When The Time Comes

Ada masanya gue menjadi, yang disebut sebagai ‘peminta sumbangan’. Yaitu mereka yang datang pada berbagai pihak, tanpa kenal, tanpa sungkan, menawarkan sebuah proposisi yang sebenarnya tidak menguntungkan pihak lain tersebut, namun berharap mendapatkan sesuatu, berharap pihak tersebut akan merasa kasihan.

 

Orang bilang roda kehidupan berputar. Tapi gue pernah meragukan hal itu. Dari masa SMP hingga kuliah, salah satu tugas gue selalu, dan selalu.. adalah mencari dana. Mulai dari buku tahunan, pentas seni, hingga untuk sekadar mendapatkan poin agar bisa tinggal di asrama kampus.

Santet Milenia

Ini abad 21. Tahun 2014. Penanggalan Kuda. Dan gue disantet.

 

Lucu? Ya. Gue awalnya juga menganggap demikian. Sampai gue dibuat nggak bisa bangun dari tempat tidur. Muntah darah. Jatuh di jalanan. Dan semua menjadi tidak lucu sama sekali.

 

Dalam waktu satu bulan gue bergelut dengan sakit naik turun yang tak jelas sebabnya, ngamuk-nabok-nonjok kayak setan, diagnosa medis yang nggak pernah sama, keluar besi jarum dari dalam tubuh, ritual pengusiran setan, mandi garem, nenggak air suci. Jauh dari dunia digital dan teknologi.

How to Train a ‘Dragon’

Apa yang harus saya lakukan? Saya telah melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya dengan pacar saya. Awalnya saya tidak mau, tetapi ia terus membujuk dan meyakinkan saya. Akhirnya karena ia menunjukkan perilaku baik, sayapun setuju. Namun setelah itu, ia menjadi berubah. Ia bilang ia tidak lagi menyukai saya seperti dulu. Saya khawatir, saya telah kehilangan keperawanan saya. Apakah yang harus saya lakukan?

Demikian sebuah pertanyaan seorang remaja berusia 16 tahun dalam situs Tanya jawab yang sekarang lagi ngetop di kalangan remaja ibukota. Gue, sedang menguliknya bersama seorang rekan kerja, biar updated terhadap perkembangan teknologi gitu…

The Real Economic Power is…

“Mau ngapain loe ke sana? Makan orang?”

Demikian reaksi teman-teman sekitar ketika mendengar destinasi terbaru gue: Sintang, Kalimantan Barat. Teman-teman gue, anak-anak kota Jakarta yang jarang ke luar kota apalagi ke luar negeri itu memang hanya mengandalkan stereotip dalam berwacana.

“Yee… loe jangan pada nyela! Loe uda pernah liat duit 1 Triliun belom!” Gue membalas.
“Ya kagak, lah broo…1 M aja belom”
“Asal loe tau ye, koperasi simpan pinjam yang mau gue datengin itu asetnya 1 T!”
“Wuee.. busedd bro… prusahaan kita aja asetnya blom sampe segitu!”
“Iye, udah deh gaya-gayaannya! Kita menang keren doang kerja di kota, duitnya kagak ada!” demikian gue memungkas, sambil kemudian kami mulai memikirkan hakikat kami kerja keren-kerenan itu.

Jangan Marah kalau Dibudakin Asing!

“Aku pikir Balikpapan tuh kebanyakan kayak gini,” komentar Idako, ketika melewati sebuah kampung terapung di muara Sungai Hitam, sesaat setelah melewati rimbunan hutan hujan tropis di tepi sungai dengan populasi buaya yang cukup padat.

 

Gue merespon dengan tatapan prihatin, dasar anak kota!

 

“Loh gimana, ini kan pertama kali ke Balikpapan!” Idako membela diri. Gue mencibir sekali lagi, makanya banyak jalan-jalan. dong!” Lalu menatap ke depan semacam petualang sejati. Padahal, sebenarnya gue punya pemikiran yang sama, ketika pertama kali ke Balikpapan.

 

Don’t blame us. Pengenalan kami akan Balikpapan hanya lewat teman-teman kami, anak Pertamina. Maksudnya, anak-anak yang orang tuanya kerja di sektor minyak. Sebagian besar dari mereka harus menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota minyak Balikpapan, atau kota satelitnya, Bontang.

Can a Woman Stand a One-Night-Stand?

“It was just for fun.” Demikian cetus Ibu Peri, suatu hari tanpa hujan dan mendung, bertekad menghabiskan satu akhir pekan yang random bersama pria yang baru dikenalnya. Yeah, right, demikian kami menanggapi hari itu.

Sebenarnya, bukan kopdar yang ‘fishy’ itu yang membuat kami nyinyir. After all, ini kota Jakarta, kota metropolis yang termakan westernisasi. Gue sering mendengar ‘Liburan bareng’ lawan jenis sebagai cerita akhir pekan yang wajar. Dari yang gue lihat, 3 dari 5 pasangan yang gue kenal kini tinggal bareng.

Jamak, dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Toh, perempuan punya kebutuhan yang sama dengan laki-laki. Dan nggak ada yang kaget kalau ada lelaki yang langganan Alexis. Apa bedanya kalau sekarang perempuanlah yang perlu melampiaskan kebutuhan biologis?

Banjir Manado Vs Banjir Jakarta

“Ngana tahu, kita ni satu-satunya kota di Indonesia, kena banjir bandang tapi nggak buka dompet bencana alam,” begitu si tante dengan bangga, sesaat ketika gue mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado.

Sebagai seseorang yang dalam satu situs tes kepribadian dinilai empatinya sudah mati, hal pertama yang gue sadari ketika berita banjir bandang di Manado disiarkan adalah langsung munculnya berbagai iklan penerbangan banting harga perjalanan ke Manado.

Google Ads terus menerus bersinar-sinar mempromosikan dengan gencar rute yang di hari-hari normal TIDAK AKAN PERNAH didiskon. Membuat tangan impulsive gue bergerak dan menyatakan ‘Ya! Gue pergi ke Manado!’ saat itu juga.

Stalking Indonesia is Heeereee….

Seorang bekas rekan kerja pernah mencerca gue sebagai seorang stalker. Ah, tentu meskipun benar, gue merasa sedih bukan kepalang. Bagaimana tidak, stalker itu kan hina banget ya… Itu adalah julukan bagi mereka yang suka memusingkan hal-hal yang nggak penting, membuntuti sesuatu dengan penuh obsesif yang mengindikasikan kurangn

ya pekerjaan orang tersebut.

 

Kesedihan itu membuat gue mengurung diri di kamar dan merasa kian rendah hati. Guna membesarkan hati, gue berusaha menggunakan celaan ini sebagai kritik yang membangun. Gue merenung dan introspeksi diri guna melihat bagian mana yang membuat gue dicap stalker.

 

Dan gue menemukan… gue memang stalker..

The Rise of China

“Asyikkk… kalau kayak begini kan kita bisa belanja,” demikian gue berkomentar, dengan mata berbinar-binar, melahap barang-barang di salah satu toko oleh-oleh di Venezia.

 

Sebagai bagian dari rangkaian tur ke Eropa kemarin, gue mengunjungi Italia yang resesi, persis setelah menyambangi Swiss yang super mahal. Tentu rasanya seperti orang miskin yang mendadak kaya, bukan karena mendapat uang tapi karena tiba-tiba uang yang dimiliki jadi sedikit lebih berarti.

 

“Iya, kayak gini dong, kita kan jadi bisa beli oleh-oleh,” si mamih menimpali, setelah memunguti topeng khas opera Venesia dengan harga sekitar Rp. 15,000,- saja.

Lesson from the Most Expensive Country

Ini kok tiap kali makan selalu sejuta, sih? Begitu si mamih protes, ketika melihat tagihan makan kali ini.

 

Sebenarnya ketika pertama kali berencana pergi berlibur ke Swiss, kami sudah mempersiapkan mental. Swiss konon merupakan salah satu negara termahal di Eropa. Sedangkan Zermatt dan St Moritz, adalah dua resor ski yang dianggap eksklusif di sana.

 

Ati-ati loe, di sana pokoknya ga ada yang harganya di bawah sejuta, demikian Oknum R memperingatkan saat itu. Dengan peringatan macam itu, tentu kami sekeluarga lebih berhati-hati membelanjakan uang.

 

Makan siang pertama kami sederhana, tidak dengan appetizer lalu dessert macamnya keluarga koruptor lagi jalan-jalan. Hanya rosti dengan susis menghabiskan uang senilai sejutaan. Ok, ini mahal, kami bersepakat, dan bertekad untuk tidak makan malam.