Negara Santun Lagi Kaya

“Mamih seneng deh di Jepang sini. Mamih nyerobot antrian nggak ada yang marah. Mamih nggak sengaja dorong nenek-nenek sampe jatoh, neneknya malah minta maaf. Mamih kentutin diem aja…”

“HHhhh mamih! Jangan ngelunjak atuuhh!!”

Petualangan Mamih di Negeri Doremon


 I’m 28-year-old and I travel with parents.

 

Gue sering menerima pandangan heran saat turis Margie, terlalu tua sebagai anak sekolahan, check in di kamar tripple room bersama sepasang kakek-nenek berusia 60an saat di Jepang kemarin. Bepergian dengan orang tua, sepertinya lebih diwajarkan sampai usia SMA saja.

 

Sebagian besar perempuan di usia gue memang sedang sibuk merencanakan liburan bersama suami atau honeymoon. Sebagian lagi yang pecinta kebebasan akan backpacking sendirian atau bersama sekelompok teman. Sebagian bahkan mungkin sedang sibuk menulis tentang tips bepergian dengan anak.

 

Tentu saja kalau ada kesempatannya gue lebih memilih menulis pengalaman yang sedemikian. Tapi bagi gue, berwisata bersama kedua orang tua gue semacam perjalanan mencari jati diri.

[ADVERTORIAL] Pil Move On, Produknya Amanah, Bisnisnya Berkah!

“Obat?” Tanya Paranormal, ketika gue mengeluarkan satu paket obat di meja. Gue sedang berada dalam satu mediasi gaib yang diadakan dalam bulan santet nasional kemarin, ketika tiba-tiba gue teringat belum minum jamu yang diberikan seorang Pastor.
“Jamu,” gue menjawab pendek.
“Biar lupa,” komentarnya.
“Hah? Apa? Ini jamu anti santet kok,” Gue membalas, mengulangi kata Pastor.
“Iya. Lupa sama masa lalu. Fokus sama masa depan. Nggak ganggu yang kemarin. Iklhas. Jadi nggak bakal disantet lagi,” jawabnya.
“Hah? Gimana?!”

When The Time Comes

Ada masanya gue menjadi, yang disebut sebagai ‘peminta sumbangan’. Yaitu mereka yang datang pada berbagai pihak, tanpa kenal, tanpa sungkan, menawarkan sebuah proposisi yang sebenarnya tidak menguntungkan pihak lain tersebut, namun berharap mendapatkan sesuatu, berharap pihak tersebut akan merasa kasihan.

 

Orang bilang roda kehidupan berputar. Tapi gue pernah meragukan hal itu. Dari masa SMP hingga kuliah, salah satu tugas gue selalu, dan selalu.. adalah mencari dana. Mulai dari buku tahunan, pentas seni, hingga untuk sekadar mendapatkan poin agar bisa tinggal di asrama kampus.

Santet Milenia

Ini abad 21. Tahun 2014. Penanggalan Kuda. Dan gue disantet.

 

Lucu? Ya. Gue awalnya juga menganggap demikian. Sampai gue dibuat nggak bisa bangun dari tempat tidur. Muntah darah. Jatuh di jalanan. Dan semua menjadi tidak lucu sama sekali.

 

Dalam waktu satu bulan gue bergelut dengan sakit naik turun yang tak jelas sebabnya, ngamuk-nabok-nonjok kayak setan, diagnosa medis yang nggak pernah sama, keluar besi jarum dari dalam tubuh, ritual pengusiran setan, mandi garem, nenggak air suci. Jauh dari dunia digital dan teknologi.

How to Train a ‘Dragon’

Apa yang harus saya lakukan? Saya telah melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya dengan pacar saya. Awalnya saya tidak mau, tetapi ia terus membujuk dan meyakinkan saya. Akhirnya karena ia menunjukkan perilaku baik, sayapun setuju. Namun setelah itu, ia menjadi berubah. Ia bilang ia tidak lagi menyukai saya seperti dulu. Saya khawatir, saya telah kehilangan keperawanan saya. Apakah yang harus saya lakukan?

Demikian sebuah pertanyaan seorang remaja berusia 16 tahun dalam situs Tanya jawab yang sekarang lagi ngetop di kalangan remaja ibukota. Gue, sedang menguliknya bersama seorang rekan kerja, biar updated terhadap perkembangan teknologi gitu…

The Real Economic Power is…

“Mau ngapain loe ke sana? Makan orang?”

Demikian reaksi teman-teman sekitar ketika mendengar destinasi terbaru gue: Sintang, Kalimantan Barat. Teman-teman gue, anak-anak kota Jakarta yang jarang ke luar kota apalagi ke luar negeri itu memang hanya mengandalkan stereotip dalam berwacana.

“Yee… loe jangan pada nyela! Loe uda pernah liat duit 1 Triliun belom!” Gue membalas.
“Ya kagak, lah broo…1 M aja belom”
“Asal loe tau ye, koperasi simpan pinjam yang mau gue datengin itu asetnya 1 T!”
“Wuee.. busedd bro… prusahaan kita aja asetnya blom sampe segitu!”
“Iye, udah deh gaya-gayaannya! Kita menang keren doang kerja di kota, duitnya kagak ada!” demikian gue memungkas, sambil kemudian kami mulai memikirkan hakikat kami kerja keren-kerenan itu.

Jangan Marah kalau Dibudakin Asing!

“Aku pikir Balikpapan tuh kebanyakan kayak gini,” komentar Idako, ketika melewati sebuah kampung terapung di muara Sungai Hitam, sesaat setelah melewati rimbunan hutan hujan tropis di tepi sungai dengan populasi buaya yang cukup padat.

 

Gue merespon dengan tatapan prihatin, dasar anak kota!

 

“Loh gimana, ini kan pertama kali ke Balikpapan!” Idako membela diri. Gue mencibir sekali lagi, makanya banyak jalan-jalan. dong!” Lalu menatap ke depan semacam petualang sejati. Padahal, sebenarnya gue punya pemikiran yang sama, ketika pertama kali ke Balikpapan.

 

Don’t blame us. Pengenalan kami akan Balikpapan hanya lewat teman-teman kami, anak Pertamina. Maksudnya, anak-anak yang orang tuanya kerja di sektor minyak. Sebagian besar dari mereka harus menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota minyak Balikpapan, atau kota satelitnya, Bontang.

Can a Woman Stand a One-Night-Stand?

“It was just for fun.” Demikian cetus Ibu Peri, suatu hari tanpa hujan dan mendung, bertekad menghabiskan satu akhir pekan yang random bersama pria yang baru dikenalnya. Yeah, right, demikian kami menanggapi hari itu.

Sebenarnya, bukan kopdar yang ‘fishy’ itu yang membuat kami nyinyir. After all, ini kota Jakarta, kota metropolis yang termakan westernisasi. Gue sering mendengar ‘Liburan bareng’ lawan jenis sebagai cerita akhir pekan yang wajar. Dari yang gue lihat, 3 dari 5 pasangan yang gue kenal kini tinggal bareng.

Jamak, dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Toh, perempuan punya kebutuhan yang sama dengan laki-laki. Dan nggak ada yang kaget kalau ada lelaki yang langganan Alexis. Apa bedanya kalau sekarang perempuanlah yang perlu melampiaskan kebutuhan biologis?

Banjir Manado Vs Banjir Jakarta

“Ngana tahu, kita ni satu-satunya kota di Indonesia, kena banjir bandang tapi nggak buka dompet bencana alam,” begitu si tante dengan bangga, sesaat ketika gue mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado.

Sebagai seseorang yang dalam satu situs tes kepribadian dinilai empatinya sudah mati, hal pertama yang gue sadari ketika berita banjir bandang di Manado disiarkan adalah langsung munculnya berbagai iklan penerbangan banting harga perjalanan ke Manado.

Google Ads terus menerus bersinar-sinar mempromosikan dengan gencar rute yang di hari-hari normal TIDAK AKAN PERNAH didiskon. Membuat tangan impulsive gue bergerak dan menyatakan ‘Ya! Gue pergi ke Manado!’ saat itu juga.