Si Pelit Nonton Konser

Face it. Gue Cina. Gemar berhitung dan menabung. Gue sering bertanya-tanya apakah jika gue dilahirkan sebagai manusia dari ras lain gue tidak akan menjadi pelit. Gue tak tahu jawabannya, gue rasa gue memang perhitungan dari bayi, tak peduli dari suku mana gue berasal.

 

Ketika mengeluarkan uang (kecuali untuk baju dan alkohol) gue gemar bertanya dalam hati, sungguhkah gue memerlukan hal ini? Lalu, akankah jumlah uang yang dikeluarkan sebanding dengan kepuasan yang didapatkan? Dan yang terakhir, dapatkah gue mendapatkan kepuasan yang sama dengan harga lebih murah atau lebih baik lagi, gretong?

mobilku DICAT sama HANSIP

Gue sangat menyayangi kekasih gue yang baru.  Yang setia menemani kemanapun gue pergi. Yang siap menyediakan sandaran saat stress melanda di ranah Jakarta. Keluarga gue juga sangat bahagia dengan kehadirannya di tengah kami. Kata mereka, dia sangat tampan.

Confession of a Shopaholic

Setelah menonton Confession of a Shopaholic weekend lalu, aku jadi resah gelisah. Bukan karena gue seorang shopaholic, (kalau itu sih ga mungkin, lah!), tapi karena menyadari betapa kritisnya seseorang dalam denial state itu.

Bayangin aja, masa sudah terbelit hutang belasan ribu dolar dan bisa berhalusinasi melihat mannequin bisa ngomong, masih bisa ngaku bukan shopaholic?! Itu kan hal yang jelas banget! Sayang sekali memang itulah sisi paling memprihatinkan dari kondisi in denial. Hal yang jelas keliatan terang-terang bisa terasa abu-abu netral. Makanya jadinya kronis, bagaimana bisa sembuh, menyadari penyakitnya aja gak mau.

Wartawan (lampu) merah

Mengikuti gosip santer Christian Sugiono-Titi Kamal beberapa minggu kemarin sebagai editor yang bergantung pada content provider ibarat menyimak siaran langsung pertandingan sepak bola lewat radio. Meletihkan. Menegangkan. MenJENGKELkan.

An hour from home, thousand years from heart

Geger. Seorang mahasiswa NTU bunuh diri setelah menikam profesornya sendiri. Tidak seperti di Indonesia dimana minimal terjadi 3 pembunuhan sehari, kisah ini akan menjadi berita utama di koran Singapura. Apalagi pelakunya orang Indonesia.

A Cruise for Two

Yang males baca, inilah rangkumannya….

Seumur hidup sejak diperkenalkan pada kapal kontainer di Tanjung Priok, impian Marella Cuma satu: naik kapal pesiar. Sayangnya, menjadi seorang creative illustrator dengan gaji 2 juta dan sifat suka hura-hura menjauhkan Marella dari kesempatan membeli tiket kapal pesiar.

Mendadak Chicklit

Tiba-tiba saja gue menulis Chicklit. Tiga hari sebelum Valentine, di saat kehidupan asmara gue begitu datarnya, justru seorang teman menceritakan drama asmaranya yang ganjil dan aneh. Komentar gue saat itu cuma satu, “Chicklit banget sih!”

Temen gue langsung protes, menurutnya kisahnya itu lebih cocok dikategorikan sebagai cerita horror daripada chicklit.

“Tapi aduhh..coba loe liat deh, kalau berakhir kayak gini yah, wahhh…soo sweeeetttt!” gue mengompori. Tentunya temen gue itu langsung melotot protes, “Enak aja akhirnya kayak gitu! Loe aja yang balik sama mantan pacar loe yang…*sensor…komentar rasis yang tidak pantas disebutkan di dalam blog*”

Ambisius!

“Jadi, apa rencana karier Anda dalam sepuluh tahun kedepan?”

Gue menarik nafas panjang. Dan sebanyak pertanyaan tersebut diajukan, sebanyak itulah jawaban gue berubah. Itu sebabnya gue membenci interview pekerjaan. Setiap sessionnya menyadarkan, betapa tidak terencananya hidup gue.

Mengejar Mas-Mas

Mereka bilang aku cewe matre. Seorang teman pernah mengobservasikan bahwa semua lelaki yang pernah dekat denganku berasal dari kalangan berpunya. Aku bilang, aku tidak sengaja. Kebetulan saja bahwa pria yang dekat denganku ternyata…tidak miskin. Tapi kalau begitu tanyanya, mengapa aku tidak pernah jalan dengan mas-mas? Aku jawab, kalau panggilannya saja udah mas-mas, aku tidak naksir padanya, at the first place…

Yogyakarta

It’s all started in one night. Malam itu dua hari sebelum tahun baru. Sorenya, gue baru saja minum teh di samping patung berisi roh jahat, di balik sebuah ruangan yang menyimpan replika Lara Jonggrang. Mungkin pengaruh ditatap si arwah perempuan penasaran setengah harian, atau kena sihir sang Lara Jonggrang, malam itu gue tidak bisa berhenti memikirkan kisah dua perempuan yang kurang beruntung itu.