengan orang tua, sepertinya lebih diwajarkan sampai usia SMA saja.

 

Sebagian besar perempuan di usia gue memang sedang sibuk merencanakan liburan bersama suami atau honeymoon. Sebagian lagi yang pecinta kebebasan akan backpacking sendirian atau bersama sekelompok teman. Sebagian bahkan mungkin sedang sibuk menulis tentang tips bepergian dengan anak.

 

Tentu saja kalau ada kesempatannya gue lebih memilih menulis pengalaman yang sedemikian. Tapi bagi gue, berwisata bersama kedua orang tua gue semacam perjalanan mencari jati diri.

[ADVERTORIAL] Pil Move On, Produknya Amanah, Bisnisnya Berkah!

“Obat?” Tanya Paranormal, ketika gue mengeluarkan satu paket obat di meja. Gue sedang berada dalam satu mediasi gaib yang diadakan dalam bulan santet nasional kemarin, ketika tiba-tiba gue teringat belum minum jamu yang diberikan seorang Pastor.
“Jamu,” gue menjawab pendek.
“Biar lupa,” komentarnya.
“Hah? Apa? Ini jamu anti santet kok,” Gue membalas, mengulangi kata Pastor.
“Iya. Lupa sama masa lalu. Fokus sama masa depan. Nggak ganggu yang kemarin. Iklhas. Jadi nggak bakal disantet lagi,” jawabnya.
“Hah? Gimana?!”