Takut Miskin

Pernah mendengar penyakit ‘alergi udara’?

Gue pernah. Atau tepatnya, gue pernah mengalaminya sendiri. Sesaat setelah kembali ke Singapur dari liburan di Jakarta, sekujur tangan dan kaki gue gatal-gatal. Bentol kecil-kecil ini semakin parah ketika gue pergi ke kampus dan hilang saat baru bangun tidur.

Ngancem (Perang Mantan)

“Gy! Masa mantan gue uda punya cewe baru lagi! Gue disalip!”

“Oh ya? Kurang ajar! Loe keki dong?”

“Iya lah! Dia bilang dia sayang sama gue, dia bilang dia ga bisa ngelupain gue!”

“BAHH! Dasar cowok! Sok-sok sakit hati! Sok-sok ga bisa move on, tapi begitu ditinggal langsung tancep gas!”

“Bagus, gy! Loe bantu gue menjelek-jelekkan dia! “

“Jangan khawatir! Kalau urusan ngejelek-jelekkin orang, GUE AHLINYA!”

“Mana sekarang CENTILLL banget lagi! Pake foto-foto close-up semua! Pantesan gue di-delete dari facebooknya dia!”

“CARIII anaknya!”

“Awas dia brani ngelawan gue!”

“Beuuhh! Kalau dia brani nyolek eloe, kita colek bibirnya pake strikaan! Biar nyaho!”

Mengingat Indonesia

Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut?

Seekor Cicak di One Fifth Avenue

Ada cicak yang akan mati di rumah gue. Para cicak suka menjadikan kamar gue tempat peristirahatan terakhir. Dan tiga hari yang lalu, seekor cicak tua yang tak lagi lincah terseok-seok merayap masuk, lalu sembunyi di sudut dingin dalam kamar. Kadang di waktu malam, gue membiarkan cicak besar itu tidur dalam sendal bulu gue (ya…gue punya sendal bulu..)

Selamat Hari Jomblo!!!

Seorang teman mengumumkan ia sedang merayakan anniversary kejombloannya. Tepat hari itu, setahun lalu, ia resmi putus dari pacarnya.

“Ohh, gue dua taon, menurut loe?!” gue menanggapi pahit.

“Ini kan perayaan pertama gue!” teman gue bersikukuh.

“And then?!”

“Ternyata enjoy juga, hahahhaa!”

Beda sejak lahir, atau…lahir untuk berbeda?

Tokoh yang jadi topik pembicaraan sarapan pagi gue dan nyokap pagi ini berasal dari sebuah suku yang menurut stereotipe bersifat curang, pelit, licik dan bengkok. Nyokap menyebutnya sebagai pemuda yang cerdas, berpotensi maju dan pandai bergaul.

“Tapi curang,” gue berkomentar.

“Enggak selalu. Inget R kan? Papanya orang situ, tapi baik banget. Orang mah sama aja, mau darimana asalnya juga, kalau yang baik ya baik, yang jahat ya jahat, gak berdasarkan suku.” Nyokap gue menimpali.

What men want (to read)

Cowo itu suka baca apa sih?

Gara-gara sikap tamak gue yang gemar mengobyek, gue harus berkutat mencari jawaban atas pertanyaan di atas tersebut. Di tengah malam syahdu gue ditawarkan untuk menulis cerita bersambung, 13 episode dengan tema bebas. Gue bukan penulis fiksi, juga tidak bisa menulis fiksi, tapi mata gue langsung silau dengan gemerlap iming-iming uang tambahan.

The EF (baca: ep) Class

Kalau di Rumah sakit, namanya bangsal kelas tiga. Satu kamar dibagi sekat-sekat untuk 3-6 orang, harus patuh aturan jam besuk, dengan kunjungan dokter sangat minim. Obatnya standard generik, dengan perawatan sembuh sukur, enggak ya udah.

Si Pelit Nonton Konser

Face it. Gue Cina. Gemar berhitung dan menabung. Gue sering bertanya-tanya apakah jika gue dilahirkan sebagai manusia dari ras lain gue tidak akan menjadi pelit. Gue tak tahu jawabannya, gue rasa gue memang perhitungan dari bayi, tak peduli dari suku mana gue berasal.

 

Ketika mengeluarkan uang (kecuali untuk baju dan alkohol) gue gemar bertanya dalam hati, sungguhkah gue memerlukan hal ini? Lalu, akankah jumlah uang yang dikeluarkan sebanding dengan kepuasan yang didapatkan? Dan yang terakhir, dapatkah gue mendapatkan kepuasan yang sama dengan harga lebih murah atau lebih baik lagi, gretong?

mobilku DICAT sama HANSIP

Gue sangat menyayangi kekasih gue yang baru.  Yang setia menemani kemanapun gue pergi. Yang siap menyediakan sandaran saat stress melanda di ranah Jakarta. Keluarga gue juga sangat bahagia dengan kehadirannya di tengah kami. Kata mereka, dia sangat tampan.